Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Minggu, 14 Juli 2019

THE POWER OF EMAK-EMAK


_Menjaga Spirit 212 Bela Islam, Melanjutkan Perjuangan dan Perlawanan_

Oleh :  *Ahmad Sastra*

Dominasi perempuan dalam berbagai aksi solidaritas hingga aksi unjuk rasa patut mendapatkan perhatian sekaligus renungan . Ada apa gerangan, sudah separah apakah kondisi sosial politik negeri ini,  hingga emak-emak ini harus ikut keluar dari rumah dan terlibat aktif menyuarakan kebenaran.

Bahkan dalam setiap aksi-aksi massa, polisi wanitapun dipasang di garda terdepan untuk menghalau para demonstran. Entah apa tujuannya, yang pasti secara psikologis, massa unjuk rasa sedikit teredam emosinya.

Secara psikologis, perempuan adalah makhluk berhati lemah lembut yang memiliki daya sensitifitas tinggi. Berbeda dengan laki-laki yang secara frontal akan mengungkapkan isi hatinya. Sementara perempuan akan lebih banyak menyimpan kegundahan hatinya.

Jika perempuan telah keluar rumah dan menyuarakan kegundahan hati atas kondisi sosial, maka itu artinya kondisi suatu bangsa telah mencapai puncak kritisnya. Mungkin emak-emak itu sudah tidak tahan lagi untuk mengungkapkan kegundahan hatinya yang selama ini terpendam.

Terbukti dalam kehidupan rumah tangga, seorang istri akan memilih diam melihat perilaku suami yang menyimpang. Namun jika didiamkan tidak segera sadar, malah makin menjadi-jadi, maka seorang istri terpaksa bersuara mengingatkan suami. Jika seorang istri telah marah, biasanya suami akan mati kutu. Lebih parah, kadang harus berakhir pada perceraian.

Secara sosiologis, sebenarnya perempuan lebih nyaman tinggal di rumah, mendidik anak-anak, berbakti kepada suami dan mengurus rumah tangga. Sebab itulah naluri dari Tuhan, sekaligus tanggungjawab mereka. Sebab kerja mencari nafkah bagi seorang wanita tidaklah wajib.

Kepedulian emak-emak atas kondisi sosial adalah sebuah pertanda bahaya. Bisa jadi karena sudah tak tahan merasakan kegundahan hati. Namun bisa juga karena para laki-laki sudah tidak peduli lagi dengan perbaikan negeri.

Hal ini bisa dilihat sepinya mahasiswa yang merupakan pembela nasib rakyat untuk turun jalan menyuarakan perlawanan atas kezaliman. Mahasiswa telah mati identitas dan idealismenya. Maka emak-emak terpaksa turun jalan dan menyuarakan sendiri.

Peredaran narkoba yang tak terkendali, seks bebas makin menggila, pelacuran makin tumbuh subur, kemiskinan tak kunjung turun, korupsi makin menjadi-jadi, pergaulan bebas makin memprihatinkan, tawuran pelajar makin kesetanan, aborsi makin tinggi, LGBT dan HIV AIDS tak juga berhenti dan sederetan kehancuran sosial ini mungkin yang tak kuasa menahan amarah emak-emak untuk segera diselesaikan oleh pemerintah.

Harus jujur kita akui, bahwa banyak masalah yang dihadapi bangsa ini. Mata siapapun akan bisa menyaksikan bahwa bangsa ini tengah dalam kondisi serba darurat yang harus diselesaikan secepatnya. Akibat sistem sekuleristik, agama tidak dijadikan panduan berbangsa dan bernegara bahkan hukum Tuhanpun dianggap tak ada, maka berbagai kesempitan hidup akan terus menerpa negeri ini.

Harus jujur juga diakui bahwa Indonesia ini adalah milik Allah Sang Pencipta manusia dan jagad raya, bukan milik manusia, siapapun dia. Mengembalikan pengelolaan manusia dan alam semesta dengan aturan yang telah Allah buat adalah bentuk kesyukuran tertinggi dari sebuah bangsa. Bukankah Allah telah berjanji jika rakyat beriman dan bertaqwa, maka keberkahan hidup akan dapat dirasakan.

Jika diibaratkan kehidupan rumah tangga diatas, maka suara kepedulian emak-emak terhadap kondisi bangsa ini telah mencapai puncaknya. Sebab untuk keluar rumah, seorang ibu harus meninggalkan berbagai tanggungjawab di rumah. Meski dakwah adalah kewajiban setiap muslim, termasuk perempuan.

Untuk itu, the power of emak-emak ini penting untuk dijadikan renungan yang mendalam untuk para pemimpin negeri ini. Enak-emak sedang memberikan sinyal bahwa kondisi negeri ini dalam keadaan darurat. Bukankah kita semua juga merasakan itu ?.

Emak-emak harus terus merawat spirit 212 bela Islam dan jangan berhenti melakukan perlawanan atas segala bentuk kezoliman di negeri ini. Sebab dakwah mengajak kepada jalan Allah adalah kewajiban setiap muslim.

Maka penting untuk direnungkan oleh bangsa ini, sebelum semuanya terlambat, inilah saatnya bangsa ini melakukan muhasabah kebangsaan, melakukan tobat nasional atas segala pengkhianatan kita kepada Allah Sang Pencipta Indonesia. Mari kita kembalikan segalanya kepada Allah : sholat, ibadah, hidup dan mati kita hanya untuk Allah. Tak ketinggalan, mari kita kembalikan seluruh pengelolaan negeri ini kepada hukum-hukum Allah, jangan malah mengkhianatinya. Jika kita masih ingin melihat negeri ini lebih baik.

Buat emak-emak, makasih ya atas kepedulian kalian. Semoga negeri ini segera menyadari kesalahannya. Semoga negeri ini segera menghentikan segala bentuk kezolimannya. Semoga emak-emak segera kembali lagi ke rumah, saat negeri ini telah menjadi lebih baik. Kembali ke rumah untuk menjadi manajer rumah tangga, mendidik anak-anak dan berdakwah untuk kemajuan Islam.


*[AhmadSastra,KotaHujan,08/07/19 : 14.00 WIB]*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox