Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Saturday, August 17, 2019

TUJUH LEVEL KEMERDEKAAN


_Indonesia Merdeka Level Satu_

Oleh : Ahmad Sastra*

Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya. Inilah salah satu penggalan kalimat yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945 yang menandai secara de jure kemerdekaan negeri ini. Apakah secara de facto, negeri ini juga sudah merdeka secara sempurna ?.

Istilah  de jure   berasal dari bahasa latin: de iure yang artinya  describes practices that are legally recognized by official laws. Sementara istilah  de facto ("in fact" or "in practice") memiliki makna describes situations that are generally known to exist in reality, even if not legally authorized. Dengan demikian istilah pertama merujuk kepada legal formal dan istilah kedua merujuk kepada sebuah kondisi atau situasi. Karena itu kedua istilah ini memiliki perbedaan yang kontras.  Belum tentu keduanya berjalan seiring sejalan. 

Untuk kita renungkan bersama. Jika kita mau membuka kembali lembaran sejarah bangsa ini, maka akan kita temukan gema takbir dengan semangat jihad fi sabilillah para ulama dan santri dengan mengharap pertolongan Allah untuk berjuang meraih kemerdekaan bangsa ini seperti pangeran Diponegoro, Jenderal Sudirman, Tuanku Imam Bonjol, Cut Nya Dien, KH Hasyim Asy’ari, KH Sholeh Iskandar, HAMKA dan M. Natsir. Merdeka saat itu berarti terlepasnya bangsa ini dari belenggu penjajah Belanda, Jepang, Portugis dan lainnya. Hari jumat, 9 Ramadhan 1334 H bertepatan dengan 17 Agustus 1945 M adalah moment bersejarah dengan dibacakannya deklarasi kemerdekaan bangsa ini, menandai lepasnya bangsa ini dari penjajahan fisik bangsa lain.

Tidak mudah berjuang memerdekaan bangsa ini. Para ulama dan santri telah dengan susah payah mengorbankan harta, tenaga dan jiwa. Mereka telah memberikan segala yang mereka miliki demi meraih pertolongan Allah. Harta yang mereka infakkan, tenaga yang mereka sumbangkan bahkan nyawa yang harus melayang semoga menjadi amal sholeh bagi mereka.

Semoga Allah menempatkan mereka sebagai para syuhada yang mulia. Tinggal kita renungkan hari ini sebagai generasi penerus, perjuangan apa yang mesti kita lakukan untuk mengisi anugerah kemerdekaan ini. Mensyukuri kemerdekaan harus benar, bukan berfoya-foya dan bersenang-senang, apalagi bermain-main.  Lebih ironis lagi jika merayakan kemerdekaan dengan mengadakan acara beraroma kemaksiatan dengan mengundang gilrband seronok misalnya, maka ini artinya menyengaja mengudang murka dan azab Allah karena kekufuran yang dilakukan. Bersyukur sangat berbeda dengan kekufuran. 

Mari kita berfikir dan merenung secara mendalam, agar kita mampu berbuat yang terbaik untuk bangsa ini. Agar kemerdekaan bangsa ini tidak kita sia-siakan. Bahwa sesungguhnya, kemerdekaan bangsa ini pada tahun 1334 Hijriyah adalah merdeka level satu, yakni merdeka secara fisik. Merdeka level satu ditandai dengan tidak adanya lagi tentara asing yang menembaki, menzolimi, menyiksa dan menangkap rakyat kecil. Untuk merdeka level satu inipun, negara Irak, Afghanistan dan Palestina belum bisa merasakan hingga hari ini.

Merdeka level dua adalah merdeka memilih pemerintah. Untuk merdeka level dua ini, kita lebih merdeka dibandingkan Australia atau kanada. Karena di kedua negara itu kepala negaranya dipilih oleh Ratu Inggris, bukan oleh rakyatnya sendiri. Pada level dua, Indonesia belum merdeka 100%, sebab ,meski rakyat yang memilih presiden, namun masih ada campur tangan asing. Bahkan seringkali campur tangan ini sangat dominan, terutama dari sisi penggiringan opini. Tak ada pemilu yang tidak diintervensi asing di negeri ini.

