Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Saturday, August 17, 2019

Astaghfirullah… Udah Profilling Mahasiswa, Bikin Kebijakan Impor Rektor Asing Pula…


Fajar Kurniawan
(Analis Senior PKAD)

"Kalau mereka terpapar radikalisme katakan tergabung HTI (Hizbut-Tahrir), maka nanti kita akan cek apakah benar, melalui profiling, kalau datanya sudah ada maka profiling-nya akan lebih cepat. Kalau memang itu terbukti, maka kita harus edukasi mereka, harus kembali ke NKRI," Tutur Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir sebagaimana dikutip dari cnnindonesia.com (31/07/2019).

Sebelumnya Ia meminta para rektor perguruan tinggi dan direktur politeknik untuk mendata nomor kontak dan media sosial dosen dan pegawai kampus serta mahasiswa. Itu berlaku di seluruh Indonesia untuk melacak penyebaran paham radikalisme.

Selama pengertian radikalisme itu tidak jelas, maka ini seperti menuduh atau menuding seseorang atau pihak lain dengan sesuatu yang tidak jelas juga. Selain itu patut diduga terdapat “kepentingan jahat” dibalik isu radikalisme dan fitnah terhadap organisasi dakwah HTI yang difitnah sebagai ormas terlarang. Patut diduga ada “kepentingan jahat” yang ingin menyamakan organisasi dakwah HTI dengan PKI (Partai Komunis Indonesia). Padahal organisasi dakwah HTI menyampaikan dakwah tidak pernah menggunakan kekerasan dan tidak pernah mengangkat senjata, semua dilakukan dengan cara damai mengajak umat agar taat Allah SWT dan mencintai Rasulullah Saw.

Mengingat organisasi dakwah HTI, tidak bisa disamakan dan/atau tidak bisa disejajarkan dengan PKI (Partai Komunis Indonesia) yang telah secara nyata melakukan pemberontakan. Sebagaimana Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (TAP MPRS) Nomor XXV/1966 tentang Pembubaran Partai Komunis Indonesia, Pernyataan Sebagai Organisasi Terlarang di seluruh Wilayah Negara Republik Indonesia Bagi Partai Komunis Indonesia Dan Larangan Setiap Kegiatan Untuk Menjabarkan Atau Mengembangkan Faham Atau Ajaran Komunisme/Marxisme-Leninisme. Kemudian diperkuat dengan TAP MPR Nomor V/MPRS/1973.

Tak cukup sampai di situ, jelang akhir masa jabatan sebagai Menristekdikti, Mohammad Nasir bersikeras merealisasikan gagasan penggunaan rektor asing. Tujuannya, meningkatkan daya saing melalui perbaikan ranking dan mutu perguruan tinggi (PT), khususnya kampus negeri (PTN). Manuver Menristekdikti itu memicu reaksi keras sebagian besar kalangan meski ada yang berusaha memberikan pembenaran untuk mengganti pola kepemimpinan PTN. Semestinya pihak pemerintah secara serius membuat suasana akademik dan rektor yang lama ini bisa meningkat kualitasnya, bukan mendatangkan rektor asing. Kemenristekdikti seharusnya meningkatkan kualitas dosen dan rektor Indonesia dengan cara mengoptimalkan pemberian insentif bagi mereka, bukan malah mengimpor pimpinan kampus dari luar negeri.

Kebijakan Nasir Ini sebagai lampu kuning bagi pendidikan tinggi di Indonesia. Berkaca dari adanya sekolah berstandar internasional setingkat sekolah dasar dan sekolah menengah, secara filosofi ada beberapa tujuan pendidikan yang harus diatur dan dijamin oleh pemerintah melalui turunan undang-undang (PP atau Permen). Lampu kuning yang kami maksud adalah standard pendidikan asing yang berbeda dengan standard pendidikan Indonesia. Bukan standard dalam arti standard kualitas pendidikannya, melainkan standard filosofis penanaman nilai falsafah ideologi dalam pendidikan. Penanaman nilai falsafah ideologi dalam pendidikan sangatlah penting. Tidak hanya belajar sebagai investasi pribadi yang bertujuan untuk memperkaya diri sendiri dan keluarga, namun belajar sebagai investasi bangsa yang bertujuan memperkaya anak muda calon pemimpin bangsa, membangun bangsa, dan memakmurkan bangsa serta masyarakatnya di masa depan.

Kita juga mewaspadai indikasi sekulerisasi lebihj massif pendidikan Indonesia, dibalik kebijakan ini. Mengingat sejak awal, kurikulum pendidikan di Indonesia adalah sekuler. Tindakan mensekulerkan Islam di dalam model negara bangsa lah yang menjadi sebab kemunduran Indonesia.[]

No comments:

Post a Comment

Adbox