Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Wednesday, August 21, 2019

Dukungan Untuk Ustadz Heru Ivan Wijaya di Tengah Krisis Keadilan di Negara Sekuler


Boedihardjo, S.H.I.
(LBH Pelita Umat Korwil Jatim)

Setelah menjadi tersangka kasus ujaran kebencian, Ustadz Heru Ivan Wijaya akhirnya ditahan ke Lapas Klas IIB Mojokerto. Ulama yang getol melakukan amar ma’ruf nahi mungkar ini sebelumnya beliau sempat menjalani pemeriksaan di ruang Seksi Pidana Umum Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Mojokerto, Jalan RA Basuni, Kecamatan Sooko. Sekitar pukul 13.00 WIB, beliau dibawa ke Lapas Klas IIB Mojokerto di Jalan Taman Siswa menggunakan mobil tahanan.

Kasus ujaran kebencian yang menjerat beliau selama ini ditangani Polres Mojokerto. pasal yang akan didakwakan terhadap Heru dalam persidangan Kamis, 15 Agustus 2019 tetap sama dengan pasal yang disangkakan oleh penyidik Polres Mojokerto, yaitu pasal 45 A juncto pasal 28 ayat (2) UU nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan Undang-undang No. 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Ustadz Heru sosok ulama yang ikhlas, jelas, tegas, lurus dan tulus dalam menyampaikan hukum Islam, secara sepihak dijadikan tersangka dijerat dengan Pasal UU ITE. Terkesan malprosedur, pihak aparat tak bergeming, tetap melanjutkan proses peradilan, meski sudah diajukan praperadilan oleh LBH Pelita Umat selaku Kuasa dan Penasehat hukum. Inilah indikasi nyata dari penguasa zalim dan represif terhadap tokoh Islam. Penegakan hukum dilakukan secara tebang pilih. Jargon “Suka-Suka kami” menjadi dasar dalam memproses laporan, hukum tajam kepada lawan dan tumpul kepada lawan politik.

Apa yang beliau lakukan (postingan) semua terkait dengan fakta dan opini yang berkembang saat itu, tidak ada maksud menyebarkan kebencian pada ormas tertentu. Aktivitas dakwah amar ma’ruf nahyi munkar yang dilakukan Kyai Heru Ilyasa semata-mata hanya menyampaikan risalah Islam sehingga sungguh tak layak untuk dikriminalisasi. Ingat, sudah seharusnya negeri ini meninggalkan spirit represifme era Orba.

di awal Orde Baru umat Islam punya jasa besar dalam ikut membantu pemerintah memberantas Partai Komunis Indonesia (PKI). Rupanya kekuatan Islam ini tak diperbolehkan untuk terus menerus berkembang menjadi sebuah arus besar yang dianggap bisa 'merongrong' wibawa Orde Baru saat itu. Melalui tangan Ali Moertopo dan kemudian dilanjutkan oleh LB Moerdani berbagai skenario dilakukan untuk melemahkan kekuatan Islam saat itu.

Almarhum Husein Umar, generasi Masyumi, pernah menyebut LB Moerdani-lah yang menjadikan umat Islam berhadap-hadapan dengan militer dan pemerintah. di mata pemerintah dan militer waktu itu, umat Islam digolongkan sebagai ancaman. Umat Islam dianggap sebagai ekstrim kanan. di masa itu pula, banyak aktivis Islam ditangkap dan diculik tanpa dasar hukum. Pada tahun 1983-1985, Moerdani menggalakkan kebijakan bahwa semua ormas dan parpol harus berasaskan Pancasila. Peristiwa menarik sesudahnya, yaitu kasus “lembaran putih”.

“Lembaran putih” merupakan surat protes yang dikeluarkan oleh Petisi 50 dan ditandatangani oleh sejumlah tokoh Islam. Peristiwa ini dijadikan alasan oleh Moerdani untuk menangkap para penceramah yang dianggap garis keras seperti AM Fatwa, Abdul Qadir Jailani, Tasrif Tuasikal, HM Sanusi, HR Dharsono, Oesmany El Hamidy, Mawardi Noor, Tonie Ardie, dan lain-lain. Akankah kriminalisasi ulama saat ini merupakan pengulangan modus LB Moerdani dalam bentuk baru? Mungkinkah kasus Ust Heru Elyasa ini hanya test case, dan jika umat bungkam kriminalisasi terhadap ulama akan semakin masif?[]

No comments:

Post a Comment

Adbox