Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Sabtu, 27 Juli 2019

Khilafah-lah Yang Akan Memajukan Negeri Ini, Jangan Paranoid!


Oleh : Achmad Fathoni
(Direktur el-Harokah Research Center)

     Beberapa waktu terakhir polemik tentang Khilafah, HTI, dan bendera tauhid mencuat kembali. Menyusul pernyataan dan sikap para pemegang kebijakan negeri ini yang sangat antipati dengannya. Sebagaimana pernyataan Presiden Jokowi, “Tidak ada toleransi bagi yang mengganggu Pancasila” saat menyampaikan pidato “Visi Indonesia” di SICC, Bogor Jawa Barat, Minggu 14/7. Menurut Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf, Abdul Kadir Karding, ucapan itu dinilai ditujukan untuk kelompok pro Khilafah yang selama ini masih eksis di Tanah Air.

     Pernyataan yang tidak kalah panasnya, yang disampaikan oleh Menko Polhukam, Wiranto yang menegaskan anggota HTI tidak boleh menyebarkan paham khilafah atau ideologi lain yang bertentangan dengan Pancasila dan NKRI. Beliau juga menegaskan larangan ini juga berlaku bagi ormas lainnya (Sumber: http://detik.id/Vn0MRP).

     Berita yang paling terkini, Kantor Pusat Kementerian Agama turun langsung dengan mengirimkan tim khusus ke Madrasah Aliyah Negeri atau MAN 1 Sukabumi soal dugaan siswa di sana kibarkan bendera mirip Hizbut Tahrir Indonesia atau HTI (Sumber:
http://id.opr.news/7ce0db6cbfec92d3_id).

     Tentu saja, semua pihak harus bersikap objektif dan kepala dingin, serta menjauhkan sikap arogan dan tendensius dalam menilai polemik tersebut. Untuk itu, semua pihak harus melihat hal itu dari sudut pandang dan prespektif yang tepat, antara lain sebagi berikut.

     Pertama, tinjauan dari prespektif fiqih Islam. Khilafah adalah bagian dari ajaran Islam, bahkan para ulama’ menyebutnya sebagai tajul furud (mahkota kewajiban). Khilafah sebagai ajaran Islam tidak perlu diragukan kewajibannya karena berlandaskan nash syar’i, bukan perkara ikhtilaf dan ijtihadi, dan telah disepakati kewajibannya oleh seluruh ulama’ Imam mazhab yang empat.

     Terkait pendapat ulama’ empat mazhab Ahlus Sunnah Wal jama’ah, Syaikh Abdurrahman al-Jaziri (w. 1.360 H) menyebutkan dalam kitab al-Fiqh ‘alaa Madzahib al-Arba’ah (5/366), “Para imam mazhab yang empat [Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad] telah sepakat bahwa Imamah [khilafah] itu fardhu, dan bahwa kaum muslimin itu harus mempunyai seorang Imam (khalifah) yang akan menegakkan syiar-syiar agama dan menolong orang yang dizalimi dari orang zalim”.

     Lebih dari itu, ditegaskan pula pada buku “Fiqh Islam” yang ditulis ulama’ nusantara, Prof. H. Sulaiman Rasjid, yang menjadi buku pegangan wajib Fiqih Syafi’i pada Perguruan Tinggi Islam di Indonesia dan Malaysia. Juga menjadi buku pelajaran di Madrasah Aliyah, yang resmi dikeluarkan Kementerian Agama tahun 1991. Dalam bab XV berjudul Kitab Al Khilafah, pada halaman 465 dijelaskan bahwa al-Khilafah ialah suatu susunan pemerintahan yang diatur menurut ajaran agama Islam, sebagai yang dibawa dan dijalankan oleh Nabi Muhammad s.a.w semasa hidup beliau, dan kemudian dijalankan oleh Khulafaur-Rasyidin (Abu Bakar, ‘Umarbin Khattab, ‘Usman bin ‘Affan, dan ‘Ali bin Abu Thalib), kepala negaranya dinamakan “Khalifah”.
     Jadi, sebaiknya pihak-pihak yang anti khilafah segera menghentikan tindakan yang over acting dengan menuduh khilafah dengan tuduhan-tuduhan negatif tanpa dasar yang memadai dan sangat tendensius. Karena  mempermasalahkan gagasan Khilafah bisa terkategori menolak ajaran Islam yang telah disepakati oleh para ulama’ mu’tabar.

