Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Tuesday, November 26, 2019

Peradaban Sekulerisme dan Fenomena Penistaan Agama



Aminudin Syuhadak
Direktur LANSKAP

Rupanya polemik dan kontroversi akibat pernyatan dan pertanyaan -maaf- bodoh oleh Sukmawati terus menggelinding membesar. Wajar, ini karena untuk kali kesekian Sukmawati melakukan kesembronoan dengan pernyataan-pernyataan ngawur yang tendensius dan mendiskreditkan agama dan ajaran Islam. Pada episode konde dan kidung vs cadar dan azan Sukmawati berhasil lolos dari jerat hukum berkat air mata buaya dan janji palsunya. Nah, apakah kali ini perempuan tua itu kembali terselamatkan lagi?

Tapi saya tak hendak bicara soal hukum, biarkan itu menjadi pekerjaan para penegak pengamat hukum. Saya terusik untuk memotret dari angle kausalitas kenapa Sukmawati dan orang-orang sejenisnya dengan mudah  (baik sengaja atau tidak) melakukan penistaan, pelecehan atau minimal diskredit terhadap agama dan ajaran Islam di sebuah negeri yang mayoritas penduduknya Muslim, yang ada ratusan ribu masjid dan pesantren, yang bahkan presidennya pernah dijabat seorang Kyai legendaris dan ada 2 periode dimana wapres dijabat juga oleh seorang ulama. Ada apa dengan muslim dan Islam-nya di negeri ini?

Tidak Ideal
Memang logika rasionalnya adalah jika suatu negeri mayoritasnya Muslim yang berarti Islam menjadi agama yang dominan maka sudah sewajibnya Islam menjadi warna di negeri itu. Dalam artian seluruh kehidupannya bernuansa Islam atau lebih tepatnya Islam dijadikan aturan hidup, Islam menjadi basis fundamental seluruh keberlangsungan kehidupan di negeri itu, dalam semua aspek Dan setiap lini.

Tapi tidak di Indonesia, negeri dengan lebih dari 250 juta nyawa yang 87% - nya berstatus Muslim! 180° berbalik dari idealitas di atas. Islam terabaikan bahkan terdiskreditkan karena terus diidentikkan dengan terorisme dan radikalisme. Muslimnya termarginalkan bahkan distereotipkan dengan miskin, bodoh, kotor, kasar, intoleran dan aspek-aspek negatif lainnya. Anda boleh tidak sepakat, tapi Anda tidak bisa memungkiri fakta itu semua. Lalu, apa pasal yang menyebabkan paradoksal tersebut?

*Sekularisme Biang Masalah*
Biarpun rezim dan organ-organnnya terus mempropagandakan ini negeri berideologi Pancasila, yang sila pertamanya adalah Ketuhanan Yang Maha Esa, tapi fakta sejatinya negeri ini mengadopsi ideologi kapitalisme yang bersumber dari selularisme. Perangkat politik, hukum dan utamanya ekonomi yang dipakai membuktikan secara konkrit empiris bahwa kapitalismelah yang menjadi basis fundamental kehidupan negeri ini.

Tak bisa dipungkiri bahwa  politik demokrasi, hukum positif, ekonomi neo-liberal dan kehidupan sosial yang liberal adalah konsep derivat dari ideologi kapitalisme. Dan akibat mengadopsi ideologi cacat tersebut dalam 74 tahun sejarah kemerdekaannya negeri ini justru semakin terpuruk dalam segala aspek. Tentu tak perlu saya paparkan karena akan terlalu panjang, Anda bisa mengindera kenyataan kerusakan di sekitar Anda.

Termasuk di dalam kerusakan-kerusakan tadi adalah  munculnya berbagai penistaan terhadap Islam dan ajarannya baik oleh oknum indvidu maupun kelompok masyarakat tertentu. Dan lebih tragis lagi seolah negara lemah bahkan abai dalam mengatasi masalah tersebut. Sudah ratusan bahkan ribuan aliran  sesat muncul, oknum-oknum yang mengaku nabi, dan tentunya fenomena silih bergantinya oknum yang menistakan Islam semisal Arswendo, Victor Laiskodat, Ade Armando, Abu Janda,  Ahok dan Sukmawati. Itu semua tak bakal ada jika negara mampu dan mau menjalankan fungsi penjagaannya terhadap agama dan aqidah umat Islam.

Artinya negara ini sama sekali tidak mencerminkan asas Ketuhanan Yang Maha Esa, melainkan negara dengan ideologi kapitalisme yang berasas sekularisme. Sekularisme menghendaki pemisahan agama dari kehidupan publik. Agama diposisikan sebagai ancaman bagi hegemoni kapitalisme, oleh karena itu peran agama harus dinisbikan dari pengaturan kehidupan negara dan publik. Agama hanya boleh dipraktikkan dalam ranah pribadi (meski juga dengan banyak batasan). Dan klaim bahwa negara ini bukan negara agama justru mengonfirmasi ini adalah negara sekuler.

Maka tak mengherankan jika aneka penistaan terhadap Islam telah, sedang dan akan terus terjadi. Apalagi Hari ini kampanye atau tepatnya propaganda anti radikalisme dan terorisme selalu dialamatkan kepada Islam, ajarannya dan termasuk para pengemban dakwah Islam. Inilah indikasi adanya agenda 'pembusukan' terhadap Islam akibat penerapan ideologi kapitalisme yang berasaskan sekularisme di negeri ini.[]

No comments:

Post a Comment

Adbox