Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Saturday, September 21, 2019

Hantu Radikalisme Menyasar Sekolah


(Dari PAUD Hingga Kampus)

Endah Sulistiowati
Dir. Muslimah Voice

Survei Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP), yang dipimpin oleh Prof Dr Bambang Pranowo, yang juga guru besar sosiologi Islam di UIN Jakarta, pada Oktober 2010 hingga Januari 2011, mengungkapkan hampir 50% pelajar setuju tindakan radikal.

Data itu menyebutkan 25% siswa dan 21% guru menyatakan Pancasila tidak relevan lagi. Sementara 84,8% siswa dan 76,2% guru setuju dengan penerapan Syariat Islam di Indonesia.

Peneliti Maarif Institute, Abdullah Darraz, mengatakan melemahnya nilai Pancasila dan kebangsaan di sekolah berbanding lurus dengan maraknya radikalisme itu.

"Institusi sekolah ini dalam pandangan kami itu dari aspek sisi kebijakan, proses pembelajaran di kelas dan proses eskrakulikuler yang membuat radikalisme itu menguat di sekolah negeri. Ada sekolah yang terlalu permisif yang membolehkan kelompok radikal masuk situ, itu mengatasnamakan bimbingan belajar dan konseling," jelas Darraz. (https://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/05/160519_indonesia_lapsus_radikalisme_anakmuda_sekolah)

Badan Nasionalisme Penanggulangan Terorisme (BNPT) mencium indikasi paham radikal negatif telah masuk ke anak-anak. Guna pencegahan sejak dini, BNPT menggandeng Kemendikbud dan Kemenag untuk memberi materi antiradikalisme negatif dan pendidikan penguatan karakter kebangsaan.

"Beberapa waktu lalu, infiltrasi (penyusupan) hal-hal yang sifatnya berbahaya dimulai dari usia PAUD, TK, SD sudah mulai masuk. Dengan beberapa kejadian itu, saya minta supaya Mendikbud membikin formula, namanya pendidikan penguatan karakter, salah satu materinya mewaspadai aspek radikalisme dalam perspektif negatif," kata Kepala BNPT, Komjen Pol Suhardi Alius, Selasa (25/9/2018). https://m.detik.com/news/berita-jawa-tengah/d-4228266/cegah-radikalisme-sejak-usia-dini-bnpt-sasar-paud-dan-tk

Belum lama ini, ada seorang mahasiswa yang sedang membuktikan peribahasa "Malang tak bisa ditolak, untun tak dapat diraih". Mahasiswa dari kampus Islam, IAIN Kendari, Sulawesi Tenggara terpaksa dikeluarkan sepihak dari kampus (Drop Out/DO) sejak tanggal 27 Agustus 2019.  Pemuda mahasiswa itu bernama Hikma Sanggala dituduh mengikuti aliran sesat dan terpapar paham radikalisme.

Yang menjadi dasar pemberhentian tersebut yaitu di antaranya adalah berafiliasi dengan aliran sesat dan paham radikalisme yang bertentangan dengan ajaran Islam dan nilai-nilai kebangsaan dan terbukti sebagai anggota, organisasi terlarang oleh Pemerintah. Saya sangat menyayangkan hal tersebut. Pasalnya Sanggala termasuk mahasiswa berprestasi dengan IPK Terbaik se-fakultas dan sementara ini ia sedang menyusun skripsi tetapi kemudian malah mendapat surat DO.

Bahkan, para mahasiswa yang tergabung dalam Organisasi Cipayung IAIN Jember menggelar deklarasi damai di Gedung Kuliah Terpadu (GKT) IAIN Jember, kemarin(10/9). Mereka menyuarakan penolakan terhadap paham radikalisme di kawasan kampus. Deklarasi yang digelar secara terbuka itu dihadiri oleh berbagai elemen. Mulai dari unsur mahasiswa hingga instansi pemerintahan. Seperti organisasi kemahasiswaan intrakampus IAIN Jember, Organisasi Cipayung IAIN Jember, PMII, HMI, GMNI, dan IMM. Selain itu, turut hadir sejumlah perwakilan dari lembaga penegak hukum, tokoh agama, dan akademisi.

Radikalisme saat ini benar-benar sudah menjadi hantu, yang wujudnya tidak ada, namun menimbulkan ketakutan dimana-mana. Sayangnya radikalisme berevolusi menjadi kata-kata yang berkonotasi negatif, buruk, kotor, harus disingkirkan dan dibuang.  Diera hegemoni wacana, kata radikal atau radikalisme merupakan istilah yang mengalami transformasi makna secara peyoratif. Yaitu unsur bahasa yang memberi makna menghina, merendahkan.

Radikalisme memiliki makna berbeda, tergantung siapa dia dan apa kepentingannya. Radikalisme berasal dari  istilah Barat, bukan dari khazanah Islam. Berasal dari kata radical atau radix yang berarti "sama sekali" atau sampai ke akar-akarnya. Dalam kamus Inggris-Indonesia susunan Surawan Martinus, kata radical disinonimkan dgn kata "fundamentalis" dan "extreme."  Radikalisme berasal dr bahasa latin "radix, radicis," artinya akar (radicula, radiculae: akar kecil).

Oleh rezim saat ini, radikalisme dipaksakan definisinya sebagai paham yang mengajarkan kekerasan dimana salah satu cirinya adalah menolak NKRI, Pancasila, dan UUD 45 dan ingin menggantinya dengan penerapan paham atau sistem yang lain. Dan kian kesini makin nampak, bahwa rezim menggunakan narasi radikalisme sebagai alat gebuk bagi pihak yang berseberangan dengan kepentingannya. Dalam hal ini adalah pengusung Islam politik yg mereka khawatirkan akan menggusur tahtanya. Sehingga narasi radikalisme ini harus ditanamkan sejak dini oleh Rezim, agar daya penetrasi lebih kuat dan mendalam.


No comments:

Post a Comment

Adbox