     Kedua, tinjauan dari prespektif politik global. Khilafah sangat relevan dengan tuntutan zaman modern saat ini. Fakta empiris menunjukkan, sebagaimana publik dunia bisa lihat data faktual tentang menyatunya negara-negara Eropa saat ini. Ada 28 negara Eropa yang beda agama, ras, politik, dan bahasa berhasil bersatu membentuk masyarakat bersama yang satu. Dan 19 di antaranya memiliki mata uang bersama, yaitu Euro. Penduduk antar negara Eropa bebas tinggal dan bekerja di negara Eropa yang lain. Bahkan perbatasan antar negara-negara itu hanya sekedar garis, atau marka saja (tanpa pagar kawat berduri atau tembok). Bahkan di perbatasan Perancis dan Swiss, tanda perbatasan yang hanya berupa marka dan jenis aspal yang berbeda. Sedangkan kendaraan saling melintas batas secara santai, tanpa masalah. Juga ada fakta lain di era tahu 90-an, tembok Berlin yang memisahkan Jerman Barat dan Jerman Timur, dirobohkan oleh rakyat mereka sendiri, karena mereka ingin bersatu dalam satu negara. Dan akhirnya sekarang mereka bisa bersatu dalam satu negara Jerman. Jika publik bisa bersikap objektif dan fair, saat ini di dunia boleh ada negara kapitalis, boleh ada negara sosialis/komunis, lalu apa salahnya jika umat Islam punya cita-cita bersatu dalam satu negara Islam, atau dalam istilah fikih siyasah adalah khilafah Islamiyah?

     Dengan adanya Khilafah itu persatuan yang hakiki akan bisa terwujud, bisa menyatukan berbagai suku dan bangsa dalam satu naungan, pemeluk agama lain tetap boleh hidup secara damai tanpa diusik keyakinan agamanya, kerahmatan Islam akan terwujud secara nyata bagi seluruh umat manusia. Dan yang pasti itu bukanlah hanya isapan jempol, tetapi Khilafah itu pernah eksis di percaturan politik dunia selama kurun waktu lebih dari 13 abad. Dan hal itu juga diakui oleh banyak para sejarawan Barat. Bahkan menurut banyak sejarawan bahwa Barat sangat berhutang jasa dalam kemajuan peradaban kepada negara khilafah. Sebut saja Montgomery Watt dalam bukunya The Influence of Islam on Medieval Europe (1994) menyatakan, “Peradaban Eropa tidak dibangun oleh proses regenerasi mereka sendiri, tanpa dukungan peradaban Islam yang menjadi motornya, kondisi Barat tidak akan ada artinya”. Jika demikian faktanya, lalu apa yang ditakutkan dengan Khilafah?

     Ketiga, tinjauan dari prespektif historis. Para founding father negeri ini, terutama dari kalangan ulama’ dalam sejarah perjuangan Islam di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari agenda Khilafah Islam. Setelah institusi Khuilafah Islam Utsmaniyah diruntuhkan oleh konspirasi negara-negara Barat pada 3 Maret 1924, ulama’ dan tokoh pergerakan Islam Indonesia meresponnya dengan pembentukan Komite Khilafah yang didirikan di Surabaya pada 4 Oktober 1924, dengan ketua Wondosudirdjo (Sarikat Islam) dan wakilnya KH. A. Wahab Hasbullah (sumber: Bendera Islam, 16 Oktober 1924). Konggres ini memutuskan untuk mengirim delegasi ke Konggres Khilafah ke Kairo yang terdiri atas Surjopranoto (sarikat Islam), Haji Fachruddin (Muhammadiyah), dan KH. A. Wahab Hasbullah dari kalangan tradisional (sumber: Hindia Baroe, 9 Januari 1925).

