Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Tuesday, August 6, 2019

Seruan Khilafah di Ijtima Ulama' 4



Oleh : Muhammad Ikhsan

Ijtimak (berasal dari Bahasa Arab) dalam ilmu falak (astronomi) adalah peristiwa pertemuan di mana Bumi dan Bulan berada di posisi bujur langit yang sama, jika diamati dari Bumi.
Ijtimak terjadi setiap 29,531 hari sekali atau disebut pula satu bulan sinodik.

Ijtima' Ulama dapat diartikan sebagai pertemuan antara (banyak) ulama dari berbagai tempat/wadah untuk menyambung silaturahim sehingga mereka terhubungkan antara satu dengan yang lain dengan maksud dan tujuan menghasilkan kesepakatan/risalah yang sama untuk direkomendasikan kepada ummat khususnya penguasa.

Ijtima' Ulama IV kali ini telah diselenggarakan pada tanggal 5 Agustus 2019 di Sentul, Bogor. Dihadiri oleh para Ulama & Tokoh dari 28 Provinsi dari seluruh Indonesia.

Diantara risalah/point penting yang disepakati oleh para Ulama yang menghadiri Ijtima Ulama IV adalah
_"Seluruh Ulama Ahlussunnah Waljamaah di Indonesia telah sepakat penerapan SYARIAH dan penegakan KHILAFAH serta amar maruf nahi munkar adalah kewajiban agama Islam"_

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
_"Dan sesungguhnya para ulama itu adalah pewaris Nabi-nabi._
_Dan sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham dan mereka hanya mewariskan ilmu, maka siapa-siapa yang mengambilnya berarti dia telah mengambil bagian yang sempurna”_
[HR. Tirmidzi]

Demikan tingginya kedudukan ulama’ di dalam Islam. Sehingga Rasulullah sallallahu alaihi wasallam menyembut mereka sebagai pewaris para nabi. Karena ditangan merekalah risalah ini akan menyebar dan akan sampai ke dalam hati ummat Islam. Menyelematkan mereka dari kegelapan jahiliyah dan menuntun ummat menuju Jannah.

Ciri ciri Ulama’ pewaris Nabi
1. Mereka menjauhi penguasa dan menjaga diri dari mereka. Bukan mereka yang pada nempel penguasa berharap dapat jatah posisi strategis ataupun jabatan lainnya.
Ulama yang mukhlis akan menghindari tempat-tempat yang dapat menimbulkan fitnah.
Diantara tempat-tempat fitnah tersebut adalah pintu-pintu para penguasa.

2. Mereka tidak terburu-buru dalam berfatwa, sehingga mereka tidak berfatwa kecuali setelah menyakini kebenarannya.
Betapa banyak kita saksikan para ulama’ yang menjadi teman dekat para penguasa telah mudah berujar/berfatwa dan merubah hukum serta aturan-aturan Islam.

Yang halal diharamkan & sebaliknya yang haram dihalalkan. Contoh yang riil saat ini adalah beberapa ulama yang dekat dengan penguasa mengatakan bahwa Khilafah itu sistem usang yang telah gagal, padahal Khilafah itu adalah ajaran Islam dan Ummat Islam hampir 14 abad menerapkannya dengan kepemimpinan seorang Kholifah. Ajaran Islam kok dibilang Usang & gagal?? Naudzubillahimindzalik!

Contoh lain adalah beberapa ulama yang dekat penguasa mengatakan bahwa bendera Tauhid adalah bendera Teroris, bendera kelompok radikal atau ormas terlarang.

Padahal kenyataannya Rasulullah pun mengibarkan panji panji tersebut dalam masa kenabiannya/kepemimpinannya.
Bahkan Kerajaan Arab Saudi pun menggunakan bendera Tauhid dengan warna hijau sebagai bendera negaranya.

3. Mengamalkan Ilmunya.
Seorang ulama’ tidak hanya dilihat omongannya. Tetapi yang lebih diperhatikan oleh para muridnya adalah perbuatannya.
Apa artinya omongan yang lantang dan tegas serta memukau akan tetapi amalannya jauh dari apa yang disampaikan?

Seorang alim itu senantiasa dalam keadaan bodoh hingga dia mengamalkan ilmunya. Bila dia sudah mengamalkannya, barulah dia menjadi alim. Jangan sampai mengikuti seorang Ulama yang berilmu tapi tidak mau mengamalkan. Dan sebaliknya, jangan sampai juga mengikuti seorang Ulama yang beramal tanpa ilmu.

Wallahu a'lam bishawab. []

No comments:

Post a Comment

Adbox