Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Wednesday, August 21, 2019

NARASI RADIKALISME, TEROR REZIM ANTI ISLAM



Oleh : Abu Muhammad T. Al Fatih

Enzo Zenz Allie (18), sebuah nama yang akhir-akhir ini menjadi perhatian publik. Kehebatannya sebagaimana yang dijelaskan oleh Danjen Akmil bahwa Enzo ngajinya hebat, agamanya bagus, dan bisa menguasai empat bahasa, antara lain bahasa Inggris, Prancis, dan Jerman. Seperti diketahui, Enzo sempat menjadi perbincangan di masyarakat  karena yang bersangkutan diduga terafiliasi dengan ormas radikal di Indonesia, yakni Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Sebelumnya, Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengklaim sudah menindaklanjuti temuan bahwa beberapa Perguruan Tinggi Negeri atau PTN di Indonesia sudah disusupi kelompok Islam transnasional. Dia menegaskan agar semua diberantas. Ryamizard mengaku sudah memanggil ratusan rektor dari berbagai PTN untuk menegaskan setiap kegiatan mahasiswa harus diawasi, terlebih kegiatan yang terindikasi menyimpang dari nilai Pancasila.

Senada dengan Menhankam, Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta dalam penelitiannya menemukan bahwa ada kelompok Islam eksklusif transnasional di delapan PTN. Pergerakan ini dikhawatirkan bisa menumbuhkan radikalisme di kalangan mahasiswa.

Peneliti LPPM Unusia, Naeni Amanulloh menyebut delapan kampus tersebut ialah UNS Surakarta, IAIN Surakarta, UNDIP Semarang, UNNES Semarang, UGM Yogyakarta, UNY Yogyakarta, Unsoed Purwokerto, dan IAIN Purwokerto. Dia membagi kelompok Islam menjadi tiga, yakni Salafi, Tarbiyah dan Gema Pemebasan (HTI).

MEMPERTANYAKAN NARASI RADIKALISME

Radikalisme (dari bahasa Latin radix yang berarti akar) adalah istilah yang digunakan pada akhir abad ke-18 untuk pendukung Gerakan Radikal. Dalam sejarah, gerakan yang dimulai di Britania Raya ini meminta reformasi sistem pemilihan secara radikal. Gerakan ini awalnya menyatakan dirinya sebagai partai kiri jauh yang menentang partai kanan jauh. Begitu radikalisme historis mulai terserap dalam perkembangan liberalism politik, pada abad ke-19 makna istilah radikal di Britania Raya dan Eropa daratan berubah menjadi ideology liberal yang progresif.

Menurut Encyclopedia Britannica, kata radikal dalam konteks politik pertama kali digunakan oleh Charles James Fox. Pada tahun1797, ia mendeklarasikan reformasi radikal sistem pemilihan, sehingga istilah ini digunakan untuk mengidentifikasi pergerakan yang mendukung reformasi parlemen.

Sementara menurut para ahli, Pengertian radikalisme adalah suatu ideology (ide atau gagasan) dan paham yang ingin melakukan perubahan pada sistem sosial dan politik dengan menggunakan cara-cara kekerasan/ekstrim.

Inti dari tindakan radikalisme adalah sikap dan tindakan seseorang atau kelompok tertentu yang menggunakan cara-cara kekerasan dalam mengusung perubahan yang diinginkan. Kelompok radikal umumnya menginginkan perubahan tersebut dalam tempo singkat dan secara drastis serta bertentangan dengan sistem sosial yang berlaku.

Istilah radikal bisa mempunyai konotasi positif atau negatif. Tergantung pengguna, konteks dan penggunaannya. Menurut Sarlito Wirawan, radikal adalah afeksi atau perasaan positif terhadap segala sesuatu yang bersifat ekstrem sampai ke akar-akarnya. Sikap radikal akan mendorong perilaku individu untuk membela mati-matian kepercayaan, keyakinan, agama atau ideologi yang dia anut.

Namun, ketika istilah radikalisme disematkan pada Islam sehingga lahir antithesis, Perang Melawan Radikalisme, maka konotasi radikalisme di sini jelas negatife. Apalagi dibumbui dengan berbagai framing radikalisme mengancam keutuhan negara. Akibatnya, konotasi yang terbentuk dalam benak masyarakat jelas negative. Pendek kata, penggunaan istilah ini jelas merupakan propaganda untuk menyerang Islam, Umat Islam dan proyek perjuangan Islam yang dianggap mengancam kepentingan penjajah dan para kompradornya.

Dengan konotasi seperti itu, Umat Islam tidak boleh menggunakan istilah ini untuk menyerang agamanya, menyerang sesama Umat Islam dan proyek perjuangan Islam. Pasalnya, di balik penggunaan istilah radikalisme jelas ada skenario untuk menyerang Islam, Umat Islam dan proyek perjuangan Islam. Yang lebih menyedihkan, ketika proyek Perang Melawan Radikalisme ini dilakukan oleh negara. Akibatnya,terjadilah pelecehan terhadap Islam secara massif, kriminalisasi ajaran Islam, Ulama, dan kaum muslimin.

RADIKALISME DIHEMBUSKAN REZIM ANTI ISLAM

Mengapa istilah radikalisme hanya ditujukan pada kelompok-kelompok yang mengusung Islam Kaffah ? Bila tolak ukurnya adalah sikap intoleran, mengapa kelompok-kelompok lain yang menyerang ulama, mempersekusi para ustadz dan membubarkan pengajian jamaah lain tidak disebut sebagai kaum radikalis yang intoleran? Apakah karena mereka mengusung NKRI dan Pancasila lalu halal melakukan anarkisme dan persekusi, dan tidak bisa dikategorikan sebagai kaum radikal?

Rezim saat ini dengan mudahnya menuding mereka yang ingin taat kepada ajaran Islam sebagai kelompok radikal. Anehnya, ini hanya ditujukan kepada kalangan Muslim. Tidak kepada kalangan non Muslim, yang mungkin pula ingin menjadikan negeri ini seperti keinginan agama mereka. Ingat, ada yang ingin menjadikan Kota Injil dan sebagainya.

Sebagaimana yang disampaikan Juru Bicara HTI M Ismail Yusanto, narasi radikal tak bisa dilepaskan dengan propaganda perang melawan terorisme. Perang melawan radikalisme, jelasnya, ingin memperluas cakupan propaganda perang melawan terorisme sehingga banyak pihak yang bisa dimusuhi atau dijadikan musuh.

Menurut M Ismail Yusanto, Barat ada di balik propaganda War on Radicalism ini. Karena dengan War on Radicalism, semua lawan (politik yang tidak tercakup dalam War on Terrorism), kini bisa masuk dalam satu keranjang.

Barat sendiri, jelasnya, punya kepentingan untuk mencegah kebangkitan Islam. Sedini mungkin mereka berusaha memukul kaum Muslimin yang berusaha membangkitkan Islam. Makanya, dibuat propaganda yang kemudian dijalankan oleh para penguasa boneka di negeri-negeri Muslim.

Setiap kali mereka melakukan narasi politik atau propaganda, haruslah ada kejadian, harus ada ide yang dipersalahkan terkait kejadian itu, harus ada tubuh atau badan/organisasi yang mengemban ide tersebut, kemudian harus ada orang atau aktornya.

Harus ada ide yang dipersalahkan yaitu Syariah dan Khilafah, harus ada tubuh yang dipersalahkan seperti HTI, kemudian harus ada orang yang menjadi aktornya. Itu yang sekarang ini sedang dibangun. Sehingga siapa saja yang dijadikan target maka akan dikatakan sebagai anggota HTI atau ditunggangi HTI. Siapa saja yang setuju dengan Syariah dan Khilafah disebut radikal.

/Sunnatullah/

Jauh sebelum berbagai peristiwa tersebut, sudah banyak pernyataan para tokoh yang mempertanyakan penerapan Syariat Islam. Ada yang menyatakan kalau syariat Islam ditegakkan di negeri ini,maka akan terjadi disintegrasi bangsa. Ada juga yang berpendapat  Jika Syariat Islam ditegakkan di negeri ini,berarti bangsa ini mundur ratusan tahun kebelakang. Bahkan ada tokoh politik dari partai berbasis Islam menyatakanDi negeri ini tidak mungkin ditegakkan Syariah Islam, karena masyarakatnya,masyarakat pluralis”.`

Tuduhan miring terhadap Syariat Islam dan para pengembannya yang datang dari berbagai kalangan baik kafirin, munafiqin, zalimin adalah sunatullah yang telah terjadi semenjak dimulainya perjuangan Islam oleh Rasulullah SAW, hingga sekarang dan akan terjadi di masa yang akan datang. Hal itu dimaksudkan agar jelas dan nyata antara yang haq dan bathil, yang halal dan haram, yang iman dan syirik, yang muslim dan yang kafir.

