Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Wednesday, July 24, 2019

Wahai Mahasiswa Milenial! Tinta Apa Yang Akan Kalian Pilih?



Oleh: Mujahid Wahyu
(Analis Ar roya Center)

Mahasiswa adalah motor perubahan. Demikianlah ungkapan yang sering kita dengar, atau minimal dengan redaksi lain ada yang menyatakan bahwa mahasiswa adalah "agent of change". Dalam pengantar buku Gerakan Perlawanan dari Masjid Kampus, keterlibatan dan peran mahasiswa dalam sejarah indonesia dinyatakan sebagai aktor yang paling mobil, dominan dan tak terbantahkan. Sejarah telah mencatat  bahwa mahasiswa sejak zaman pra kemerdekaan sampai zaman pasca kemerdekaan selalu menghiasi dan menginisiasi arus perjuangan dan perlawanan.  Lahirlah angkatan ’08, ’28, ’45, yang kemudian disusul dengan angkatan ’66, ’74, ’78 dan angkatan ’98.

Meskipun bersifat debatable, 20 mei adalah monumen perjuangan yang tidak terpisah dari peran dan aksi mahasiswa. Masa itu dianggap sebagai fase awal kebangkitan nasional yang diinisiasi tentunya oleh para pemuda dan mahasiswa. Puncak kristalisasi dari fase kebangkitan nasional tentunya ditorehkan lewat pergolakan perjuangan mahasiswa angkatan ’28 yang terkenal dengan monumen bersejarah lainnya yaitu sumpah pemuda. Monumen tersebut merupakan tanda bahwa mereka tidak memilih untuk diam dan bungkam, tunduk pada penguasa penjajah Hindia Belanda yang sewenang-wenang memperlakukan para pribumi. Sebuah tonggak awal dari proses kemerdekaan indonesia pada fase selanjutnya yang kemudian dieksekusi oleh angkatan ’45. 

Fase pasca kemerdekaan pun demikian. Idealisme sebagai agent of change telah membentuk garis demarkasi yang jelas bagi arah perjuangan mahasiswa. Dimana mereka berdiri, berlari bahkan dudukpun sangat jelas posisinya. Genggaman tangannya erat kuat bersama rakyat sebagai pemilik kekuasaan. Tinta historis tahun 1966 membuktikannya. Mahasiswa bersama rakyat menuntut sebuah perubahan dalam pesan tritura (tiga tuntutan rakyat) yang salah satu isinya adalah perlawanan terhadap komunisme. Disusul dengan angkatan ’74 yang terkenal dengan peristiwa MALARI (Malapetaka Lima Belas Januari). Idealisme tanpa pragmatisme telah membuat mahasiswa berani menyuarakan penentangan terhadap kedatangan PM Jepang, Kakuei Tanaka. Mahasiswa menilai bahwa pengaruh Jepang di Bidang Ekonomi perlu dibatasi, karena bergantung secara berlebih-lebihan terhadap investasi asing justru akan merusak ekonomi indonesia dalam jangka panjang. Investasi asing yang terlalu berlebihan secara langsung atau tidak akan membuat indonesia berada di bawah dominasi asing. Pun begitu mahasiswa ’78 yang memiliki idealisme sehingga keberpihakannya ada di depan rakyat. Dengan suara lantang menentang kebijakan otoritas orde baru yang tidak populis, bahkan dicatat sejarah sebagai angkatan pertama kali yang berani menyuarakan turunnya Soeharto sejak orde baru berkuasa, kampus tempat mahasiswa menempa intelektualitas akhirnya diduduki oleh militer. Para pemimpin mahasiswa ditangkap dan diadili, lebih jauh lagi penguasa membekukan Dewan Mahasiswa (DM) se-Indonesia. Fase inilah yang kemudian dikenal dengan istilah penerapan NKK/BKK di kampus.

Andi Rahmat (2001) menyatakan bahwa era sembilan puluhan dapat dikatakan sebagai “renaisans” bagi gerakan mahasiswa. Eep Saefulloh Fatah (1998) menyatakan bahwa bergairahnya kembali gerakan mahasiswa yang sebelumnya tiarap akibat rezim yang represif setidaknya dipengaruhi oleh 3 kondisi yaitu, ketidakpuasan dan kekecewaan terhadap pendidikan politik yang tertutup dan tidak dialogis, politik pembangunan yang jauh dari ketidakadilan dan meminggirkan masyarakat, dan biaya yang banyak dari proyek stabilisasi politik dan ekonomi orde baru. Pada masa ini pulalah muncul perlawanan mahasiswa terhadap kezaliman dan kejahiliyahan. Mahasiswa ‘90an telah berani merubah tradisi kampus yang sebelumnya dikenal dengan istilah BUTA PESTA (Buku, Cinta dan Pesta) menjadi BUNGA DA’WAH (Buku, Ngaji dan Da’wah). Tradisi inilah yang kemudian mendorong aksi besar-besaran mahasiswa untuk menentang dan menolak legalisasi dari perjudian masal atas nama SDSB (Sumbangan Dana Sosial Berhadiah) dan penentangan terhadap larangan kebijakan pemakaian jilbab yang merupakan pakaian wajib bagi muslimah di sekolah-sekolah. Dari mahasiswa generasi ’90-an lah berhasil menurunkan rezim orde baru yang kental dengan KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) yang akhirnya familiar dengan angkatan’98.

Pasca reformasi arus pergerakan mahasiswa cenderung menurun. Padahal mahasiswa dalam Supriyanto (1999) pernah dijuluki sebagai satu-satunya oposisi yang efectif (the only effective oposition). Mengutip istilah Andi Rahmat (2001), mahasiswa hanyut dalam arus mengejar kenikmatan dan kemajuan diri semata dan menjadi children pragmatism. Kepekaan mahasiswa dalam persoalan masyarakat juga menurun. Padahal menurut Arbi Sanit (1985) mahasiswa memiliki tingkat kepekaan yang paling tinggi karena mahasiswa adalah kalangan masyarakat yang memperoleh pendidikan yang terbaik, memperoleh pendidikan yang paling lama, terjadinya akulturasi sosial budaya tinggi di kampus, kalangan elit di kaum muda, dan sering terlibat dalam pemikiran, perbincangan dan penelitian dalam berbagai masalah masyarakat.

Pendapat tersebut tidaklah mengada-ada. Di tengah serbuan investasi asing seperti proyek OBOR, mahasiswa tidak bersuara. Di tengah kriminalisasi politis terhadap para oposisi, mahasiswa pun juga tidak membela. Di tengah kenaikan BBM, TDL dan tarif pajak, mahasiswa juga tidak peduli kecuali hanya beberapa biji, apalagi di tengah suara-suara untuk mempermasalahkan jilbab pun mereka tidak bereaksi. Suaramu lantang hanya sebatas tarif parkir kampus. Lantas, tinta apakah yang kalian akan pilih wahai mahasiswa milineal? Apakah kalian hanya akan menjadi tinta hitam sejarah kelam perjalanan indonesia yang diambang pintu penguasaan asing dan aseng? Ataukah kalian memilih bangkit, meninggalkan PUBG dan mobil legend, menghidupkan diskusi-diskusi, merencanakan aksi-aksi edukasi, berjalan bersama rakyat untuk menyelamatkan negeri ini dari ancaman liberalisme, kapitalisme bahkan neo komunisme? Jika demikian yang anda pilih, tinta emas sejarah akan kalian torehkan.[]

No comments:

Post a Comment

Adbox