Merdeka level tiga adalah kebebasan memilih hukum. Di level tiga ini derajat kemerdekaan Indonesia lebih rendah lagi. Betul undang-undang kita disahkan di DPR hasil pilihan rakyat. Namun ada sekian banyak draf yang dibuat oleh lembaga-lembaga asing seperti IMF, UNDP dan USAID. Undang-undang strategis seperti UU migas, listrik, penanaman modal  dipastikan ada intervensi asing di dalamnya. Hanya undang-undang yang tidak strategis yang tidak diintervensi. Jika negara merdeka level 1,2 dan 3 ini 100%, maka negara itu bisa disebut telah merdeka secara fisik sepenuhnya, seperti Korea Selatan. Meski masih miskin, namun merdeka level 1,2 dan 3 dipastikan negara yang professional.

Merdeka level 4 adalah merdeka secara ilmu dan teknologi, yakni negara yang mampu menciptakan teknologi untuk kebutuhan rakyatnya sendiri. Derajat merdeka level 4 bangsa ini sangat rendah, meski masih sedirkit diatas Arab Saudi dan Brunai Darusalam yang seluruh teknologinya diimpor dari luar negeri. Indonesia masih punya kampus teknologi yang top 600 dunia dan masih punya industri teknologi. Namun harus diakui bahwa kita masih terjajah oleh teknologi asing, karena masih sangat tergantung kepada asing. Akibatnya asing masih mudah mempermainkan bangsa ini melalui teknologi yang mereka buat. Bahkan melalui teknologi asing, google menghapus peta Palestina dari peta dunia.

Kita masuk merdeka level 5. Merdeka level 5 adalah merdeka secara ekonomi. Di bidang ekonomi, bangsa ini masih kategori terjajah, belum merdeka. Sistem ekonomi bangsa ini sangat rentan, karena terlalu mudah dipengaruhi oleh gonjang-ganjing ekonomi dunia, baik sengaja maupun tidak. Sektor-sektor ekonomi strategis bangsa ini justru kini dikuasai oleh asing dan aseng. Bahkan negeri ini makin menggunung hutangnya (lebih dari 5000 triliun) berbasis ribawi.  Pemakan riba itu seperti orang yang mabok, terhuyun tak tentu arah. Artinya dengan hutang ribawi, negara ini akan tergoncang dan berjalan tak tentu arah.

Negara yang telah meraih merdeka level 4 dan 5 dapat dipastikan sebagai negara yang produktif. Mereka berada dijajaran negara maju dan kaya. Negara merdeka level 4 dan 5 seperti Korea selatan, china dan jerman.

Adapun negara yang merdeka level 6 adalah merdeka secara ideologis. Ideologi akan mendorong sebuah negara untuk menentukan jalan hidupnya sendiri, peradabannya, sosial budayanya, bahkan bisa mempengaruhi negara lain. Negara merdeka level 6 ini akan menjadi negara yang powerfull. Negara merdeka level 6 ini misalnya Amerika, yang pada masa lalu juga Inggris, uni soviet dan perancis.

Kini kita sampai pada merdeka level tertinggi, yakni merdeka level 7. Merdeka level 7 ini adalah ketika sebuah negara beserta rakyatnya hanya menghamba kepada Allah Sang Pencipta manusia dan alam semesta, terlepas sepenuhnya kepada penghambaan kepada manusia melalui sistem apapun, baik otoriter maupun demokratis. Merdeka level 7 adalah merdeka secara aqidah.

Negara yang mencapai kemerdekaan level 7 akan cepat berkembang menjadi negara yang professional, produktif dan powerfull. Negara model inilah yang akan menebarkan rahmat bagi alam semesta, bukan menjajah negara lain. Negara Islam Madinah yang dibangun oleh Rasulullah adalah contoh negara merdeka level 7 ini, dimana kedaulatannya penuh tanpa ada intervensi dari penjajahan manapun dan dalam bentuk apapun.

Sebab misi kemerdekaan dalam pandangan Islam adalah pembebasan  segala bentuk penghambaan kepada makhluk menuju penghambaan kepada Allah sang pencipta. Misi kemerdekaan dalam Islam adalah misi tauhid yang juga merupakan misi seluruh nabi dari Adam hingga Rasululah.

