Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Sunday, July 21, 2019

Tuyul Khilafah dan Nasib Pancasila


Prof. Daniel Mohammad Rosyid

Lagi-lagi Wiranto menyatakan bahwa politik identitas Islam yang diwakili terutama oleh HTI adalah ancaman bagi Pancasila dan NKRI. Narasi _islamophobic_ ini tidak saja keliru, tapi juga sekaligus melukai Ummat Islam. Bahkan gerakan 212 yang damai pun dinilai bagian dari ancaman tesebut.

Tuyul bawaan HTI yang sangat ditakutinya adalah khilafah. Padahal dia tahu, khilafah di akhir zaman ini hanya akan bangkit di jazirah Arab, tidak di Indonesia, walaupun mungkin khalifahnya orang Lamongan. Orang inilah yang kemudian disebut Al Mahdi yang bersama Nabi Isa akan membinasakan Dajjal Sang Yesus palsu. Kebangkitan khilafah Islam ini akan terjadi setelah prosesi keruntuhan Kerajaan Saudi Arabia dan Perang (nuklir) Dunia III. Kebangkitan khilafah Islam yang bakal mengganti khilafah _Pan Americana_ di bawah khalifah Donald Trump mensyaratkan situasi dan kondisi geopolitik sedemikian tsb. Bahkan HT Internasional pun tidak mampu mendatangkan khilafah Islam, apatah lagi HTI.

Wiranto justru tidak pernah mengaku bahwa Pancasila sejak proklamasi kemerdekaan tidak pernah wujud di NKRI yang dia cintai. Bahkan Bung Karno sendiri mengakui 14 tahun setelah proklamasi saat dia mengeluarkan Dekrit Presiden 5/7/1959 yang menyatakan bangsa ini kembali ke UUD45 versi 18/8/1945 dengan semangat Piagam Jakarta. Pengakuan inipun segera dibatalkan oleh kebijakan Nasakom Soekarno sendiri.

Tantangan mengatasi kegagalan mewujudkan Pancasila dalam praktek kehidupan berbangsa dan bernegara ini kemudian jatuh ke pundak Soeharto. Namun ternyata Soehartopun gagal karena dia menghadapi medan yang nekolimik (seperti yang dikhawatirkan Soekarno sendiri). Praktis Soeharto menjalankan agenda liberal kapitalis AS dan sekutunya. Tekanan nekolim itu memuncak yang kemudian menjatuhkan Soeharto pada 1998 yang melahirkan Orde Reformasi. Indonesia kemudian menyaksikan sebuah deformasi kehidupan berbangsa dan bernegara yang makin jauh dari Pancasila hingga saat ini. Dengan ketergantungan investasi asing yang makin besar, dan hutang total ribawi sudah mencapai lebih dari  Rp. 10kT pada saat ini, sulit mengatakan bahwa NKRI masih baik-baik saja dan memiliki kedaulatan. Dalam konteks inilah, penilaian Wiranto tentang ancaman atas NKRI itu tidak saja keliru, tapi juga mengherankan saya, walaupun tidak mengejutkan. 

Gumarang 20/7/2019

No comments:

Post a Comment

Adbox