Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Tuesday, August 13, 2019

Haru Biru, Surat Cinta Sang Khalifah



Oleh : Johandi Arisca

Tak ada kalimat yang terucap selain rasa syukur karena Allah telah menganugrahkan pada manusia sebuah rasa yang dinamakan cinta.

Sebab atas dorongan cinta manusia mampu berbuat melebihi kemampuan yang biasa ia lakukan, dan mendapatkan second wind (angin kedua) ketika ia telah putus asa bahkan mampu membuat seseorang menehan derita hanya untuk yang dia cintai.

Lihat saja bagaimana perjuangan seorang ibu ketika ia melahirkan anaknya, ia menahan begitu hebatnya rasa sakit, tak menghiraukan banyaknya darah yang mengalir dab mungkin dia juga tak mempedulikan kelangsungan hidupnya sendiri demi sang buah hati.

Begitu luar biasanya perasaan ini hingga pembahsan tentang cinta itu tak pandang usia bahkan tak akan lekang hingga akhir zaman.

Namun ditengah kehidupan kapitalistik seperti sekarang ini cinta hanya dianggap sebagai hubungan antara laki-laki dan perempuan semata

Bahkan dipersempit lagi menjadi kisah asmara yang mengaharu biru antara dua abg yang tengah jatuh cinta dengan bumbu-bumbu mellow drama yang membungkusnya.

Padahal jika kita melihatnya lebih luas, cinta itu tidak terbatas pada dua insan yang tengah dimabuk asmara melainkan bisa jauh lebih luas lagi hingga ranah pemerintahan.

Salah satu diantaranya adalah kisah kecintaan Khalifah kedua dari Khilafah Utsmaniyah yaitu Sultan Sulaiman Al-Qonuni kepada rakyatnya.

Suatu hari Sultan terbesar di Khilafah Turki Utsmani ini mendengar bahwa di Prancis, masyarakatnya menciptakan dansa antara para laki-laki dan kaum perempuan.

Sulaiman Al Qonuni mengirim surat kepada raja Prancis: "Telah sampai padaku berita bahwa kalian membuat dansa mesum antara laki-laki dan perempuan.

JIKA SURATKU INI TELAH SAMPAI PADAMU, PILIHANNYA: KALIAN HENTIKAN SENDIRI PERBUATAN MESUM ITU ATAU AKU DATANG KEPADA KALIAN DAN AKU HANCURKAN NEGERI KALIAN."

Setelah surat itu sampai, dansa di Prancis berhenti selama 100 tahun. Ini menunjukkan betapa besarnya rasa cinta sang penguasa kepada rakyatnya.

Dimana sang sultan melindungi rakyatnya dari budaya kufur dengan segenap kekuatannya. Namun setelah sang Khalifah dan sistem kepemimpinannya pergi tak ada lagi yang melindungi umat Islam

Kini umat Islam tak hanya terkena badai besar budaya kufur, bahkan darah kaum muslimin seolah menjadi tak berharga.

Lantas sampai kapan kita berharap organisasi sampah macam PBB mau membela darah kaum muslimin?

Sadarlah bahwa kita adalah kaum yang dimuliakan dengan Islam dan dihinakan ketika kita meninggalkannya.[]

No comments:

Post a Comment

Adbox