Allah berfirman : Dan sungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu", (QS An Nahl : 36). Dan Kami tidak mengutus seorang Rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, Maka sembahlah olehmu sekalian akan aku". (QS Al Anbiya : 25). Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS Adz Dzariyat : 56) . Hanya Engkaulah yang Kami sembah dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan (QS Al Fatihah :5)

Islam dengan seluruh hukum syariahnya adalah sistem terbaik yang diturunkan Allah kepada seluruh manusia untuk mengatur seluruh aspek kehidupan mereka baik kehidupan individu maupun masyarakat. Hukum-hukum Islam meliputi seluruh aspek kehidupan manusia seperti ritual, pendidikan, ekonomi, teknologi, politik, budaya dan peradaban.

Karena itu jika negeri ini ingin mencapai kemerdekaan level tertinggi, yakni level 7 kuncinya ikuti saja aturan Allah dengan penuh keyakinan dan keikhlasan di seluruh bidang kehidupan. Tentu hal ini tidak mudah, mengingat bangsa besar ini baru mencapai merdeka level 1. Masih ada 6 level lagi yang harus dicapai.

Inilah tugas kita sebagai generasi penerus kemerdekaan yang telah diraih oleh para pendahulu kita. Kita hari ini harus secara serius memahami ini dan berbuat benar dan terbaik. Miliki aqidah yang kokoh, akhlak yang mulia, ahli ibadah, ilmu yang mendalam, mental yang kuat, visi yang jelas dan tentu saja jiwa kepemimpinan dan kemandirian. Penting juga ditopang oleh ukhuwah islamiyah yang kokoh serta doa dan tawaqal memohon pertolongan Allah dari setiap haraqah dan usaha perjuangan ini. Insyaallah cita-cta sebagai umat terbaik akan segera bisa kita raih.

Sebagai anak bangsa besar,  mari kita meningkatkan kualitas diri kita menjadi generasi level 7. Sebab kemerdekaan level 7 hanya diisi oleh generasi bangsa level 7 pula. Generasi level 7 adalah generasi hamba Allah atau generasi Ulil Albaab yang beriman, bertaqwa, berilmu, dan memiliki mental baja dalam usaha dan perjuangan. Generasi level 7 inilah yang dijanjikan Allah akan mendapatkan keberkahan hidup. Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, (QS Al A’raf : 96).

Dengan demikian, tidaklah layak kita menyebut negeri ini telah mendeka sempurna, sama sekali belum, bahkan masih sangat jauh. Masih butuh perjuangan yang lebih berat dibandingkan pencapaian kemerdekaan level satu. Inilah tugas anak bangsa hari ini. Mensyukuri kemerdekaan level satu adalah dengan merenungkan kembali semangat para pahlawan dan melayakkan diri agar negeri para wali ini mencapai merdeka level 7, bukan malah euforia dan terjebak kepada kekufuran dengan tindakan-tindakan melanggar nilai agama atas nama perayaan kemerdekaan. Ingat, kemerdekaan adalah hadiah dan rahmat dari Allah SWT, Pemilik Indonesia ini. Jika bersyukur akan ditambah nikmat, jika kufur akan diazab dengan siksa yang pedih [QS Ibrahim : 7]

Semoga kita punya komitmen dan istiqamah dalam meraih cita-cita kemerdekaan hakiki yakni level 7 dengan kembali mengusir penjajah gaya baru aseng dan asing, menguasai Iptek, memandirikan ekonomi bangsa yang bebas hutang, menegakkan kedaulatan ideologi Islam dengan landasan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Semoga Allah melindungi seluruh kaum muslimin di seluruh dunia dan segera menurunkan pertolonganNya berupa kemerdekaan tertinggi yang melahirkan peradaban mulia yang menebarkan rahmat bagi alam semesta.

Jika bukan Allah yang dijadikan sebagai sumber kebenaran dan bukan Rasulullah sebagai teladan sempurna, lantas siapa lagi. Ingat, kita belum merdeka. Masih mau bermain-main ?

*(AhmadSastra,Bogor,17/08/19 : 08.42]*

No comments:

Post a Comment

Adbox