Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Friday, November 29, 2019

Milenial Dan Politik Oligarki



Endah Sulistiowati
Dir. Muslimah Voice

 Presiden Joko Widodo mengumumkan 12 staf khusus untuk mendampinginya selama pemerintah periode kedua 2019-2024. Tujuh di antara mereka merupakan generasi milenial: usianya 20 hingga 30-an tahun, yang memang sengaja ditunjuk Jokowi untuk bertugas "mengembangkan inovasi-inovasi di berbagai bidang."

Jokowi mengenalkan satu demi satu nama-nama mereka serta mengumumkan latar belakang pendidikan dan kiprahnya. Umumnya adalah entrepreneur, sociopreneur, dan edupreneur—aktivitas bisnis yang dipadu dengan pengembangan sosial, pendidikan, filantropi, dan ekonomi anak muda.

Pendeknya, mereka merepresentasikan generasi milenial. Mereka adalah Angkie Yudistia, Aminuddin Maruf, Adamas Belva Syah Devara, Ayu Kartika Dewi, Putri Indahsari Tanjung, Andi Taufan Garuda Putra, dan Gracia Billy Mambrasar.
(https://tirto.id/staf-khusus-milenial-cara-jokowi-samarkan-lingkaran-oligarki-emax)

/Politik Oligarki Jokowi/

Masyarakat tahu, sebelum Presiden Jokowi memilih dan menetapkan stafsusnya, pada tanggal 23 Oktober 2019 telah menetapkan 34 orang menteri dan pejabat setingkat menteri. Dilanjutkan pada tanggal 25 Oktober 2019 pelantikan 12 wakil menteri.

Kemudian satu bulan pasca diangkat sebagai menteri BUMN Erik Tohir yang sebelumnya menjabat sebagai ketua tim pemenangan Jokowi menetapkan BTP sebagai Komisaris Utama Pertamina. Meskipun hal ini ditolak oleh masyarakat secara luas, bahkan oleh pegawai Pertamina sendiri. Namun lacur tidak bisa ditolak. Keputusan sudah mendapatkan restu dari Presiden.

Kehebohan pun berlanjut ketika mengumumkan 12 stafsus yang dipilih dari kaum milenial dengan gaji 51 juta per bulan. Apa boleh buat, pembagian kue kekuasaan belum merata. Sehingga harus dibuka pintu-pintu lain yang bisa memasukkan para penyokong dana, tim sukses, pendukung, bahkan tim hore sekalipun. Karena dari tangan-tangan merekalah tampuk kekuasaan bisa diperoleh. Disinilah makin jelas bahwa Rezim Indonesia saat ini benar-benar melaksanakan politik oligarki secara konsekuen.

Adapun ciri-ciri Negara yang menganut atau menggunakan Sistem Pemerintahan Oligarki yakni, kekuasaan dipegang atau dikendalikan oleh kelompok kecil masyarakat, terjadi ketidaksetaraan ataupun kesenjangan dari segi material yang cukup ekstrem, uang dan kekuasaan merupakan hal yang tidak terpisahkan, kekuasaan dimiliki hanya untuk mempertahankan kekayaan semata.

Seperti yang kita ketahui jika sistem pemerintahan Indonesia menganut sistem demokrasi. Namun, sistem demokrasi yang dianut oleh negara Indonesia, mempunyai tujuan memeratakan kekuasaan serta ekonomi, ternyata tidak berjalan sesuai dengan tujuan. Jefrey Winters, Profesor Of Northwestern University merupakan analisis politik (Daniealdi) mengatakan "demokrasi di Indonesia ternyata dikuasai oleh kelompok oligarki, akibatnya sistem demokrasi di Indonesia semakin jauh dari cita-cita serta tujuan untuk mensejahterakan masyarakatnya".

Sebenarnya sistem pemerintahan oligarki ini sudah ada sejak era Orde Baru dimana hanya Soeharto dan kelompoknya saja yang mempunyai kekuasaan penuh terhadap pemerintahan di Indonesia, namun seperti yang kita ketahui sistem oligarki yang dibangun oleh Soeharto harus mengalami kehancuran ketika krisis moneter pada tahun 1998 yang melanda Indonesia. Ribuan mahasiswa turun untuk menggulingkan pemerintahan Soeharto karena dinilai gagal dalam membangun pemerintahan. Lantas oligarki tidak hilang begitu saja, justru terdapat penekanan tentang bagaimana kekuasaan oligarki di Indonesia terus dijalankan, meskipun rezim berganti.

Sejak dilantik sebagai presiden di tahun 2014, secara nyata Jokowi telah menerapkan politik oligarki ini. Bahkan saat ini semakin tampak jelas. Sehingga dari sistem pemerintahan yang seperti ini apa yang bisa diharapkan? Pemimpin hanya berfikir bagaimana mengerat kekuasan agar cukup untuk semua pihak yang membantu meraihnya. Sehingga stafsus tidak lebih hanyalah satu dari sekian efek pembagian kekuasaan semata. []

No comments:

Post a Comment

Adbox