Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Wednesday, July 31, 2019

REKONSILIASI PASCA PILPRES: OPURTUNIS ADALAH TABIAT ASLI DEMOKRASI?



Aminudin Syuhadak
LANSKAP

ILC edisi 30 Juli 2019, politisi PDI-P Dwi Ria Latifa mengatakan cikal bakal rekonsiliasi Prabowo-Mega justru telah dibicarakan pada saat perjumpaan keduanya dalam event Asian Games. Berarti bisa dibilang telah terjadi langkah opurtunis, jika tidak boleh dibilang 'penikungan' oleh Prabowo terhadap pendukungnya bahkan sejak Pilpres 2019 belum berlangsung. Lebih jauh Dwi menjelaskan pertemuan itu sebenarnya adalah hal yang lumrah saja dalam proses politik, kompetisi-rekonsiliasi-konsolidasi adalah kewajaran dalam spektrum demokrasi.

Tentu di mata politik demokrasi yang pastinya lazim lekat dengan tabiat opurtunis, perkara-perkara itu biasa saja. Namun tidak demikian di mata publik yang memiliki prinsip ideologi Islam dalam berpolitik. Ideologi politik Islam dan politik opurtunis adalah dua kutub berseberangan.

Bagi yang memegang prinsip ideologi Islam memandang sikap opurtunis adalah aib. Ideologi politik Islam memiliki tujuan menjadikan kekuasaan untuk melayani segala kebutuhan dan hajat publik dengan cara terbaik sesuai tuntunan syariat Islam, sementara politik opurtunis mengutamakan meraih kekuasaan untuk kepentingan pribadi, golongan, partai, atau pemodalnya.

Namun sebenarnya jika ditelisik lebih dalam sebenarnya politik opurtunis tidak kosong dari ideologi. Justru sikap opurtunis itu lahir dari ideologi yang mereka usung yaitu ideologi kapitalisme sekuler, yang memang menjadikan demokrasi sebagai alat untuk memuluskan agenda ekonomi kapitalisme global. Artinya, sikap opurtunis itu adalah implementasi dari tabiat politik demokrasi yang hanya mengakomodasi kepentingan kapitalisme melalui bidak-bidaknya di percaturan politik sebuah negara. Sikap opurtunislah yang menjadi ruh demokrasi, sementara hidupnya demokrasilah yang menjamin keberlangsungan kapitalisme dalam bentuk neo-imperialisme.

Maka, publik hari ini dengan segala fakta yang tersaji harusnya mulai sadar akan keburukan politik demokrasi. Mereka telah menjadi bulan-bulanan partai politik yang koruptif dengan para petualang poltik yang opurtunis. Selama ini demokrasi telah memanipulasi kesadaran publik atas derita demi derita yang ditimbulkan akibat politik demokrasi yang koruptif-opurtunis. Dan sudah saatnya publik mengambil pilihan alternatif terbaik yaitu politik Islam yang selama ini diabaikan dan dilupakan agar terlepas dari hegemoni ideologi kapitalisme sekuler dengan politik demokrasinya yang opurtunis-koruptif.[]

No comments:

Post a Comment

Adbox