Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Wednesday, August 21, 2019

Menegakkan Khilafah Islamiyah Hukumnya Wajib!


M. Arifin
(Tabayyun Center)

Berjuang menegakkan khilafah Islamiyah hukum asalnya adalah fardhu kifāyah. Namun, mengingat bahwa fardhu kifāyah itu belum juga berhasil diwujudkan dengan upaya mereka yang mewujudkannnya, maka kewajiban ini diperluas hingga mencakup setiap Muslim. Seperti itulah kedudukan dari setiap fardhu kifāyah.
Dasar wajibnya menegakkan Khilafah –sebagaimana dikemukakan oleh Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani di kitab asy-Syakhshiyyah al-Islamiyyah Juz 2– terdapat dalam al-Qur’an, as-Sunnah, dan Ijma’ Shahabat serta Kaidah Syar’iyyah.
Dalam al-Qur’an, Allah ta’ala telah memerintahkan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memutuskan perkara di antara kaum muslimin dengan apa yang diturunkan Allah ta’ala. Dan perintah tersebut berbentuk jazim (pasti). Allah ta’ala berfirman kepada Rasul ‘alaihis salam:

Artinya: “Maka putuskanlah perkara di antara mereka menurut apa yang Allah turunkan, dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.” [al-Maa-idah ayat 48]

Artinya: “Dan hendaklah engkau memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang Allah turunkan, dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkanmu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu.” [al-Maa-idah ayat 49]

Seruan kepada Rasul merupakan seruan bagi umatnya, selama tidak ada dalil yang mengkhususkan seruan tersebut hanya bagi Rasul. Dan dalam hal ini, tidak ada dalil pengkhususan tersebut, sehingga seruan untuk menegakkan al-hukm (pengaturan urusan/pemerintahan) merupakan seruan kepada kaum muslimin. Dan yang dimaksud dengan mengangkat khalifah adalah menegakkan pemerintahan (الحكم) dan kekuasaan (السلطان).

Selain itu, Allah ta’ala juga mewajibkan kaum muslimin untuk menaati ulil amri, yaitu penguasa. Ini menunjukkan wajibnya mewujudkan waliyul amri (ulil amri) atas kaum muslimin. Allah ta’ala berfirman:
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah, ta’atilah Rasul dan ulil amri di antara kalian.” [an-Nisaa’ ayat 59]

Mafhum dari ayat di atas, Allah ta’ala tak akan memerintahkan menaati sesuatu yang tidak ada. Maka ayat di atas menunjukkan perintah mewujudkan waliyul amri. Perintah mewujudkan ini bukan perintah mandub atau mubah, namun perintah wajib, karena berhukum dengan apa yang diturunkan Allah wajib hukumnya.

Mewujudkan waliyul amri berakibat tegaknya hukum syara’, sedangkan meninggalkannya berakibat diabaikannya hukum syara’. Dari sini bisa dipahami bahwa mewujudkan atau mengangkat seorang waliyul amri merupakan sebuah kewajiban, dan meninggalkan hal ini merupakan keharaman, karena hal itu berakibat diabaikannya hukum syara’.
Dalam as-Sunnah, di antaranya adalah hadits riwayat Imam Muslim dari jalan Nafi’, ia berkata: Ibn ‘Umar berkata kepadaku: aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Artinya: “Barangsiapa melepaskan tangannya dari ketaatan, ia akan menjumpai Allah pada hari kiamat tanpa memiliki hujjah. Dan barangsiapa yang mati, sedangkan di pundaknya tidak ada bai’at, maka matinya seperti kematian jahiliyah.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan setiap muslim untuk mewujudkan bai’at di pundaknya, dan mensifati orang-orang yang mati tanpa ada bai’at di pundaknya seperti orang yang mati dalam kematian jahiliyah. Dan bai’at hanya diberikan kepada khalifah, tidak kepada selainnya.

Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan adanya bai’at kepada seorang khalifah di pundak setiap muslim, dan tidak mewajibkan setiap muslim membai’at seorang khalifah. Maksudnya, yang wajib adalah mewujudkan bai’at di pundak setiap muslim, yaitu dengan mengangkat seorang khalifah yang dengannya terwujud bai’at di pundak setiap muslim, baik muslim tersebut secara langsung membai’at sang khalifah ataupun tidak.

Hadits yang lain lagi adalah hadits riwayat Imam Muslim dari al-A’raj dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

Artinya: “Sesungguhnya imam (khalifah) itu laksana perisai, tempat orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung dengannya.”

Imam Muslim juga meriwayatkan hadits dari Abi Hazim, ia berkata: Aku mengikuti majelisnya Abu Hurairah selama lima tahun, dan aku pernah mendengarnya menyampaikan hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

Artinya: “Dulu bani Israil diurus oleh para Nabi. Setiap kali seorang Nabi meninggal, Nabi yang lain menggantikannya.
Sesungguhnya tidak ada Nabi lagi setelahku, dan akan ada para khalifah yang berjumlah banyak. Para shahabat bertanya: Lalu apa yang engkau perintahkan kepada kami? Nabi menjawab: Penuhilah bai’at yang pertama, yang pertama saja, dan berikanlah kepada mereka hak mereka. Sesungguhnya Allah akan meminta pertanggungjawaban mereka atas apa saja yang mereka urus.”

Imam Muslim juga meriwayatkan hadits dari Ibn ‘Abbas, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:
Artinya: “Barangsiapa yang tidak menyukai sesuatu pada pemimpinnya, hendaklah ia bersabar atasnya. Sungguh tidak seorangpun yang keluar (untuk memberontak) dari penguasa sejengkal saja, kecuali ia akan mati seperti kematian jahiliyah.”

