Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Saturday, August 17, 2019

Khilafah Dianggap Barang Rongsokan?


dr. Wahidin

“Barang rongsokan mau dijual di Indonesia. Harus disikat habis”, ujar seorang Profesor bidang perminyakan dari Saudi Arabia dalam sebuah acara di kawasan Sentul. Pernyataan ini menyusul penjelasannya bahwa khilafah yang di Indonesia seperti HTI, di Negara asalnya sudah tidak laku dijual. “Agenda politik harus mencerdaskan masyarakat demi tujuan utama, yakni kemajuan bangsa serta kesejahteraan rakyat, dan bukan sebaliknya menjurus kepada perpecahan.

“Kelompok penebar kebencian disertai kekerasan dan radikal ini kerap mengkafir-kafirkan orang. Seseorang masuk surga atau tidak, itu karena akhlaknya dan bukan yang lain. Ini orang kalau tidak sejalan dengan mereka langsung kafir,” timpal mantan seorang petinggi aparat . “Perbuatan kelompok ini berbahaya. Jika tidak mau terima Pancasila, silakan keluar dari Indonesia,” lanjutnya.

Seolah mereka sedang menceritakan bahwa di Indonesia ini ada sekelompok orang yang tergabung dalam organisasi yang disebut HTI (Hizbut Tahrir Indonesia). HTI ini berasal dari luar negeri. Di Negara asalnya khilafah -yang dianggap barang dagangan- tidak laku dijual, maka disebut sebagai barang rongsokan. HTI ini menginginkan khilafah sehingga dikatakan tidak mau menerima Pancasila. HTI bergerak di bidang politik yang tidak mencerdaskan masyarakat dan tidak akan mencapai tujuan utama masyarakat, yaitu kemajuan bangsa dan kesejahteraan rakyat. HTI selalu menjurus kepada perpecahan.

HTI menyebar kebencian disertai kekerasan dan HTI juga radikal. HTI kerap mengkafirkan orang, sehingga orang yang dikafirkan tidak masuk surga. Padahal seseorang masuk surga karena akhlaknya, bukan karena aspek yang lain. Perbuatan kelompok HTI ini berbahaya. Jika HTI tidak mau menerima Pancasila, silakan keluar dari Indonesia.

Itulah barangkali narasi yang dicoba dibangun oleh beberapa orang penting ini.
HTI adalah organisasi yang berusaha mewujudkan kehidupan Islam, dimana hukum Islam dapat dijalankan secara kafah oleh ummat. Ini tidak lain adalah perintah dari Allah SWT.

“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam agama Islam secara kafah (totalitas).” (QS.Albaqarah; 208). Secara ada banyak bagian dari ajaran Agama Islam yang tidak dapat berjalan efektif tanpa peran sebuah negara. Artinya dibutuhkan adanya negara yang menjamin pelaksanaan hukum tersebut. Misalnya kewajiban syariah berupa pemberlakuan mata uang emas dan perak, kewajiban zakat dengan berbagai macam pembahasan cabangnya, pelaksanaan sistem Ekonomi Islam, Pidana dan Perdata Islam, serta konsep Politik Luar Negeri Islam yang menyebarkan Islam sebagai agama yang penuh dengan rahmat ke seluruh penjuru dunia dengan jalan dakwah dan jihad. Maka untuk dapat menjamin berlakunya hal itu dibutuhkan keberadaan sebuah negara. Dan HTI mengusahakan agar negara kita ini menjadi negara yang mau menjamin pelaksanaan hukum yang penuh dengan rahmat bagi seluruh alam tersebut.

