Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Sunday, September 22, 2019

Orba, Paska Reformasi 98 dan proyek Sekulerisasi Indonesia




Oleh: @rizqykon

Orba yang umumnya dikenal adalah rezim Soeharto yang berkuasa selama 32 tahun. Dengan masa jabatannya yang lama dengan perkembangan baik dan buruk nya. Antara lain adalah pembangunan infrastruktur, swasembada pangan, pengekangan 'kebebasan' dan tindakan otoriternya jangan lupa. Hahaha.

Jangan terlalu serius lah. Semua itu adalah sejarah. Dan reformasi adalah titik balik semua itu juga yang paling kentara adalah lepasnya pengekangan negara pada faktor kepercayaan, keyakinan, ekspresi, gagasan, pemikiran, argumentasi, pendapat, berserikat dsb. semuanya bebas. Kecuali gagasan Komunisme, leninisme, marxisme dan sejenisnya. Harusnya. hiya hiya hiya.

Kenyataan bahwa bangsa Indonesia yang memiliki kultur agamis tidak dapat di tolak. Kalau kita tarik garis besarnya, Indonesia dan Agama adalah dua sisi mata koin yang tidak terpisahkan. stereotip masyarakat Indonesia adalah yang taat beragama adalah orang baik. Betul begitu? Pastinya dong!

Kenapa? Karena bangsa Indonesia memiliki trauma kepada kelompok yang tidak beragama. Lebih tepatnya tidak percaya tuhan mungkin. Tapi juga harusnya memiliki trauma kepada Kelompok yang tidak menjadikan Allah ta'ala sebagai ilah sih. Kan belanda mengeksploitasi, menjajah dan berusaha menguasai ini bangsa beberapa abad dengan kekuasaan yang 'nggateli'. Iyakan? Iyo ae wes.

Tapi itu kan seharusnya. Kalau ada kata 'Seharusnya' berarti tidak harus. Bener kan? Iyo laaaaaah.

Lanjut. Jadi bangsa Indonesia kulturnya adalah agama. Perjuangan Pahlawan Indonesia dalam mencapai kemerdekaan juga menggunakan spirit agama yang kita sebut Jihad. Seperti yang kita tahu tentang 'resolusi Jihad', kisah Pangeran Diponegoro, rekaman Takbir Bung Tomo, kisah Imam Bonjol, gelar Panembahan Senopati dan lain sebagainya. Semuanya bermotif agama. Agama Islam lebih tepatnya. Iya kan?

Jadi dapat kita tarik benang merahnya Indonesia memiliki kultur agama yang sangat kental tal kalau tidak dapat di katakan kentel poll. Bukan begitu?

Nah, jadi begitu gaes. Tapi, tapi tapi. Paska reformasi seperti yang kita ketahui, pengekspresian, argumentasi dan mungkin perserikatan yang mencoba menerapkan ajaran agama secara 100% dibatasi, Jika kata menghalangi dan mengekang tidak boleh dipakai.

Bagaimana tidak, kalau ada yang mengusulkan penerapan hukum islam seperti 'Qishos', 'Hudud', 'Jinayat', mu'amalah bebas riba, dsb. Atau gerakan-gerakan yang mengajak tidak pacaran, anti Feminisme dan/atau mengajak lebih ta'at dalam beragama secara masif dan komprehensif ya kalau tidak di hujat ya di hina, jika memang kata caci maki terlalu kasar. Bahasa keren dan kekiniannya ya kena 'Hate Speech'. (moon maap nih, kan bebas berpendapat Yah, Di hujat ini tulisan ya monggo)

Lanjut lagi. Contohnya ya, di hujat Intoleransi lah, terpapar Paham Radikal, ekstrimis, parahnya di tuduh jadi bibit-bibit teroris. (Kan Jan***. Kate misuh kok sawangannya. Bintang tiga itu huruf T,A dan N ya. Bukan C,O dan K)

Sedangkan yang mengutarakan pendapat Liberal, sekuler dan yang menjauhkan dari hukum agama sangat mulus tanpa cap anti-Pancasila dan Intoleransi (intoleransi karena di paksakan kepada umat beragama yang memiliki pandangan sendiri tentang cara bersikap, berfikir dan bertingkah laku agar mengikuti sikap 'bebas' mereka). Benar begitu?

