Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Kamis, 11 Juli 2019

Prof Suteki Dikriminalisasi, Berpotensi Protes Semakin Meluas



Abdus Salam
(Pemerhati Masyarakat)

*Yen Wani Ojo Wedi Wedi. Yen Wedi Ojo Wani Wani. Artinya "jika berani jangan khawatir takut. Sebaliknya jika takut jangan sekali kali berani."*  (Prof Suteki)

Adalah salah satu statement di antara statement bijak seorang professor guru besar Undip yang saat ini menghadapi kasus dugaan pencemaran baik oleh Rektor tempat mengajarnya.

Prof Suteki bukan saja seorang akademisi yang hanya berkiprah di kampus an sich. Melainkan memiliki kontribusi besar pada masyarakat dengan penyadaran hukum dan kemasyarakatan.

Di Jawa Timur misalnya, beliau sudah menjalani road show edukasi mulai dari ujung timur hingga barat. Dan dari ujung utara hingga selatan Jawa Timur.

Melakukan dialog, diskusi dan sharing dengan banyak tokoh masyarakat dan ulama dari berbagai kalangan tentang problem masyarakat, negara dan keumatan.

Sungguh ironis hanya karena daya kritis besarnya, Prof Suteki yang memiliki keahlian dan kepakaran tentang Pancasila ini harus menghadapi sebuah upaya sistematis kriminalisasi.

Padahal apa yang dilakukan, jika dicermati secara seksama hanyalah bentuk ekspresi kebebasan dan integritas intelektual. Selain ini juga dilindungi oleh konstitusi. Apa yang beliau lakukan memiliki sumbangsih besar meletakkan nilai nilai peradaban mulia.

Upaya sistematis kriminalisasi terhadap beliau adalah bentuk kemunduran cara pandang melihat secara obyektif problem kebangsaan dan keumatan negeri ini.

Nama beliau sangat populer, sangat dikenal oleh banyak tokoh dan kyai di Jawa Timur. Pria penuh keakraban ini memiliki jejaring dukungan masyarakat yang sangat luas. Terutama di daerah Madura dan Tapal Kuda sebagai gudangnya para kyai dengan ribuan santri yang siap menunggu instruksi.

Kasus yang menimpanya dikhawatirkan akan menimbulkan protes dengan eskalasi semakin meluas dari masyarakat yang simpati.

Apalagi Jawa Timur adalah tipologi daerah dengan masyarakat yang memiliki akar historis perlawanan gigih penuh pengorbanan. Peristiwa 10 Nopember sebagai simbol perlawanan terhadap arogansi penjajahan.

Semoga ini menjadi catatan penting untuk menyikapi secara obyektif kasus yang menimpa Prof Suteki. Rasa ketidak adilan yang menimpa beliau jika tidak hati hati dan adil menyikapinya akan berpotensi mengusik rasa ketidak adilan masyarakat yang telah menaruh simpati berat.

Kita ingin menjaga semuanya dengan cara agar sang empunya kuasa memperlakukan beliau seadil adilnya. Semoga terwujud. Aamiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox