Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Friday, August 2, 2019

BIAYA KULIAH MAHAL, MAHASISWA PROTES?



© Adam Syailindra
_(Koordinator Forum Aspirasi Rakyat)_

_"Dengan makin bertambahnya beban hidup, sempitnya pekerjaan, meningkatnya tuntutan pasar, bisa-bisa orang miskin jaman sekarang dilarang kuliah dan jadi faktor bunuh diri"_. Itulah sebuah pernyataan yang cukup mengejutkan dalam sebuah diskusi renyah dikalangan anak muda. Dipantik dengan informasi
Soal Bunuh Diri Mahasiswa Unpad tahun 2018, skripsi juga bisa jadi beban psikologis (detik.com) serta adanya 4 mahasiswa bunuh diri akibat biaya kuliah mahal (okezone.com). Diskusi hangat itu hadir guna membahas perkuliahan semester awal tahun 2019 yang akan segera dimulai.

Dapat dibaca bahwa setelah melalui proses seleksi penerimaan mahasiswa baru yang dinyatakan lolos, hal selanjutnya yang harus dilakukan calon mahasiswa adalah melakukan registrasi ulang pembayaran Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP). Pada proses ini, ada tahapan penentuan SPP yang biasa disebut Uang Kuliah Tunggal (UKT), Biaya Operasional Pendidikan (BOP) maupun Biaya Kuliah Tunggal (BKT)  yang besarannya ditentukan oleh sejumlah aspek, tergantung ketentuan masing-masing kampus atau universitas.

Besaran biaya pendidikan menurut berbagai sumber  mulai dari yang murah Rp 0,- hingga ada sebuah kampus yang biaya pendidikan per semester sebesar Rp 23.249.000/semester. Malah ada juga empat tahun kuliah di jurusan kedokteran sampai lulus untuk biaya perkuliahan  berkisar Rp 800 jutaan. Itu belum termasuk biaya praktik dan segala macam kebutuhan lain selama perkuliahan berlangsung atau setara harga 1 cluster rumah di Jakarta (moneysmart.id)

Dengan variasi biaya pendidikan diatas, patut juga dikritisi apakah sudah cukup memberikan dampak perubahan sosial, ekonomi politik yang lebih baik dan ideal bagi bangsa Indonesia? Pada saat yang bersamaan mahasiswa baru dan para orang tua pun mulai berjikabu dan bersiap memacu denyut segala macam aktifitas guna memompa perputaran keuangan keluarga. Juga perlu diperhatikan jangan sampai mahasiswa mampu bayar berapapun biaya kuliahnya namun nihil ilmu atau skill jurusan yang dimasuki, sehingga kasus salah suntik hingga kasus salah mendidik bisa dihapus.

Ketika biaya kuliah semakin tak dijangkau oleh masyarakat dan negara abai dalam mendampingi proses kepemimpinan mahasiswa untuk jadikan generasi penerus menjadi insan mulia bertaqwa,
ini menjadi alarm bahaya bagi mahasiswa baru di Indonesia yang kini mau tidak mau harus berjibaku ditengah arus deras pergaulan bebas dan pemikiran yang kian liberal.

Perlu diingat bahwa lebih seribu tahun yang lalu, universitas paling hebat di dunia ada di Maroko, Gundishapur, Baghdad, Kufah, Isfahan, Cordoba, Alexandria, Mesir, Damaskus dan beberapa kota besar Islam lainnya. Perguruan tinggi di luar khilafah Islam hanya ada di Konstantinopel yang saat itu masih menjadi ibukota Romawi Byzantium, di Kaifeng ibukota China atau di Nalanda, India. Di Eropa Barat dan Amerika belum ada perguruan tinggi.

Berbagai bukti sejarah menunjukkan bahwa dalam sistem Islam bidang pendidikan, Khilafah Islam sangat memperhatikan agar rakyatnya cerdas. Anak-anak dari semua kelas sosial mengunjungi pendidikan dasar yang terjangkau semua orang. Negaralah membayar para gurunya. Selain 80 sekolah umum Cordoba yang didirikan Khalifah Al-Hakam II pada 965 M, masih ada 27 sekolah khusus anak-anak miskin. Di Kairo, Al-Mansur Qalawun mendirikan sekolah anak yatim. Termasuk adanya anggaran  ransum makanan yang cukup tiap hari serta satu stel baju untuk musim dingin dan satu stel baju untuk musim panas (mediaumat.news)

Dengan berbagai fenomena dilapangan terkait biaya pendidikan kuliah yang mahal ditambah dengan moral mahasiswa yang kian memburuk, maka sudah saatnya sistem biaya pendidikan mahal harus ditinggalkan dan beralih kepada sistem pendidikan Islam yang terjangkau bahkan gratis guna menjamin kualitas pendidikan sekaligus mencetak mahasiswa berkepribadian mulia. Mewujudkan logistik kuliah yang memadai, didukung dengan transportasi yang mudah serta tempat tinggal ramah, nyaman dan berkah terhubung dengan fasilitas ibadah. Nah berbagai hal tersebut semua bisa terwujud hanya dengan rezim yang amanah serta didukung dengan sistem Islam yang komprehensif. Jadi gimana nih, ceritanya mahasiswa mau protes?[]

No comments:

Post a Comment

Adbox