     Selanjutnya KH. A. Wahab Hasbullah kemudian juhga membentuk Komite Merembuk Hijaz yang menjadikan persoalan Hijaz sebagai persoalan utama. Komite inilah yang menjadi cikal bakal Nahdlatul Ulama (sumber: Deliar Noer, dalam “Gerakan Modern Islam Indonesia 1900-1942”). Jadi sejak awal persoalan Khilafah telah menjadi perhatian berbagai kalangan ormas Islam di Indonesia baik Muhammadiyah, Sarikat Islam, maupun Nahdlatul Ulama’. Terlepas dari berbagai perbedaan yang melingkupinya.

     Selain itu, banyak sejarawah Barat secara jujur dan objektif memuji peran Khilafah Islam di masa lalu dalam memajukan peradaban dunia modern saat ini. John J. O’Cornor dan Edmund F. Robertson (1999) menulis dalam “Mactutor History Matematic’s Archive” menyatakan: “Penelitian terkini memberikan gambaran yang baru pada hutang yang telah diberikan matematika Islam pada kita. Dapat dipastikan bahwa banyak ide yang sebelumnya kita anggap merupakan konsep-konsep brilian matematikawan Eropa pada abad 15, 17, dan 18, ternyata telah dikembangkan oleh matematikawan Arab/Islam kira-kira 4 abad lebih awal”. Jacques C. Reister, mengakui secara objektif bahwa selama 500 tahun Islam telah menguasai dunia dengan kekuatannya, ilmu pengetahuan, dan peradabannya yang tinggi. Juga, John William Draper dalam bukunya “The Intellectual Development of Europe” (Perkembangan Intelektual Eropa) mengatakan: “Saya menyayangkan literature Eropa yang sengaja meminimalkan kontribusi peradaban Islam dalam kemajuan sains. Tentu ini tidak bisa lagi ditutup-tutupi. Bangsa Arab telah meninggalkan warisan intelektual pada Eropa yang patut diakui oleh dunia Kristen”.

     Bahkan yang fenomenal Charleton S. Chairman and Chief Executive Officer, Hewlett-Packard Company saat mengomentari peradaban Islam dari tahu 800 hingga 1600 M (masa Khilafah Islam): “Peradaban Islam merupakan peradaban yang paling besar di dunia. Peradaban Islam sanggup menciptakan sebuah negara adidaya kontinental (continental super state) yang terbentang dari satu samudra ke samudra lain, dari iklim utara hingga tropik, dan gurun dengan ratusan juta orang tinggal di dalamnya, dengan perbedaan kepercayaan dan asal suku bangsa. Tentaranya merupakan gabungan dari berbagai bangsa yang melindungi perdamaian dan kemakmuran yang belum dikenal sebelumnya (sumber: Ceramah tanggal 26 September 2001, dengan judul “Technology, Business, and Our Way of Live What Next?” www.khilafah.com).

     Dengan demikian, tuduhan keji dan negatif juga kriminalisasi terhadap ide khilafah dan organisasi Islam, serta kaum muslimin yang mendakwahkannya, merupakan tindakan yang ahistoris dan bertentangan secara diametral dengan fakta khilafah yang sebenarnya. Justru keberadaan khilafah yang akan tegak di masa mendatang sebagaimana janji Alloh swt dan bisyarah Rasulullah SAW akan menyelamatkan negeri ini dari jurang kehancuran akibat penjajahan politik dan ekonomi oleh negara-negara Barat dan Timur. Sumber Daya Alam (SDA) yang melimpah di negeri ini akan dikelola secara mandiri, sesuai tuntunan syariat, dan profesional yang diterapkan oleh Khilafah akan dapat menyejahterakan seluruh umat dan bangsa ini. Dis-integrasi yang senantiasa mengancam negeri ini, karena intrik negara-negara penjajah akan mudah ditangkal dan dihentikan. Sebaliknya Timor-Timur akan digabungkan kembali  dengan wilayah negeri-negeri muslim yang lain dalam satu-kesatuan wilayah. Sebagaimana Khilafah di masa lalu juga telah berhasil menyatukan dua per tiga dunia dalam satu naungan Khilafah. Yang tentunya keberadaan Khilafah itulah yang akan mewujudkan rahmatan lil-alamin bagi seluruh umat manusia dengan sebenar-benarnya. Wallahu a’lam.[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox