Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Saturday, July 27, 2019

Penjara Orang-Orang Beriman



Oleh : Johandi Arisca

Apa yang aneh dari pernyataan seorang alumni dari universitas ternama di Indonesia tersebut? Kalau kita mau jujur menilai, bukankah demikian yang output yang kita harapkan dari sistem pendidikan di negeri kita ini?

Coba kita ingat kembali bagaimana kita melalui masa-masa ketika kita berada di bangku sekolah dulu karena mungkin kita lupa sehingga kita tak mampu menilai hal tersebut dengan benar.

Sejak kecil kita sekolah mati-matian selama enam tahun hanya untuk mengejar yang namanya ijazah setingkat SD supaya kita bisa melanjutkan sekolah kita ke jenjang yang lebih tinggi yaitu setingkat SMP.

Kemudian kita belajar selama tiga tahun di jenjang tersebut supaya kita mendapat ijazah untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi yaitu setingkat SMA.

Setelah itu menimba ilmu selama tiga tahun lagi untuk mendapat ijazah setingkat SMA yang dengan ijazah itu kita berharap kemampuan kita sudah diakui sehingga bisa mendapat pekerjaan.

Bahkan ada yang mengambil jalur keahlian khusus ( baca : SMK ) supaya diprioritaskan ketika tes masuk kerja, namun tak sedikit pula yang memilih untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi karena mereka menganggap belum mendapat hak yang layak selayaknya seorang profesional.

Tak jarang pula seseorang memburu ijazah pengakuan skill tadi hingga ke negeri-negeri yang jauh dari kampung halamannya, dan tentu saja semua itu membutuhkan pengorbanan yang tak sedikit.

Maka sebuah kewajaran ketika ia telah memiliki skill yang layak kemudian ia meminta gaji/upah yang tinggi pula dari hasil pekerjaan yang ia lakukan.

Lalu dimana letak kesalahan pernyataan tadi? Bukankah itu sudah sejalan dengan tatanan kehidupan kita saat ini yang hedonis dan materialistis dimana pemenuhan keinginan manusia menjadi patokan kebahagian?

Tentu sangat logis ketika seseorang mengharap gaji besar kareana dengan itu dia bisa memenuhi keinginan-keinginannya, dan dari situ ia bisa mencapai kebahagiaan.

Hal serupa diutarakan juga oleh para pengusung feminisme ketika mereka mendapati bahwa kaum wanita mereka anggap sebagai kaum yang tertindas.

Oleh karena itu mereka mengusung gagasan bahwa wanita harus menuntut ilmu setinggi-tingginya supaya mereka bisa memperoleh penghasilan yang setara dengan kaum laki-laki sehingga mereka bisa mendapat perlakuan yang sama pula.

Dan ketika seorang wanita yang telah menempuh pendidikan tinggi namun memilih untuk berkarir sebagai seorang ibu rumah tangga habis mereka bully.

Masih tersisakah anggapan bahwa sikap salah seorang alumni universitas ternama tadi sebagai sebuah sikap yang salah? Atau mungkin kita menilai salah sikap tersebut karena kita tak mendapat kesempatan yang sama?

Tentu sebagai seorang muslim kita tidak akan menggunakan standar-standar penilain seperti itu, karena setiap perbuatan kita akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah kelak dihari pembalasan.

Yang artinya kita akan senantiasa memperhatikan setiap motivasi dan langkah yang kita ambil dalam meraih sesuatu, termasuk juga didalamnya tentang ilmu dan juga harta karena puncak kebahagaian bagi kita bukan yang ada di dunia ini.

Maka sudah seharusnya motivasi kita menuntut ilmu itu adalah mendekatkan diri kepada Allah bukan motivasi yang lain termasuk juga motivasi materi.

Pun demikian dengan sistem pendidikan yang ada haruslah bertujuan untuk mencetak kepribadian Islami dalam diri seorang muslim. Dari situlah terbentuk individu dan masyarakat yang bertakwa dan memiliki loyalitas hanya kepada Allah.

Tidak seperti cara pandang materialistis yang menjadikan berpllimpahnya materi untuk menuhi keinginan manusia sebagai kebahagaian dan tujuan hidup.

Islam memiliki cara pandang yang unik ketika membahas tentang kekayaan materi, kita mungkin masih ingat bagaimana kisah Abdurrahman bin Auf sang pengusaha sukses tetapi ia berusaha untuk menjadi miskin setelah ia mendengar kedudukan orang miskin disisi Rasulullah.

Atau kisah ulama besar Al-Hafidz Ibnu Hajjar Al-Asqolani berdialog dengan seorang yahudi, Ketika itu orang yahudi tersebut bertanya tentang hadits nabi yang berbunyi “Ad-dunya sijnul mukmin, wa jannatul kafir (dunia itu penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang orang kafir").

Padahal kondisi sang ulama bergelimang nikmat sedangkan kondisi sang yahudi ditimpa kefakiran, kemudian Ibnu Hajjar menjawab “Aku dilihat dari berbagai nikmat yang Allah janjikan untukku di akhirat, seakan-akan aku sedang di penjara. Sedangkan engkau (wahai Yahudi) dilihat dari balasan siksa yang pedih yang Allah berikan untukmu di akhirat, seakan-akan engkau berada di surga.”

Dari sini kita bisa tahu bahwa orientasi hidup seorang mukmin bukan untuk mengejar materi belaka, Dan output seperti ini tentu tidak bisa dihasilkan dengan sistem pendidikan yang sekarang.

Maka ketika kita sebagai seorang muslim memimpikan kebangkitan kembali Islam dan hadirnya kembali fase kejayaan sebagaimana dulu Islam pernah berjaya,

Yang harus kita lakukan adalah mencabut segala akidah sesat yang telah membingungkan kaum muslimin, dan mengganti metode pembelajaran dengan metode Islam, sekaligus mengganti regulasi yang menjaga berlangsungnya sistem pendidikan yang rusak ini dengan aturan Islam.

Namun semua itu tak akan bisa terwujud tanpa adanya negara Islam yang menaungi seluruh kaum muslimin yang kenal dengan nama Khilafah Islamiyah.[]

No comments:

Post a Comment

Adbox