Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Tuesday, August 6, 2019

SETELAH HTI, LALU FPI... SO WHAT?



Aminudin Syuhadak - Analis di LANSKAP

Konstelasi politik hari ini menunjukkan dua isu panas, yaitu: pengkhianatan terhadap aspirasi politik massa 212 dan FPI terancam tidak lolos perpanjangan SKT-nya. Kedua isu ini jelas sekali menunjukkan posisi umat Islam kembali hanya menjadi objek penderita dengan hanya dijadikan komoditi suara saat pemilu maupun pilpres dan setelahnya dicampakkan begitu saja.

Publik tahu persis bahwa massa 212 lah yang menjadi magnet terbesar di kubu koalisi 02, publik pun juga mafhum FPI adalah salah satu aktor utama 212. Dan publik juga melihat bahwa rekonsiliasi antara 02 dan 01 -yang dari semula ditentang kubu 212- menjadi drama pengkhianatan 02 terhadap 212. Tak cukup di situ, ancaman ditolaknya perpanjangan SKT ormas FPI -yang notabene bagian dari motor utama 212- menjadikan penderitaan massa Islam semakin lengkap.

Maka dari itu kita (umat Islam) setelah melalui segala sandiwara politik yang konyol dan tragis ini, sudah seharusnya semakin mampu mengenali wajah asli demokrasi dan sekaligus menyadari masifitas kezaliman rezim demokrasi. Tidak ada lagi alasan untuk menerima demokrasi, terlebih demokrasi nyata-nyata bukan sistem yang sesuai dengan tuntunan dan tuntutan syariat Islam. Alih-alih berpihak kepada Islam dan umat Islam demokrasi justru terang-terangan menegasikan peran Islam sebagai satu-satunya sistem yang bersumber langsung dari Allah SWT.

Untuk itu, inilah momentum terbaik yang masih Allah berikan kepada kaum muslimin agar rujuk kepada sistem Islam. Sudah saatnya kita yang Allah labeli umat terbaik tidak lagi silap dan tergiur dengan ilusi demokrasi yang utopis. Hari ini, umat Islam tak punya alternatif perjuangan selain berjuang dengan mengusung agenda sendiri yaitu mengembalikan sistem kehidupan Islami dalam segala aspek kehidupan baik individu, masyarakat dan negara.

Adanya upaya kekuatan kapitalisme global, khususnya di negeri ini, untuk memonsterisasi  syariat Islam dengan label terorisme dan radikalisme sejatinya mengonfirmasi bahwa justru Islamlah yang mereka takuti. Mereka tahu persis bahwa kekuatan Islamlah yang akan meruntuhkan dominasi dan hegemoni mereka. Bangkitnya kekuatan Islam adalah lonceng kematian bagi neo-imperialisme yang bertopeng demokrasi, jargon HAM dan perdamaian.

Alhasil, inilah agenda umat Islam yang sesungguhnya harus diusung dalam perjuangan berjamaah atas dasar ikatan aqidah dan ukhuwwah Islamiyah. Rangkaian gerakan aksi bela Islam seperti 212 yang spektakuler menyuguhkan bukti bahwa jika kita satu visi, satu misi dan satu gerak dalam satu komando maka kemenangan dan pertolongan Allah SWT adalah keniscayaan yang sangat dekat.[]

No comments:

Post a Comment

Adbox