Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Tuesday, July 30, 2019

VIRUS PELANGI TERUS MENGINCAR DAN MENGINFEKSI, WASPADALAH!



Endah Sulistiowati
(Dir. Muslimah Voice)

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bergerak cepat menyikapi temuan ratusan pelajar Tulungagung yang memiliki perilaku seksual menyimpang. Sebagaimana dirilis oleh KPA Tulungagung, ada ratusan pelajar di Tulungagung yang memiliki perilaku menyimpang penyuka sesame jenis. Angkanya ratusan orang dan sebagian besar masuk kategori pelajar. Atas temuan ini, Khofifah segera melakukan koordinasi dengan sejumlah tokoh di Tulungagung dan mengkroscek kebenarannya. (jatim.tribunnews.com/2019/07/23)

Kasus yang terjadi di Tulungagung hanyalah puncak dari gunung es saja. Tahun 2016 di Kediri informasi yang dihimpun harian Surya data jumlah komunitas gay mencapai sekitar 800 orang. Mereka beranggotakan pria usia sekolah menengah hingga dewasa usia dibawah 24 tahun. Malahan sejak 2012 telah mendirikan kelompok komunitas dengan inisial GS. Komunitas GS telah memiliki pengurus dan sekretariat. Wawali Kota Kediri yang akrab disapa Ning Lik berharap Kota Kediri akan terbebas dari LGBT. (suryamalang.tribunnews.com/2016/02/28). Tidak jauh beda dengan kediri yang dijuluki kota santri , warga Kabupaten Ponorogo dihebohkan dengan munculnya grup “Gerakan Gay Ponorogo” di media sosial Facebook pada oktober 2018, dalam keterangannya grup ini dibuat pada 7 November 2014. (m.suara.com/news/2018/10/13). Bahkan di Surabaya sendiri sebagai ibukota Jawa Timur ada tempat-tempat khusus bagi kaum gay yang mereka sebut sebagai "monumen".

Provinsi Jawa Timur terdiri dari 29 Kabupaten dan 9 Kota sejak tahun 2015. Fakta diatas diperoleh dari 2 kabupaten dan 1 kota saja, namun sudah membuat kita miris dengan kondisi generasi saat ini. Memang sudah seharusnya kasus seperti ini mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah, karena LGBT ini sudah berubah menjadi virus yang sangat berbahaya bagi generasi. Dari sisi agama, sudah jelas bahwa perilaku LGBT ini akan dilaknat oleh Allah dan hukuman mati dijatuhkan bagi mereka. Sedangkan dari sisi kesehatan menurut Menteri Kesehatan RI NIla F. Muluk, bahwa perilaku lesbian, gay, biseksual, dan transgender dari sisi kesehatan tidak dibenarkan dan bukan gangguan kejiwaan melainkan masalah kejiwaan. (hellosehat.com)

Virus ini cukup cepat dalam menginfeksi korbannya. Dalam sebuah investigasi tersembunyi, kaum pelangi ini selalu memberikan motivasi kepada komunitasnya bahwa menjadi gay itu bukanlah sebuah hal memalukan, mereka harus berani unjuk diri dengan ke-gay-annya atau ke-lesbian-nya di depan umum. Saat ini akses informasi tentang mereka cukup mudah didapatkan, apalagi di era digital saat ini. Pengaruh mereka juga didukung dan dipermudah dengan adanya akun-akun sosial media.

Sehingga kewaspadaan terhadap perkembangan dan pertumbuhan LGBT ini tidak hanya terbatas ditingkat regional saja. Namun hal ini sudah harus menjadi darurat nasional. Itupun kalau pemimpin negeri ini mau peduli dengan generasi bangsa, tidak hanya sibuk mengurusi kekuasaan saja.

Sayangnya, para orang tua harus bekerja lebih ekstra. Karena sikap ambigu para pemilik kewenangan di negeri ini semakin membuat komunitas ini tumbuh subur. Sekolah-sekolah, kamp-kamp usaha, bahkan pesantren-pesantren menjadi sasaran empuk komunitas ini untuk semakin melebarkan sayapnya mencari mangsa untuk memperbesar dan memperkuat eksistensi mereka, yang selanjutnya tentu saja mereka akan menuntut keberadaannya diakui dan hubungan kasih sayang diantara dilegalkan. Sebagamana yang terjadi di Taiwan, adalah negara Asia pertama yang melegalkan pernikahan sejenis, pernikahan sesama jenis pertama dilangsungkan hari Jumat 24 Mei 2019 (m.detik.com/24/5/2019) di Taiwan yaitu hari pertama diberlakukan undang-undang dibolehkannya pernikahan sejenis, yang menjadi sorotan media lokal maupun internasional. Ada ratusan pasangan yang mendaftarkan pernikahan mereka.

Saat ini keluarga menjadi satu-satunya tumpuan yang bisa menjaga anak-anak dari gerusan virus pelangi ini. Karena kita tidak bisa berharap lebih kepada negara, disisi lain ada orang-orang yang peduli seperti gubernur Jatim ini, disisi lain banyak dari pemimpin negeri ini yang cenderung membiarkan komunitas LGBT tumbuh subur, padahal negara-lah yang harusnya menjadi penanggungjawab pertama dan utama. Inilah yang menjadi catatan para orang tua. Sehingga fungsi keluarga menjadi pelindung bagi anak-anak harus dioptimalkan. Bekal aqidah yang kuat menjadi hal pokok yang harus dilakukan. Dengan aqidah yang kuat harapannya ketika anak-anak disodori dengan hal-hal yang buruk yang tidak sesuai dengan agama, anak-anak bisa menolak, serta bisa memilah halal-haram ataupun baik-buruk dengan tolok ukur agama. Dan masyarakat terus bisa bersinergi dan satu sikap dalam menghadapi komunitas LGBT ini, sehingga komunitas ini tidak bisa tumbuh berkembang dan bisa kembali ke jalan yang benar.[]

No comments:

Post a Comment

Adbox