Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Wednesday, October 2, 2019

Wamena Membara, Dimana Pemimpin?


Oleh: Retno Kurniawati
(Analis Muslimah Voice )

Wamena Membara. Warga berharap dapat meninggalkan Kota Wamena, Kabupaten Jayawijaya. sepert yang di lansir oleh KOMPAS.com - Pasca-kerusuhan di Wamena, ribuan warga memadati kompleks Pangkalan AU Manuhiua, Detasemen Wamena, pada Rabu (25/9/2019). Hal itu dilakukan karena warga masih merasa terancam pasca-kerusuhan pada hari Senin (23/9/2019) lalu.

Ribuan korban berjatuhan, seperti headline Liputan.com " 8.000 warga Wamena korban kerusuhan mengungsi di 23 Titik", pada 30 Sep 2019. Wamena sedang lara terluka dalam nestapa merana di atas kelimpahan sendiri. Kesaksian para korban dan sejumlah pihak tak kalah miris, bahkan ada seorang dokter yang berjasa di Papua harus meregang nyawa. Mereka harus kehilangan saudara mereka, dokter yang penuh jasa, harta, rumah dan juga fasilitas umum lainnya. Padahal hari Rabu, tanggal 21 Agustus 2019 yang dilansir oleh suara.com Presiden Jokowi mengklaim gejolak Papua dan Papua Barat sudah mereda. Namun nyatanya, dimana Pemimpin?

Wamena butuh pelindung. Sementara itu, menurut catatan polisi, massa kerusuhan di Wamena membakar 5 perkantoran, 80 mobil, 30 motor dan 150 ruko. Hingga Selasa (24/9/2019) malam, total 28 jenazah telah ditemukan dan 70 orang luka-luka. Selain itu, sekitar 5.000 warga mengungsi di 4 titik pengungsian. Mereka butuh perlindungan, melindungi bukan mengekang agar tidak engkau tuduh membangkang. Korban perlu pelindung seorang pemimpin. Dimana pemimpin?

Wamena butuh pembimbing. Kerusuhan demi kerusuhan terjadi secara berkesinambungan. Gejolak di Papua kian memprihatinkan, kasus di Wamena adalah kasus yang terjadi setelah dari 21 Agustus OPM (Organisasi Papua Merdeka) memulai aksinya kembali. Amukan segelintir kelompok perusak itu menyebabkan berbagai kerugian termasuk hilangnya nyawa. hal ini karena keterlambatan pemerintahan dalam mengatasi setiap gejolak yang terjadi dan bukan hanya karena rezim atau para pelaku pemerintahannya saja, namun juga karena lemahnya sistem yang mengatur kehidupan pemerintahan itu sendiri.

Sistem Kapitalis yang telah menaungi dunia, merajai setiap aspek kehidupan, tidak hanya dianut oleh negara-negara Barat, namun juga negeri-negeri Islam dan Komunis. Kapitalisme memperlihatkan kegagalannya, menciptakan kerusakan pada peradaban yang hari ini masih membara. Dan Wamena butuh pembimbing, membimbing bukan membiarkan. Jika yang terjadi saat ini, lalu dimana pemimpin?

Wamena rindu pemimpin yang mencintai dan dicintai, bukan hanya Wamena, Papua, Jayawijaya tapi juga seluruh dunia.
Wamena dan seluruh dunia hanya ingin pemimpin seperti Rasulullah Saw,  Abu Bakar,  Umar Ibnu Khattab ra. Dan itu hanya ada didalam sistem Khilafah Islamiyah 'alaminhajin nubuwwah.

Teriring doa untuk kedamaian Wamena:

Yaa Robb...

Selamatkan Saudara kami, Sayangi mereka yaa Robb..

Kami yang lemah ini tak mampu berbuat banyak untuk mengeluarkan mereka dari kejamnya Kapitalisme yang membunuh, yang menindas, yang memperlakukan ketidak adilan mereka tanpa belas kasihan tanpa rasa pri kemanusiaan.

Yaa Robb...
Kami hanya berharap engkau segera menurunkan pertolonganmu dengan tegaknya KHILAFAH Islamiyah 'Ala Minhajin Nubuwwah.

Hanya dengan Tegaknya KHILAFAH Islamiyah 'Ala Minhajin Nubuwwah Negeri- negeri kaum muslimin akan mampu di bebaskan dari penjajahan dan kedholiman orang-orang kafir. Aamiin.[]

No comments:

Post a Comment

Adbox