Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Sunday, August 18, 2019

Indonesia Dalam Cengkeraman Kolonialisme Dan Imperialisme Modern


Aang Junaedi, M.EI

/Terminologi/

Kolonialisme berasal dari kata colonia yang berarti pertanian atau pemukiman. Secara istilah diartikan sebagai pendudukan atas lahan-lahan pertanian atau pemukiman oleh sebuah bangsa terhadap bangsa lain. Kondisi tersebut sudah tidak kita jumpai secara kasat mata pada saat ini. Akan tetapi menurut Edward Said dalam Orientalism menyebutkan bahwa penjajahan secara fisik tidak kita jumpai setelah berakhirnya Perang Dunia II akan tetapi penjajahan modern masih tetap ada.

Kolonialisme Modern bisa kita deteksi melalui 2 kondisi, yaitu: Pertama, daerah-daerah koloni/jajahan tidak hanya membayar upeti, tetapi juga didominasi/diatur struktur perekonomiannya. Kedua, daerah koloni dipaksa mengkonsumsi produk negara induk. (lihat Mudji Sutrisno, dalam Hermeneutika Pascakolonial). Lebih lanjut, Mudji menjelaskan kedua hal tersebut menjadi ‘bidan’ lahirnya kapitalisme di bidang ekonomi. Dalam hal budaya negara dipaksa/terpaksa mengikuti budaya negara induk (di’barat’kan). Kolonialisme modern salah satunya juga berbentuk expansi teknologi dan pemikiran Barat terhadap negara-negara dunia ketiga atau negara berkembang. Frantz Fanon, menjelaskan bahwa kolonialisme modern menimbulkan ’dehumanization’ pada rakyat di daerah koloni, yaitu ditanamkannya kompleks inferioritas.

Sedangkan imperialisme terjadi pada saat pemerintah secara secara sistematis menjadi antek dan komprador negara asing dalam merealisasikan misinya.  Kondisi ini yang sangat bisa kita rasakan, hegemoni kapitalisme modern sangat tampak pada 2 hal; Pertama, aparatur negara yang represif melalui kekuatan militer dan polisi. Kedua, aparatur negara yang memaksakan ideologi (kapitalisme) dalam dunia sekolah, media dan politik. Kedua hal tersebut diterapkan secara masif sehingga berpuncak pada imperialisme (Louis Althusser, dalam The Highest Stage of Capitalism, 1947).

Jadi eksistensi kolonialisme modern yang berpuncak pada imperialisme suatu bangsa terhadap bangsa lain jelas bisa kita temukan. Meskipun wujudnya bukan penjajahan fisik dalam bentuk pendudukan. Kolonialisme sangat nyata dilakukan oleh sebuah negara dengan membentuk pengaruh global meliputi; penetrasi bidang ekonomi, pengendalian pasar, oligopoli, serta tekanan atau intervensi politik.

/Siapa saja para kolonialis dan imperialis itu?/

Berdasarkan terminologi diatas, tidak salah jika kolonialis dan imperialis modern saat ini ditujukan pada AS dan sekutunya. Melalui World Bank, IMF, PBB, Perdagangan Bebas, Demokrasi, Isu Pluralisme, Isu Feminisme, Isu HAM, Isu Globalisasi, Isu Terorisme dan isu-isu lainnya menjadi instrumen hegemoni ideologi kapitalis sekuler. Jerry D. Gray mengungkapkan adanya organisasi-organisasi dunia dalam proyek rahasia new world order atau novus ordo seclorum yang anggotanya terdiri dari; pejabat pemerintahan (Presiden) serta organisasi dunia seperti; IMF, World Bank, Central Banks, Federal Reserve, dan lain-lain. Sebuah tatanan dunia baru berbasis kepuasan-kepuasan individu secara materi semata dan menjauhkan manusia dari spiritualitas semestinya. Hegemoni tersebut dilakukan dengan cara sangat halus melalui nota kesepakatan maupun kerjasama, juga dengan cara kasar seperti invasi dan embargo (lihat Art Of Deception, 2011).