Belum lagi kasus HTI yang di bubarkan dengan PERPPU nomor dua Tahun 2017(sekarang menjadi UU) yang melangkahi UU ormas no 17 Tahun 2013 yang juga dapat menjadi langkah penjegalan gerakan yang ingin menerapkan dan menjalankan Syari'at Islam 100%. Dan kasus terakhir yang viral yaitu kasus Mahasiswa IAIN Kendari bernama Hikma Sanggala di DO pada Semester tujuh saat menyusun skripsi dengan tuduhan 'berafiliasi dengan aliran sesat dan Paham Radikalisme yang bertentangan dengan nilai-nilai kebangsaan dan terbukti sebagai anggota, pengurus dan/atau partai terlarang oleh pemerintah'. Padahal yang di serukan oleh Saudara Hikma Sanggala adalah penerapan syari'at islam. bukankah, kebebasan berpendapat legal dinegara kita? Orang yang menyusun Disertasi yang membolehkan hubungan kelam*n tanpa ikatan pernikahan(yang kita sebut Zina) saja boleh kok. Masa' yang pengen syari'at islam dijalankan 100% di larang. Kan Aneh!

Belum lagi kasus FPI yang di persulit bahkan tak diberi perpanjang Izin karena satu dan lain hal. Padahal kita tahu, FPI sangat berlapang hati dalam mencegah kemaksiatan yang pol*sipun tidak mencegahnya. Iya nggak?

Jadi dalam beberapa kasus yang dapat tersebutkan di atas, pada masa paska Reformasi 98 yang di gadang-gadang menjadi titik meroketnya kebebasan dalam berserikat, berekspresi dan berpendapat menjadi tidak bebas . Kenapa? Karena adanya pengekangan, penjegalan dan upaya menghalang-halangi baik dengan cara soft approach maupun hard approach.

Pengekangan, penjegalan dan upaya menghalang-halangi dari berbagai pihak dalam upaya menerapkan syari'at islam secara utuh 100% ini yang kita sebut sebagai sekulerisasi Indonesia. Kenapa? Karena menjauhkan nilai-nilai agama (terkhusus Islam) dan hukum-hukum agama (islam) untuk di jalankan dan/atau diterapkan di tengah-tengah masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam. Serta solusi yang di tawarkan dan yang sudah di jalankan kini meniru peradaban Barat yang dalam kajian agama (Islam Khususnya) dilarang. Kenapa dilarang? Karena agama (Islam) sudah mengaturnya.

Dalam kasus yang lain, masyarakat Muslim Indonesia memiliki suatu standar yang di sebut Halal dan Haram tidak lebih tinggi dari standar legal dan illegal dalam pandangan negara. Kenapa? Karena negara Indonesia bukan negara Islam. Juga istilah Kafir menjadi Non-Muslim dalam pandangan negara bukan agama (tapi istilah kafir kan agama bukan negara. Gimana sih? Embuh lah!) yang baru-baru ini menjadi Viral.

Pada masa paska Reformasi 98' ini lah (sampai tahun 2019 bulan September tanggal 12 atau sekarang saat initulisan di ketik) warna, aroma dan bentuk Sekulerisasi di Indonesia sangat kentara. Belum lagi paham Sosialisme-Komunisme yang sedikit banyak mulai nampak ke permukaan. Padahal dalam Konstitusi Indonesia sangat jelas sekali paham itu terlarang.

Jadi, kalau bukan proyek Sekulerisasi Indonesia, kita menyebutnya apa? Kemajuan taraf berfikir? BEGITUH!!? Ingkar Ayat Allah ta'ala kok kemajuan taraf berfikir! Kemunduran iya! Wa Allahu A'lam. []

No comments:

Post a Comment

Adbox