Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Friday, August 2, 2019

Kampus You TuBe, Haruskah?


Oleh : Anna Ummu Maryam
(Pegiat Literasi Aceh )

Sebuah kampus di Provinsi Aceh membuka jalur pendaftaran mahasiswa baru khusus Youtuber. Sebanyak 10 Youtuber terpilih berhak mendapat beasiswa penuh di kampus ini.

Keran beasiswa khusus Youtuber dibuka Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Bina Bangsa Getsempena (STKIP BBG). Tujuannya untuk menjaring generasi milenial bertalenta yang dapat berkontibusi bagi dunia pendidikan.
Namun, Wakil Ketua III Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerja Sama, Regina Rahmi mengatakan ada syarat dan ketentuan agar pendaftar lulus seleksi. Salah satunya memiliki konten yang bertema pendidikan.

"Ada kriteria dan indikator. Nanti ada tim ahli yang menyeleksi. Tidak tertutup kemungkinan yang konten dan isinya bertema general, nanti di tahapan wawancara kita tanya mengapa memilih konten tersebut," ungkap Regina Senin malam.(Liputan6.Com, 1/7/2019).

Tantangan Era Teknologi, Kebutuhan Atau Pemaksaan
Tak bisa dipungkiri bahwa kita memasuki era Milenial dengan  kecanggihan teknologi yang menuntut para generasi melek teknologi. Segala informasi menjadi sangat mudah dan praktis untuk didapati dari segala sumber yang telah disediakan media on line.

Namun kita tidak boleh lupa bahwa kebutuhan kita pada teknologi bukan lah berjalan alami tetapi sebuah keterpaksaan yang diharuskan oleh dunia global pada negeri maju dan berkembang.

Keterpaksaan dan ketergantungan manusia pada hari ini adalah ulah para kapitalis dunia yang ingin memiliki akses pada negeri - negeri dan memperoleh keuntungan besar dari bisnis mereka di segala bentuk pasar secara internasional.

Terbukti intervensi para penjajah asing ini sedang diterapkan di berbagai belahan dunia dan tak terkecuali juga negeri - negeri muslim.

Dan seolah olah manusia memang wajib memahami dan memiliki segala bentuk teknologi yang telah dirancang dengan sebaik mungkin oleh perusahaan global.
Pemerintah saat inipun terus membahas soal industri generasi ke-empat atau industri 4.0 bahkan telah meresmikan peta jalan atau roadmap yang disebut Making Indonesia 4.0.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartato pun menjelaskan apa yang dimaksud dengan revolusi industri 4.0 serta tujuan dari adanya industri tersebut
Dia mengatakan, sejatinya revolusi industri ini dimulai sejak zaman pemerintahan Hindia-Belanda. Saat itu, revolusi industri pertama hadir dalam konteks steam engine atau mesin uap.

"Kemudian revolusi industri kedua pada saat otomotif general fort mebuat line production Indonesia masih hinda-Belanda. Nah revolusi industri ketiga diawali di tahun 90-an itu dengan mulai otomatisasi dan pada watu itu terjadi globalisasi," kata Airlangga di JCC Senayan, Jakarta (Finance.detik.Com, 4/4/2018).

Maka terlihatlah oleh kita bagaimana upaya barat yang menjadikan programnya dijalankan oleh negeri - negeri yang ada di Dunia.

Sistem kapitalis sekuler yang diterapkan di negeri ini menjadi sumber program ini terus berkembang. Karena dalam sistem ini kebebasan dan standar baik buruk diberikan wewenangnya secara penuh pada manusia semata tanpa keterlibatan peraturan agama sedikitpun.
Sehingga segala sisi kehidupan adalah untuk memperoleh keuntungan besar bagi global dalam mendapatkan lahan usaha dan meraup keuntungan sebesar besarnya dari perusahaan yang mereka kelola.