Hadits-hadits di atas merupakan informasi dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa kaum muslimin akan menyerahkan urusannya kepada para waliyul amri, dan di salah satu hadits di atas khalifah disifatkan seperti perisai atau pelindung. Pensifatan khalifah seperti perisai oleh Rasulullah merupakan informasi yang berisi tuntutan. Informasi dari Allah atau Rasul tentang sesuatu, jika mengandung celaan, maka itu merupakan tuntutan untuk meninggalkan sesuatu tersebut. Sebaliknya, jika informasi tentang sesuatu tersebut mengandung pujian, maka itu merupakan tuntutan untuk melakukan atau mewujudkan sesuatu tersebut. Dan jika pelaksanaan aktivitas yang dituntut tersebut berimplikasi tegaknya hukum syara’, dan meninggalkannya berimplikasi diabaikannya hukum syara’, maka tuntutan tersebut sifatnya pasti.

Dari hadits-hadits di atas juga dipahami bahwa yang mengurus urusan kaum muslimin adalah para khalifah. Ini berarti tuntutan untuk menegakkannya. Di hadits-hadits di atas juga disebutkan keharaman seorang muslim keluar untuk memberontak terhadap penguasa. Ini berarti mengangkat seorang penguasa merupakan perkara yang wajib. Demikian pula, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk menaati para khalifah, dan memerangi orang-orang yang menentang mereka. Ini merupakan perintah untuk mengangkat seorang khalifah, sekaligus perintah menjaga kekhilafahannya, dengan memerangi siapapun yang menentang sang khalifah.
Terdapat hadits riwayat Imam Muslim, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Artinya: “Barangsiapa yang telah membai’at seorang imam (khalifah), serta memberikan genggaman tangannya dan buah hatinya, hendaklah ia menaatinya sesuai kemampuan. Dan jika datang orang lain yang menentang (memberontak) terhadap sang khalifah, maka penggallah leher orang tersebut.”

Dari hadits di atas dapat dipahami, perintah untuk taat kepada kepada imam, merupakan perintah untuk mewujudkan keberadaan imam tersebut. Dan perintah untuk memerangi siapapun yang menentangnya, merupakan indikasi tegas yang menunjukkan wajibnya hanya ada satu orang khalifah di satu masa.
Adapun dalil berdasarkan ijma’ shahabat, sesungguhnya para shahabat ridhwanullahi ‘alaihim bersepakat atas wajibnya mengangkat seorang khalifah pengganti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah beliau wafat. Mereka bersepakat menyerahkan kekhilafahan kepada Abu Bakar, kemudian kepada ‘Umar sepeninggal Abu Bakar, setelah itu kepada ‘Utsman.

Ijma’ shahabat terhadap kewajiban mengangkat seorang khalifah ini tampak jelas dari sikap mereka yang menunda penguburan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menyibukkan diri untuk mengangkat seorang khalifah. Ini mereka lakukan, padahal menguburkan jenazah setelah kematiannya adalah wajib, dan haram atas orang yang diwajibkan menyibukkan diri dalam penyelenggaraan dan penguburan jenazah untuk menyibukkan diri pada urusan lain, hingga sempurna penguburannya. Namun, para shahabat yang wajib atas mereka menyibukkan diri dalam penyelenggaraan dan penguburan jenazah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagian mereka malah lebih menyibukkan diri dalam pengangkatan khalifah, sedangkan sebagian yang lain mendiamkan. Mereka –para shahabat– bahkan sepakat menunda penguburan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selama dua malam, padahal mereka mampu untuk mengingkarinya, dan mereka juga mampu untuk menguburkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum itu.

Dari peristiwa di atas, bisa dipahami bahwa terdapat ijma’ shahabat tentang keharusan lebih menyibukkan diri untuk mengangkat seorang khalifah dibandingkan menguburkan jenazah. Dan hal ini tidak mungkin terjadi, kecuali dipahami bahwa mengangkat seorang khalifah lebih wajib dibandingkan menguburkan jenazah.

Para shahabat seluruhnya juga bersepakat sepanjang kehidupan mereka atas wajibnya mengangkat seorang khalifah. Walaupun mereka berbeda pendapat tentang siapa yang akan dipilih sebagai khalifah, namun mereka tak pernah berselisih tentang wajibnya mengangkat seorang khalifah. Baik setelah wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maupun setelah wafatnya salah seorang dari al-Khulafa ar-Rasyidin. Dari sini bisa dipahami bahwa ijma’ shahabat merupakan dalil yang sangat kuat dan jelas yang menunjukkan wajibnya mengangkat seorang khalifah.

Selain itu, menegakkan agama dan menerapkan hukum-hukum syara’ pada seluruh aspek kehidupan, duniawi dan ukhrawi, merupakan kewajiban bagi seluruh kaum muslimin berdasarkan dalil yang qath’isumber dan penunjukannya. Tidak mungkin mewujudkan ini semua kecuali adanya penguasa yang menerapkannya. Dari sini berlaku kaidah syar’iyyah ‘Maa laa yatimmu al-waajib illaa bihi fahuwa waajib’ . Tidak mungkin sempurna kewajiban penegakan agama dan penerapan hukum-hukum syara’ pada seluruh aspek kehidupan tanpa adanya khalifah yang menerapkannya, maka mengangkat seorang khalifah wajib juga hukumnya.[]

No comments:

Post a Comment

Adbox