Orang yang sudah terlanjur memiliki pemikiran yang miring ketika menghadapi kaum muslimin yang menyerukan dan memperjuangkan diterapkannya Syariah Islam dan tegaknya Daulah Khilafah Islamiyah, sejatinya mereka adalah orang-orang yang tidak memiliki jalan menuju iman. Kalau mereka beriman, iman mereka semu,dan samar. Maka ketika menghadapi gerakan penegakkan Syariah Islam, sementara kesenangan hawa nafsunya terancam, maka ghorizatul baqo’ (naluri mempertahankan dirinya) muncul. Mereka akan mengerahkan segala potensi pemikirannya untuk menangkal pemikiran yang shoheh tentang tegaknya Syariat Islam, baik dengan manuver pernyataan politik, konferensi pers, berdalil yang tidak jelas asal-usulnya dalil dan yang paling tidak luwes mengerahkan masa melalui politik penyesatan dan manuver politik pembohongan umat demi kelestarian kesenangan yang selama ini dinikmati hawa nafsunya.

Sebagaimana pada masa awal-awal Islam di Quraisy,Ketika Nabi SAW menyampaikan dakwah ditengah gemerlapnya kehidupan jahiliyah di Mekah, ketika Abu Lahab, Abu Jahal, dan konco-konconya sedang memuaskan diri, hidup dalam kesenangan hawa nafsu yang tidak mengenal haq dan batil, halal dan haram, mukmin dan musyrik, tiba-tiba muncul sosok manusia yang menyampaikan pemikiran yang mencela tata kehidupan mereka mengadakan gerakan yang berlawanan dengan pemikiran, pemahaman, dan perilaku mereka, maka Nabi SAW, langsung dicap sebagai orang sinting, orang ayan, orang gila dan tuduhan-tuduhan miring lainnya yang pada prinsipnya menolak Islam tanpa kompromi.

Pertarungan antara haq dengan bathil terus berlangsung sejak lama. Saat Rasulullah SAW diutus oleh Allah SWT menyampaikan Islam, masyarakat mulai membincangkan dirinya dan dakwahnya. Pada awalnya, bangsa quraisy sedikit sekali membicarakan hal tersebut. Mereka menyangka bahwa Muhammad hanyalah seorang ahli syiir sehingga ucapannya tidak pernah melampaui perkataan para rahib dan pejabat mereka, dan masyarakat pun suatu waktu pasti akan kembali pada agama dan keyakinan nenek moyangnya. Apabila mereka melewati Nabi menyampaikan wahyu,mereka mencibirnya dengan kata-kata, inilah cucu Abdul Muthalib sedang menyampaikan berita dari langit. Beginilah terus mereka melakukan pelecehan.

Berikutnya, kaum Quraisy mulai menyadari bahaya dakwah Rasul terhadap kedudukan mereka. Bersepakatlah mereka untuk menentang, memusuhi dan memeranginya. Mereka menyadari, cara penting untuk menghancurkan dakwah Rasul adalah dengan menjatuhkan pribadinya (pembunuhan karakter) dan mendustakan kenabiannya.
Dimunculkanlah tuduhan-tuduhan dan pertanyaan-pertanyaan memojokkan seperti, Bagaimana Muhammad ini,kok tidak dapat mengubah bukit Shofa dan Marwa menjadi emas, Mengapa Jibril yang banyak disebut-sebut oleh Muhammad itu tidak pernah muncul di hadapan masyarakat, ”Dia juga tidak dapat memindahkan perbukitan hingga Makkah tidak dikelilingi oleh bukit, Mengapa dia tidak memancarkan air yang lebih segar dan banyak daripada air zamzam padahal dia sangat tahu akan kebutuhan penduduk terhadap air,dan ungkapan lainnya. Intinya,menjatuhkan Rasulullah dengan menuduh ajaran-ajaran dari Allah SWT yang disampaikannya dengan tujuan masyarakat menjauhi beliau dan Islam yang dibawanya.

/Sikap Kaum Muslim/

Upaya mengembalikan aqidah dan hukum Syariat Islam sebagai konstitusi dan undang-undang dalam kehidupan masyarakat di dunia Islam adalah merupakan usaha mulia yang harus diperjuangkan dengan sungguh-sungguh . Lebih dari itu merupakan kewajiban dari Allah SWT bagi kita. Oleh karena itu, kini saatnya ujian iman bagi kaum muslim, turut memperjuangkan Islam demi kebahagiaan dunia-akherat atau netral bahkan menentangnya. Allah SWT mengingatkan kita :

"Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? mereka hendak berhakim kepada thaghut[312], Padahal mereka telah diperintah mengingkari Thaghut itu. dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya." (QS an_Nisa:60). []

Catatan kaki :
1. Media Umat Edisi 247, 9-22 agustus 2019
2. Bunga Rampai Syariat Islam,2002
3. Wikipedia bahasa Indonesia
4. Suara.com, 27 Juni 2019

No comments:

Post a Comment

Adbox