Organisasi konspirasi tersebut dibentuk dalam rangka:
1. Mengendalikan struktur perekonomian negara jajahan
2. Memperluas pasar industri AS (senjata, obat-obat kimia, industri, dll) di negara-negara jajahan
3. Mewarnai budaya bangsa lain sehingga budaya AS dan Barat menjadi pusat perkembangan budaya yang dipaksakan untuk diikuti
4. Menanamkan mental inferior negara-negara miskin sehingga seburuk apapun sikap dan kondisi negara imeprialis tetap dianggap super power atau adikuasa
5. Menimbulkan ketakutan pada negara-negara miskin melalui kekuatan militer/senjata, sehingga AS dan Barat tetap dianggap sebagai negara yang mustahil ditaklukkan
6. Memasukkan ideologi kapitalisme dalam ruang-ruang kurikulum, media, politik bahkan keluarga, sehingga ideologi kapitalisme menjadi Tuhan baru yang selalu menjadi rujukan.

/Indonesia dalam Cengkeraman Kolonialisme dan Imperialisme/

Indonesia sebagai salah satu negara berkembang yang memiliki kekayaan SDA melimpah   disinyalir mengalami kolonialisasi dan imperialisasi modern tersebut. Hal itu ditandai dengan fakta-fakta sebagai berikut:

1. Dipengaruhinya struktur perekonomian kita oleh intervensi IMF, dalam bentuk hutang luar negeri, dicabutnya subsidi dan prioritas APBN bagi belanja rutin yang hanya menguntungkan pengusaha (kebijakan BLBI dsb) serta kebijakan atas acuan perekonomian via pasar modal, bursa efek dan bursa saham bukan sektor riil. Termasuk dalam hal ini adalah privatisasi Badan Usaha Milik Negara, termasuk BUMN Strategis seperti Pabrik Baja, Telekomunikasi, Energi, Perbankan, dll.

2. Melalui pasar bebas, produk-produk negara asing begitu mudahnya masuk ke dalam negeri, sehingga membunuh kehidupan industri dan produk-produk dalam negeri yang cenderung kalah bersaing dari segi mutu dan harga.

3. Kebijakan penanaman modal asing. termasuk dalam hal ini adalah penguasaan SDA asing di Indonesia seperti; tambang emas oleh Freeport, tambang minyak dan gas oleh Chevron, Newmount, Conoco Philips, Petrochina, British Petroleum, dan lain-lain. Akibat PMA ini, Pertamina hanya mengelola sumber migas di Indonesia sebesar 16%.

3. Melalui opini globalisasi, masyarakat Indonesia khususnya generasi muda menjadi latah. Maraknya pergaulan bebas, budaya berpakaian tapi telanjang, narkoba, pornografi, budaya pop, dan lain sebagainya.

4. Mental inferior (rendah diri) tidak hanya tertanam dalam masyarakat Indonesia, tetapi juga para pejabatnya. Misalnya kebanggaan yang berlebihan terhadap negara asing, hingga menjadikan takut atau tunduk terhadap intervensi negara asing.

5. Diamnya pemerintah Indonesia terhadap arogansi AS menginvasi Iraq, Afganistan, Pakistan serta negara miskin lainnya yang dianggap membahayakan dan mengganggu kepentingan AS dan sekutunya. Walaupun kita pahami bahwa politik bebas aktif kita juga memiliki misi menjaga perdamaian dunia.

