Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Tuesday, December 10, 2019

3 Alasan Politis, Isu Khilafah Bombastis



Oleh: Hanif Kristianto
(Analis Politik di Pusat Kajian dan Analisis Data-PKAD)

  Perlahan semenjak gaung perang melawan radikalisme, isu Khilafah menjadi tertaut. Kondisi politik dalam negeri yang carut marut, coba disamakan dengan kondisi luar negeri. Semisal konflik di Suriah, Afghanistan, Irak, Yaman, Timur Tengah, dan Afrika. Tudingan yang sering dialamatkan bahwa kemunculan konflik itu karena isu agama yang mengispirasi tindakan radikalisme dan ekstrimisme. Khilafah yang merupakan ajaran Islam mulia, dikatikan dengan tingkah pola ISIS. Barat dan negara pengekor mudah menuding ISIS, daripada melihat lebih jernih fakta dan hakikat sebenarnya khilafah.

  Tak heran, isu internasional Khilafah berhasil dibungkus ke dalam negeri Indonesia. Alasannya pun sama, kemananan negara dari ancaman ketidakstabilan konflik bersaudara yang berkepanjangan. Ketidaksukaan pada isu Khilafah di Indonesia lebih pada sikap membebek kebijakan negeri-negeri muslim yang berada dalam naungan penjajah Barat. Alhasil, perang melawan Khilafah dengan bungkus radikalisme merupakan hasil copy paste untuk menghambat sementara keinginan umat kembali kepada Islam dan syariahnya.

  Periodesasi perang melawan khilafah di Indonesia sebenarnya sudah lama. Khilafah yang identik dengan negara Islam (daulah Islam) semenjak awal kemerdekaan berhasil dikooptasi. Hal itu diwariskan penjajah kepada politisi binaan untuk menghegemoni negara jajahan secara politik. Keinginan ulama dan pejuang Islam untuk menerapkan syariah dikangkangi oleh politisi sekular. Alhasil demi alasan persatuan, politisi muslim mengalah dan menerima alasan itu. Lambat laun, umat pun tenggelam dan terhapus memori dari upaya pengembalian khilafah Islamiyah. Wacana negara Islam di masa orde baru pun tenggelam dan dibungkam.

  Barulah di periode reformasi dan demokrasi liberal, gagasan kembali kepada Khilafah menemukan jalan baru. Walaupun isu khilafah kian menghentak, namun ini masih dianggap sebagai ancaman stadium rendah. Tak ayal, lontaran merendahkan dan menafikkan khilafah keluar dari ungkapan intelektual dan politisi demokrasi liberal. Seribu satu alasan dikemukanan untuk meredam isu kembali ke khilafah. Tatkala gaung dan opini kian membesar, mereka pun kepanasan dan ketakutan. Hal ini wajar tatkala dibumbui dengan penelitian dari lembaga think tank National Intelegence Council yang merilis akan kembalinya abad baru Khilafah pada tahun 2020. Banyak pula penelitian ilmiah dan jurnal dalam beragam bahasa membahas khilafah. Dari situ sangat jelas, orang Barat begitu yakin khilafah itu wujud kembali. Sementara, sebagian kalangan umat Islam malah meragukan, bahkan menjadikan bahan olok-olokan.

  Karena itu, perang melawan Khilafah yang dibungkus dengan bumbu radikalisme saat ini dapat diamati dari tiga sisi politis. Alhasil, isu khilafah kian bombastis. Seperti iklan dan promosi gratis, meski pro dan kontra narasi dalam perang opini tak berhenti. Di antara alasan politis itu ialah:

  Pertama, Khilafah merupakan definisi dari pemerintahan Islam. Artinya, masuk dalam pembahasan politik atau dikenal sebagai kajian siyasah Islam. Suatu pemerintahan yang saat ini tegak oleh rezim demokrasi liberal, tentu tak ingin ada rival yang menandinginya. Lebih-lebih mengganti rezim demokarsi liberal yang telah gagal dalam mewujudkan kesejahteraan.

