Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Saturday, August 17, 2019

Tolak Impor Rektor Asing!


Indarto Imam
ForPEACE (Forum Pendidikan Cemerlang)

Rencana pemerintah akan mendatangkan rektor dari luar negeri atau rektor asing untuk memimpin suatu perguruan tinggi di Indonesia menuai polemik. di sisi lain Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko mengatakan, peran rektor asing tersebut akan lebih dulu diterapkan di perguruan tinggi swasta. "Saya sudah diskusi dengan Pak Menristekdikti (Mohamad Nasir). Nanti akan diawali oleh perguruan tinggi swasta. Dicoba dulu, secepatnya," kata Moeldoko, usai memberi kuliah umum kepada mahasiswa baru di Kampus C, Unair, Surabaya, Sabtu (10/8/2019) sebagaimana dikutip kompas.com (10/08/19).

Gagasan ini dianggap sebagian pihak terlalu absurd jika kebijakan penempatan pimpinan PT disamakan dengan penempatan manajer perusahaan. Sebuah perguruan tinggi memiliki misi, visi, dan nilai (core-values) yang sangat berbeda dengan perusahaan.

Sebenarnya, gagasan penggunaan tenaga asing bukan perkara asing dalam arus globalisasi. Perusahaan multinasional yang beroperasi di seluruh dunia tidak tabu menggunakan tenaga profesional dari wilayah atau negara berbeda. Untuk meningkatkan kinerja perusahaan, banyak perusahaan asing di Indonesia dan bahkan perusahaan nasional yang memanfaatkan tenaga asing kompeten sebagai manajer atau pimpinan puncak.

Dalam konteks demikian itulah program rektor asing yang dicanangkan Menristekdikti bisa dipahami sama halnya dengan strategi perusahaan multinasional yang menugaskan ekspatriat sebagai manajer di Indonesia. Di samping keberhasilan rektor asing di negara lain, keberhasilan para profesional mancanegara dalam memimpin perusahaan patut diduga menjadi dasar Menristekdikti membuka pintu bagi orang asing untuk menduduki kursi rektor.

Kebijakan ini dianggap bentuk ketergesa-gesaan dan orientasi jangka pendek dalam beberapa kebijakan, khususnya di bidang pendidikan, tidak terlepas dari kebiasaan atau budaya bangsa Indonesia. Kebijakan yang semestinya dirumuskan dengan penuh kehati-hatian (prudence) tersubordinasi nafsu serta kepentingan jangka pendek.

Terkait wacana ini, seharusnya Menristekdikti saat ini malu. Karena sebagai menteri nggak sanggup memajukan dunia kampus. Tidak sanggup mencari, menyiapkan rektor hebat dari Dalam Negeri. ketatnya persaingan SDM di pasar global, pemerintah seharusnya memiliki konsep yang jelas dan komprehensif dalam meningkatkan kualitas dan ranking perguruan tinggi. Adapun wacana mengundang rektor asing tidak menjamin dapat meningkatkan kualitas PTN kita, bila ternyata tidak ada konsep yang jelas dari pemerintah.

Publik juga perlu mawas, bahaya dibalik ide ini adalah komersialisasi pendidikan. Ini tentu berbahaya. Mengapa? Komersialisasi pendidikan mengakibatkan sulitnya akses bagi masyarakat terhadap pendidikan dari tingkat dasar hingga ke perguruan tinggi karena syarat utama untuk memasuki lembaga pendidikan adalah kemampuan finansial masyarakat bukan kemampuan berpikir.

di dalam lembaga pendidikan, khususnya PTN yang telah menjadi BHMN terdapat kesenjangan lebar antara mahasiswa yang diserap murni dari kemampuan berpikir dengan mahasiswa yang diserap karena kemampuan finanasial. Kondisi ini tidak baik bagi perkembangan dunia akademik.
Perguruan Tinggi tidak lagi fokus mengurus dan melayani pendidikan bagi para mahasiswanya, perhatiannya terpecah kepada urusan-urusan yang bersifat profit dan bisnis sehingga ini akan sangat berpengaruh terhadap kualitas pendidikan di Indonesia.

Peranan masyarakat Indonesia untuk pembiayaan pendidikan tidak dapat terlalu diharapkan terhadap dunia pendidikan Indonesia karena sebagian besar masyarakat Indonesia berasal dari kalangan menengah ke bawah. Akibatnya apa yang dimaksud UU Sisdiknas tentang kemandirian masyarakat adalah menyerahkan institusi pendidikan kepada para pemilik modal. Bagi lembaga-lembaga donor yang berbasis ideology liberal kapitalis, hal ini melapangkan jalan bagi mereka guna mendorong perguruan tinggi melakukan riset yang berbasis kepentingan ideologi Kapitalis-Sekuler.[]

No comments:

Post a Comment

Adbox