Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Monday, September 16, 2019

ISLAMOPHOBIA : PSIKOLOGI ABNORMAL KAUM LIBERAL



Oleh: Dr. Ahmad Sastra*
_Dosen Filsafat_ 

Kali ini, mari kita mendiskusikan tentang suasana kebatinan masyarakat Barat liberal saat ini dan sikapnya terhadap Islam.

Yang dimaksud Istilah Barat dalam tulisan adalah ideologi kapitalisme, demokrasi, sekulerisme, liberalisme dan para budak pemujanya.

Hegemoni wacana yang dikonstruksi Barat sebagai bagian dari proyek ambisius proxy war dengan target monsterisasi terhadap Islam, nampaknya telah membuahkan hasil.

Hegemoni wacana sebagai bagian dari *psycoterorism* telah melahirkan islamophobia pada masyarakat Barat. Pasca peledakan menara kembar World Trade  Centre yang konon dilakukan oleh mereka sendiri telah menghasilkan proyek war on terorism yang dimaknai sebagai perang terhadap Islam.

Efek domino dari islamophobia ini semakin hari semakin menjadi-jadi dan cukup mengkhawatirkan. Islamophobia dilakukan oleh individu maupun negara berupa penistaan, permusuhan, kebencian terhadap Islam dan kaum muslimin. Mulai dari sekedar mencibir saat berpapasan dengan muslim hingga pengusiran, penyiksaan dan pembunuhan. Mulai dari pelarangan terhadap pakaian muslim hingga tuduhan teroris terhadap muslim.

Mulai dari pelecehan terhadap ajaran Islam hingga pembakaran al Qur’an dan masjid-masjid. Mulai dari tuduhan muslim intoleransi, radikal, antidemokrasi, terbelakang,  hingga kriminalisasi terhadap ulama dan monsterisasi ajaran Islam tentang khilafah.

Islamophobia-pun kini sedang terjadi di banyak negara Barat dan Timur, terutama masyarakat non muslim. Secara semantik kata Islamophobia terdiri dari dua kata, Islam dan phobia. Dalam kontek struktur frase atau kalimat, Islam  adalah obyek dan phobia adalah subyek.

Sama halnya dengan phobia ketinggian, maka ketinggian manjadi obyek dari phobia. Dalam ilmu psikologi abnormal, permasalahannya bukan terletak kepada obyeknya, namun problemnya terletak pada manusianya [subyek] yang mengidap penyakit phobia.

Secara etimologi, kata fobia/fo•bia/ n dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki arti suatu ketakutan yang sangat berlebihan atau irasional  terhadap benda atau keadaan tertentu yang dapat menghambat kehidupan penderitanya [an anxiety disorder characterized by extreme and irrational fear of simple things or social situations].

Phobia adalah rasa ketakutan kuat (berlebihan) terhadap suatu benda, situasi, atau kejadian, yang ditandai dengan keinginan untuk menjauhi sesuatu yang ditakuti itu.

Bedanya dengan rasa takut biasa, penyakit kejiwaan yang bernama phobia ini takut kepada  obyek tertentu yang sebenarnya tidak menyeramkan untuk sebagain besar orang.

Karena itulah oleh pada ilmuwan psikologi, phobia ini dimasukkan dalam bab psikologi abnormal.

Dua pendekatan teori psikologi akan penulis hadirkan untuk mengkaji penyakit phobia ini kaitannya dengan Islamophobia. Pertama teori psikoanalisa Freud dan teori behavioral Pavlov.

Dalam teori Psikoanalisa Freud, phobia merupakan pertahanan terhadap kecemasan yang disebabkan oleh impuls-impuls id yang ditekan. Kecemasan ini dialihkan dari impuls id yang ditakuti dan dipindahkan ke suatu objek atau situasi yang memiliki koneksi simbolik dengannya.

Karena itulah jika sejak kecil seorang anak ditakut-takuti oleh kegelapan dan hantu, maka setiap kali situasi malam atau gelap akan menjadi koneksi simbolik seolah pasti ada hantu, lalu timbul ketakutan yang berlebihan, padahal tidak ada yang salah dengan malam hari.

Begitulah pula dengan kata Islam yang dijadikan sebuah obyek untuk menakut-nakuti masyarakat Barat akhir-akhir ini.

Islam yang justru merupakan ajaran mulia dan damai dikonstruk sedemikian rupa seolah sesuatu yang menyeramkan, buruk dan membahayakan terus ditanamkan melalui impuls-impuls id masyarakat Barat tanpa memberikan kesempatakan kepada pikiran rasional untuk mengkajinya, maka lahirlah kondisi kejiwaan yang abnormal berupa Islamophobia.

Dalam konteks penyakit kejiwaan, maka yang salah bukanlah Islam, namun ketakutan dan kecemaasan yang berlebihan [irasional] inilah yang menjadi masalah dan harus disembuhkan. Sebab phobia adalah penyakit kejiwaan yang bisa disembuhkan.

Dalam teori behavioral Pavlov,  proses pembelajaran merupakan cara berkembangnya phobia. Avoidance Conditioning. Penjelasan utama behavioral tentang phobia adalah reaksi semacam itu merupakan respons avoidance yang dipelajari [avoidance conditioning].

Formulasi avoidance conditioning dilandasi oleh teori dua faktor yang diajukan oleh Mowrer (1947) dan menyatakan bahwa fobia berkembang dari dua rangkaian pembelajaran yang saling berkaitan.

