Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Tuesday, September 10, 2019

Bagaimana Kalau Presiden Tidak Jujur?



Endah Sulistiowati
Dir. Muslimah Voice

Menjadi pemimpin berarti seseorang harus siap bertanggung jawab atas segala hal yang terjadi pada anak buahnya, kelompoknya, komunitasnya, ataupun rakyatnya. Keluarga sebagai salah satu presentasi terkecil dari sebuah organisasi, maka kepala keluargalah yang menjadi penanggung jawab atas seluruh anggota keluarga. Dalam keluarga, yang menjadi masalah terbesar ketika ekonomi mereka dianggap mapan adalah jika suami poligami tanpa sepengetahuan istri, tanpa kejujuran. Meskipun secara syariah poligami ini diperbolehkan, namun alangkah baiknya jika poligami dilakukan dengan cara yang ma'ruf (baik).

Meskipun banyak dari keluarga yang tetap bahagia pasca poligami, karena masing-masing paham hukum syara' serta paham akan hak dan kewajiban masing-masing. Namun tidak sedikit yang berpoligami hanyalah berdasarkan nafsu serta dibumbui kebohongan dan ketidak jujuran, keluarga mereka berakhir dengan perceraian dan anak-anak menjadi terlantar. Bagaimana jika ketidak jujuran ini terjadi dalam sekup yang luas seperti negara?

Pemilu memang sudah terlewat, Presiden terpilih sudah diumumkan oleh KPU pada 20 Mei 2019 lalu, namun kepedihan akibat tewasnya 10 orang pasca pengumuman masih tersisa. Sebagai bagian dari rakyat Indonesia yang masih berakal sehat, penulis merasakan ada hal yang tidak wajar sedang terjadi di bumi pertiwi ini. Keluarga saja sebagai susunan terkecil pembentuk sebuah negara jika dibangun dengan ketidak jujuran, maka 90℅ keluarga akan hancur, entah itu anak-anaknya, kebahagiaannya, perekonomiannya atau bahkan bangunan keluarga itu pun akan hilang.

Bayangkan jika ketidakjujuran melanda negeri ini, menjadi hal yang biasa dilakukan oleh Presiden dan jajarannya. Pindah ibu kota yang akan menelan biaya hampir 500T sanggup, kenapa menutup defisit BPJS yang 5T tidak bisa. Kemudian kemana berkas-berkas kasus korupsi kelas kakap itu BLBI, e-KTP dsb. Yang telah menghabiskan triliunan harta negara yang harusnya digunakan untuk kemakmuran rakyat. Menumpas dan tembak ditempat yang teroris hanya dengan status terduga saja bisa, kenapa menangani masalah OPM harus berlama-lama sedangkan korban jiwa sudah berjatuhan.

Belum lagi tenaga kerja asing yang bersliweran, sedangkan rakyat hanya dijanjikan kartu pra kerja. Disisi lain pajak yang terus digenjot dari rakyat kecil, sedangkan untuk pengusaha bisa diperingan. Kran impor yang katanya akan ditekan, faktanya terus dibuka lebar, yang justru mematikan petani, peternak, dan pengusaha kecil-menengah. Bisa-bisa Indonesia bubar menjadi kenyataan. Na'udzubillah.

Bukankah Rasulullah SAW itu bergelar Al-Amin yaitu orang yang dipercaya, Umar bin Khattab tidak akan membiarkan satu hewan pun terperosok dijalan-jalan Madinah. Umar bin Abdul Aziz menjadikan kemakmuran yang luar biasa dalam tempo yang singkat hanya dalam 2 tahun saja.

Ya Allah, semoga Engkau tidak menjatuhkan adzab bagi negeri ini atas ketidak jujuran pemimpin kami. Bukakanlah hati para pemimpin kami, tunjukanlah mereka jalan yang benar. Jauhkanlah kami dari segala persengketaan. Lindungilah para Ulama kami yang lurus. Lindungi kami Ya Allah, ampuni dosa-dosa kami... Aamiin Yaa Robal 'Alamiin. Wallahu'alam.

No comments:

Post a Comment

Adbox