Namun anehnya hal ini seolah tidak dihiraukan. Bahkan banyak negeri yang membuka kesempatan sebesar - besarnya pada program para penjajah asing ini.
Era milenial dengan teknologi tanpa batas inilah sebenarnya yang dikhawatirkan oleh berbagai pihak adalah kesalahan dalam menggunakan teknologi sehingga mencoba menjawab tantangan tersebut dengan mendirikan perkuliahan di berbagai wilayah tak terkecuali Aceh.

Sebenarnya akses teknologi yang tanpa batas ini haruslah dikontrol secara baik dengan pembinaan oleh pemerintah pusat dan daerah. Karena jika tidak dikelola dengan bijaksana maka akan membawa generasi menuju kehancuran.

Teknologi memiliki dua sisi yang harusnya diantisipasi. Dia bisa menjadi kebaikan jika penggunanya memahami tujuan teknologi juga menjadi keburukan bahkan menghantarkan pada kematian.

Adanya kampus you tube bagi anak milenial di Aceh saat ini tentu haruslah dengan pertimbangan yang matang. Bukan latah apalagi gegabah. Dan juga pengarahan dan pengontrolan dilakukan dibawa pada arah yang benar sesuai dengan islam oleh pemerintah pada pihak kampus.
Karena ini sebenarnya adalah potensi yang dimiliki dan dikelola demi kebaikan dan perkembangan masa depan. Bukan hanya peluang untuk dikomersilkan dengan kedok menggali potensi generasi milenial.

/Teknologi Dalam Timbangan Islam/

Islam hadir secara sempurna mengatur kehidupan manusia agar serasi dan bahagia. Begitulah Islam memandang teknologi yang dipergunakan manusia dari masa Nabi Saw hingga dilanjutkan oleh para sahabat dan khilafah setelahnya.

Pada masa pemerintahan Islam banyak didirikan berbagai kampus dengan fasilitas teknologi terlengkap yang dapat dinikmati setiap generasi secara gratis. Sehingga wajar melahirkan generasi yang sangat ahli di bidangnya masing-masing.

Seperti dalam hal pemetaan bumi. Upaya para intelektual Muslim saat itu untuk memetakan bumi—beserta informasi mengenai keadaan alam, hasil bumi, dan barang tambangnya—telah dimulai pada abad ke-9 M.

Al-Muqaddasi (Abu ‘Abdillah) yang hidup pada tahun 985 M melakukan pengembaraan panjang mendatangi berbagai negeri hingga 20 tahun lamanya. Tujuannya adalah untuk menyusun ensiklopedia sederhana mengenai ilmu bumi. 
Pada akhir abad ke-11 M, Al-Biruni mengekspose bukunya tentang ilmu bumi Rusia dan Eropa Utara. Ia adalah Abu Raihan Biruni yang lahir di negara bagian Khurasan. Ia belajar ilmu pasti, astronomi, kedokteran, matematika, sejarah, serta ilmu tentang bangsa India dan Yunani. Ia sering melakukan korespondensi dengan Ibn Sina.
Dan banyak lagi teknologi canggih yang digunakan dari hasil generasi cemerlang pada masa kejayaan Islam. Pemerintah sangat mengapresiasi setiap karya ilmuan yaitu dengan menggantinya dengan emas seberat buku yang ditulis.

Negara juga memberikan pencerdasan kepada setiap generasi bahwa teknologi adalah untuk memberikan kemudahan dalam aktivitas manusia dan juga dalam meningkatkan keimanan kepada Allah SWT.
Maka hal inilah yang menjadi landasan pengembangan teknologi yang dikembangkan dalam segala bentuknya oleh ilmuan muda pada masanya. Sehingga jauh dari pelencengan dan komersil semata.
Maka dalam Islam tiada pelarangan pendirian   kampus dalam penggunaan dan pengembangan teknologi namun tentunya perlu tujuan yang jelas yaitu sebagai sarana mempermudah urusan manusia dan menambah keimanan kepada Allah SWT.[]

No comments:

Post a Comment

Adbox