*Pertama* melalui classical conditioning seseorang dapat belajar untuk takut pada suatu stimulus netral  jika stimulus tersebut dipasangkan dengan kejadian yang secara intrinsik menyakitkan atau menakutkan.

*Kedua*, seseorang dapat belajar mengurangi rasa takut yang dikondisikan tersebut dengan melarikan diri dari atau menghindarinya. Jenis pembelajaran yang kedua ini diasumsikan sebagai *operant conditioning*; respons dipertahankan oleh konsekuensi mengurangi ketakutan yang menguatkan.

Phobia juga bisa muncul melalui modelling berdasarkan vicarious learning dalam arti seseorang bisa mengalami gangguan kejiwaan berupa phobia terhadap obyek tertentu ketika mendapati orang yang yang dipercaya [tokoh] melakukan upaya-upaya verbal terhadap obyek tertentu yang akhirnya menimbulkan reaksi fobik.

Jika seorang pemimpin negara Barat selalu menakut-nakuti rakyatnya tentang Islam secara berulang kali, maka akan muncul reaksi fobik pada rakyat  itu terhadap Islam. Padahal reaksi fobik itu bersifat emosional belaka, bukan rasional.

Inilah yang terjadi saat ini, kenapa banyak orang yang tiba-tiba mengidap penyakit kejiwaan Islamophobia berupa ketakutan yang irasional terhadap Islam yang justru merupakan ajaran mulia dan terbukti mensejahterakan seluruh manusia.

Islam oleh Allah adalah rahmatan lil’alamin, namun jika seseorang mengidap penyakit kejiwaan berupa islamophobia, maka Islam akan dianggap sebagai monster menakutkan yang harus dimusuhi, dibenci dan dimusnahkan.

Islamophobia berdampak kepada kecacatan keterampilan sosial bagi pengidapnya. Dukungan terhadap model psikologi behavioral ini berasal dari berbagai penemuan yang menunjukkan bahwa orang-orang yang memiliki kecemasan sosial memang memiliki skor rendah dalam tingkat keterampilan sosial *(Twentyman & McFall, 1975)* dan bahwa mereka tidak mampu memberikan respons pada waktu dan tempat yang tepat dalam interaksi sosial *(Fischetti, Curran, Sr Wessberg, 1977)*. 

Dalam perspektif psikologi abnormal, gangguan kejiwaan berupa phobia ini bisa disembuhkan melalui terapi kognitif. Sudut pandang kognitif terhadap kecemasan secara umum dan fobia secara khusus berfokus pada bagaimana proses berpikir manusia dapat berperan sebagai diathesis dan pada bagaimana pikiran dapat membuat fobia menetap. Kecemasan dikaitkan dengan kemungkinan yang lebih hesar untuk menanggapi stimuli negatif, menginterpretasi informasi yang tidak jelas sebagai informasi yang mengancam, dan memercayai bahwa kejadian negatf memiliki kemungkinan lebih besar untuk terjadi di masa mendatang *(Heinrichs & Hoffman, 2000; Turk dkk.,2001)*.

Selain menggunakan pendekatan teori kognitif, Islamophobia juga bisa disembuhkan melalui lima pendekatan terapi psikologis  berikut :

[1] *Flooding*.
Flooding dilakukan dengan cara exposure treatment yang ekstrim, yakni penderita phobia dimasukkan ke dalam ruangan kajian atau seminar tentang Islam.

[2] *Desentisisasi sistematis*. Desentisisasi sistematis dilakukan dengan exposure treatment yang lebih ringan berupa rileksasi dan membayangkan berada di tempat yang sangat indah, nyaman, bahagia dan sejahtera dimana Islam diterapkan.

[3] *Abreaksi*. Abreaksi dilakukan dengan cara penderita Islamophobia dibiasakan untuk membaca  tentang konsep Islam melalui berbagai sumber seperti al Qur’an dan Al Hadist serta kitab-kitab para mujtahid dan ulama. 

[4] *Reframing*. Refreming merupakan cara menyembuhkan Islamophobia dengan membayangkan kembali menuju masa lalu dimana permulaannya si penderita mengalami phobia.

[5] *Hypnotherapy*. Hypnotherapy merupakan cara menyembuhkan Islamophobia dengan memberikan sugesti-sugesti positif untuk menghilangkan Islamophobia melalui berbagai training motivasi. Keseluruhan pola penyembuhan diatas bisa disimpulkan dengan satu kata yaitu dakwah.

Dakwah adalah cinta. Dakwah berarti mencintai orang-orang yang sedang mengalami gangguan kejiwaan untuk ditolong agar sembuh dari penyakitnya. Sebab orang-orang Barat mungkin belum banyak tersentuh oleh dakwah Islam kaffah ini. Karena itu dakwah harus terus bergulir, cintai orang-orang yang belum memahami hakekat Islam.

Semoga dengan dakwah, masyarakat Barat segera sembuh dari gangguan kejiwaan mereka dan menjadi masyarakat rasional dan masuk ke dalam Islam secara berbondong-bondong. Islam adalah cinta, dakwah adalah damai.

Ingatlah firman Allah dalam QS An Nasr :1-3, Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.

*[AhmadSastra, Singapore,15/09/19 : 07.29 SIN]

No comments:

Post a Comment

Adbox