  Rezim manapun tak menginginkan ada dualisme kepemimpinan. Tatkala demokratisasi dipandang baik di negeri kaum muslimin, nyatanya demokrasi telah menimbulkan problem baru. Hal ini dikarenakan, perbedaan mendasar keyakinan umat Islam dengan asas dasar demokrasi yang sekular dan liberal. Umat Islam secara aqidah terkait konsekuensi menjalankan syariah. Sementara demokrasi memandang manusia harus dibebaskan dalam setiap tindakan. Dua hal yang bertentangan dan tidak mungkin bisa dipadupadankan. Karenanya, wajar jika rezim demokrasi dimanapun tidak menginginkan Islam dan khilafah mengatur kehidupan umat manusia. Maka dibuatlah skenario melalui perundang-undangan dan keputusan politik pada siapa pun yang ingin kembali wujudkan khilafah.

  Kedua, alasan penghapusan khilafah dalam kurikulum akan mencuatkan persoalan baru. Tatkala khilafah disoal dengan alasan inspirasi radikal dan radikalisme, faktanya bahasan khilafah sudah ada sebelum Indonesia ada. Jika ditelusuri dalam hadits, kitab-kitab klasik, dan gagasan pembaharu Islam, khilafah sudah dikenal dan masyhur. Sepanjang sejarah peradaban dunia pun, umat sudah mengenal istilah khalifah, khilafah, dan peradaban Islam.

  Jadi penghapusan khilafah dari buku ajar dengan alasan politis akan berakibat fatal bagi penguasa. Sebab ini sama saja menunjukan ketakutan pada Islam yang tak berdasar. Takut akan bayang-bayangnya sendiri. Bahkan ke depan akan muncul gelombang besar penolakan dan aksi massa. Aksi Bela Islam menemukan momentum baru dan lebih dahsyat lagi karena ini menyentuh pokok dasar agama Islam. Bukankah umat Islam di negeri ini sering menyebut nama Muhammad rasulullah SAW dan khulafa’ur rasyidin dalam pergantian tarawih? Belum lagi, pembahasan bab Khilafah dalam buku ajar pun disertai dalil yang kuat dan tak terbantahkan.

  Penghapusan khilafah dalam buku ajar menjadi momentum penyempurnaan aksi bela Islam. Setelah bela Ulama dan aktivis Islam dari kriminalisasi, bela quran, bela bendera tauhid, ke depan bela Khilafah sebagai ajaran Islam. Umat ini tak akan kekurangan penolong dan pembela di zaman penuh fitnah ini.

  Ketiga, segala bentuk upaya penghadangan khilafah, sejatinya cara Allah untuk membongkar makar jahat pembenci Islam. Manusia bisa membuat seribu satu cara mulai dari pencabutan Badan Hukum Perkumpuilan (BHP), revisi UU, pengaduan melalui online, pelarangan ide dengan aturan dari pejabat pemerintahan, dan pengkriminalan pengembannya. Upaya itu dijamin sia-sia, bahkan akan membuka topeng dan kedok mereka. Sejatinya mereka tidak bekerja untuk rakyat. Mereka bekerja untuk kepentingan proyek penghadangan kebangkitan Islam di Indonesia.

  Allah memiliki cara sendiri untuk kian memopulerkan khilafah. Cara Allah di luar nalar manusia. Bolehlah mereka menghapus materi khilafah, namun umat tak mudah melupakan masa kegemilangannya. Bolehlah mereka mengambinghitamkan khilafah, namun umat akan tambah cinta dan membela. Khilafah itu seperti mutiara suci. Upaya untuk menghitamkan dan menenggelamkan dalam lumpur pekat, tak akan membuatnya karat. Justru ini cara Allah untuk mempergilirkan kekuasaan di antara manusia.
 
  Oleh karena itu, isu khilafah akan semakin bombastis. Isu ini tak mengenal kompromistis dan kian mendunia. Khilafah merupakan oase segar di tengah kegersangan ucapan dan janji kosong pengusung demokrasi liberal yang kerap kali rakyat dibuat tak masuk akal. Prediksi akhir zaman kapitalisme demokrasi sudah kian nyata. Karenanya, upaya penghapusan dan penghambatan khilafah seperti upaya meniup api panas matahari agar padam. Emang bisa?[]

No comments:

Post a Comment

Adbox