Di bidang pendidikan, media dan politik semakin tampak hegemoni AS dengan ideologi kapitalisme-sekulernya. Kurikulum pendidikan materialistik (jauh dari nuansa agama) kalaupun ada hanya sedikit dan itupun terpisah/diluar sistem, biaya pendidikan yang mahal dan berorientasi pada profit sehingga lembaga pendidikan saat ini tak ubahnya lembaga bisnis. Media cetak maupun elektronik yang mengkampanyekan gaya hidup hedonis, syirik dan maksiat semakin tumbuh, karena hanya mengutamakan profit sehingga jauh dari unsur mendidik dan mencerahkan. Lebih-lebih sistem politik ’high cost’ (demokrasi) kita yang semakin hari kian kusut karena hanya menciptakan pemimpin, wakil rakyat, birokrat dan budaya korup.

Akibat cengkraman kolonialis dan imperialis tersebut antara lain:
1. Kemiskinan, kesenjangan sosial, dan pengangguran
2. Hutang luar negeri semakin melambung
3. Kekayaan yang banyak dinikmati negara asing
4. Meningkatnya kriminalitas dan patologi sosial
5. Generasi yang hedonis, dan pemimpin yang curang dan bermental korup

Selamatkan Indonesia dengan Syariah
Islam tidak mengenal istilah kolonialisme atau penjajahan. Sejak berdirinya Daulah Madinah oleh Rasulullah SAW., kemudian dilanjutkan oleh Khulafa’ur Rasyidin dan ke-Khilafahan Mu’awiyyah, Abbasyiah, Fathimiyah, hingga Turki Utsmaniy yang dihapuskan pada tahun 1924 M, istilah penjajahan sama sekali tidak dipakai dalam proses pengembangan (dakwah) Islam. Pengembangan atau dakwah Islam bersifat futuhat yaitu pembebasan terhadap negeri-negeri lain, hal itu dilakukan untuk menyingkirkan kekuatan dan kekuasaan penghadang sehingga masyarakat di negeri tersebut terbebas dari tekanan agar mudah dibimbing oleh akalnya dan ditunjuki fitrahnya. Sehingga mereka akhirnya memeluk agama Allah berbondong-bondong. (Taqiyuddin an-Nabhani, dalam Nizhamul Islam).

Semoga para pemimpin kita, aparat kita, para tokoh, para ulama dan masyarakat kita menyadari bahwa negeri ini sedang berada dalam cengkeraman kolonialisme dan imperialisme modern. Kesadaran tersebut akan menjadi dasar bagi bangsa kita untuk melakukan perubahan. Upaya perubahan tersebut harus dilakukan secara mendasar dan bersifat ideologis melalui:
Memberikan kesadaran kepada masyarakat tentang kondisi yang sesungguhnya. Memberikan kesadaran yang komprehensif bahwa segala bentuk kolonialisme yang berdampak pada kemiskinan, kesenjangan, dehumanisasi dan patologi sosial harus dihapuskan dan menggantinya dengan peradaban yang mulia, bertauhid dan mesejahterakan melalui sebuah perjuangan yang sungguh-sungguh. Allah SWT berfirman: ”Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar Ra’du:11).

Segera menerapkan sistem yang mampu menjamin terciptanya tatanan masyarakat yang mulia dan benar, tidak hanya di dunia tetapi juga di akhirat. Yaitu sistem dan peraturan Allah SWT, karena Dia-lah yang telah menciptakan manusia, hidup, alam semesta dan kehidupan sebelum maupun sesudah hidup. ”Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS. Al Maidah: 50). Rasulullah SAW, telah memberikan contoh kepada kita metode menerapkan hukum Allah, yaitu melalui institusi Daulah Islamiyyah atau Khilafah Islamiyah. Khilafah Islamiyah tidak hanya berfungsi sebagai institusi yang mampu menyejahterakan dan memakmurkan rakyat, tetapi lebih urgen dari itu Khilafah mengemban amanah untuk menjaga aqidah, tauhid manusia serta menerapkan peraturan yang membawa manusia pada peradaban yang mulia, bermartabat dan mencerahkan. Sehingga menjadi rahmat bagi seluruh alam (umat manusia). Allah SWT., berfirman: ”Jika saja penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi.” (QS. Al-A’raf: 96).[]

No comments:

Post a Comment

Adbox