 Usaha yang dilakukan HTI sebatas mencontoh Rasulullah SAW, yakni dakwah Islam. HTI mencoba mengenalkan konsep tersebut dan meyakinkan pihak-pihak yang didakwahi. Langkah yang ditempunya adalah menunjukkan fakta buruk yang terjadi akibat hukum yang dipakai bukan hukum syariah dan kemudian membandingkan secara teoritis dan empiris dengan kondisi zaman kekhilafahan dahulu ketika hukum yang dipakai adalah syariah Islam. Semua proses dakwah itu dijalani dengan santun, berakhlak, argumentatif, tidak mengkafirkan yang mukmin, dan tanpa pemaksaan apalagi kekerasan. Tidak lebih dari itu. HTI tidak pernah bersikap intoleran dengan membubarkan pengajian dari pihak yang dianggap berbeda, terlebih menyuruh orang yang berbeda dengan HTI untuk keluar dari Indonesia.

Jika upaya dakwah ini berhasil, akan ada banyak orang yang mengenal dan meyakini kebaikan dan kehandalan konsep itu maka akan terjadi perubahan. Hukum syariah yang penuh dengan rahmat akan dapat dilaksanakan. Jika hal ini terjadi maka kerahmatan Islam sebagai agama yang dibawa oleh Kanjeng Nabi Muhammad SSAW (QS Al-anbiya 107) akan dapat dirasakan oleh segenap manusia. Senada dengan ayat ini Allah akan membuka pintu barokah dari langit dan bumi jika saja penduduk negeri beriman dan bertaqwa (QS al-a’raf, 96). Penduduk negeri yang beriman dan bertaqwa meniscayakan tidak adanya korupsi ataupun jual-beli jabatan, sehingga tidak ada pejabat sekelas menteri yang ditangkap KPK, tidak ada pejabat parta yang pamitan ketika tidak hadir di kongres karena sedang berurusan dengan KPK, tidak ada ketua umum partai yang ngotot minta jatah menteri, dan tidak ada dana haji yang dipakai membanguninfrastruktur. Justru kemajuan bangsa dan kesejahteraan rakyat akan terwujud. Kemajuan yang dimaksud sudah pernah terwujud pada saat ummat Islam menjalani konsep tersebut dalam negara yang oleh Rasulullah disebut sebagai khilafah. Jadi negara khilafah adalah negara yang menjamin pelaksanaan semua hukum Syariah Islam yang rohmatanan lil alamin tersebut. Ini adalah negara warisan Kanjeng Nabi Muhammad yang dilestarikan oleh para Khulafaur Rasyidin.

Dimana mengenai hal ini beliau SAW pernah berpesan agar selain mengikuti sunnah beliau juga sunnah Khulafaur Rasyidin:

Dari Abd Rohman bin Amr al-Sulami, Sesungguhnya ia mendengar al-Irbadh bin Sariyah berkata, Rasulullah Saw. menasehati kami, Kalian wajib berpegang teguh pada sunnahku (apa yang aku ajarkan) dan perilaku al-Khulafa’ al-Rasyidin yang mendapatkan petunjuk). (Musnad Ahmad Bin Hambal, 16519).

Jadi berdasarkan fakta tersebut, apakah layak HTI yang berusaha mengembalikan kehidupan Islam yang diperintahkan oleh Kanjeng Nabi dituduh berbahaya? Khilafah yang merupakan warisan beliau dan diteruskan oleh Khulafaur Rasyidin dituduh sebagai barang rongsokan? Syariah Islam yang akan diterapkan diragukan kehandalannya  akan mampu mewujudkan kemajuan dan kesejahteraan rakyat dan malah dituduh memecah-belah? Apakah selama ini dengan sistem yang tidak merujuk kepada syariah Islam Indonesia dapat melampaui capaian Khulafaur Rasyidin? Dan yang tidak kalah menarik ditanyakan adalah apakah mereka sedang bermaksud mengatakan bahwa ada suatu ajaran Islam, ajaran rasulullah SAW, ajaran Allah SWT Sang Pencipta alam semesta yang dianggap bertentangan dengan Pancasila? Maka seandainya benar mereka menyatakan bahwa ajaran itu bertentangan dengan Pancasila dan Anda diminta memilih, manakah pilihan Anda?

No comments:

Post a Comment

Adbox