Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Thursday, July 18, 2019

Kabut Biru LGBT dalam Lapas


dr. Muh. Amin
(Direktur Poverty Care)

Fenomena perilaku menyipang gay dan lesbian sudah sangat merisaukan. Baru-baru ini telah terekspose dugaan perilaku seperti homoseksualitas narapidana (gay dan lesbian) yang terjadi di lapas dan rutan Jawa Barat.

Merespon kejadian ini, Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjen PAS) Kemenkumham berencana memisahkan narapidana yang terindikasi lesbian, gay, biseksual, transgender (LGBT) ke kamar isolasi. Kamar yang dimaksud ialah kamar untuk napi yang sakit fisik maupun psikis. Ini respon kekhawatiran, para napi atau tahanan terindikasi LGBT akan menularkan orientasi seksualnya ke napi lain. Langkah ini diambil agar tidak terjadi penularan disorientasi seksual kepada narapidana lainnya.

Lebih lanjut, kelak para napi yang terindikasi LGBT itu akan dibina secara psikis dan keagamaan. Lewat pembinaan diharapkan mereka sadar bahwa perbuatannya dilarang agama, memiliki konsekuensi hukum, dan rentan terhadap kondisi kesehatan. Pihak Ditjen PAS juga akan melakukan pengecekan kesehatan guna memastikan apa napi tersebut mengidap penyakit seksual menular.

Maraknya perilaku maksiat semacam ini di lapas salah satunya diakibatkan lapas yang sudah overcrowded. Selain itu, disebut-sebut ada napi yang "menularkan" orientasi seksualnya secara terselubung di dalam lapas. Selain itu, hal tersebut diduga karena kebutuhan biologis yang tak terakomodir di dalam lapas.

/Dampak/

Dampak Langsung Perilaku menyimpang kaum LGBT ini sebenarnya menimbulkan masalah serius baik bagi pelakunya maupun masyarakat. Prof Abdul Hamid Al-Qudah, seorang spesialis penyakit kelamin menular dan AIDS di Asosiasi Kedokteran Islam dunia (FIMA) dalam bukunya: Kaum Luth Masa Kini, mengungkapkan bahaya yang ditimbulkan dari LGBT bagi kesehatan.

Pada halaman 65-71, ia menyebut, 78 persen pelaku homoseksual terjangkit penyakit kelamin menular. Kemudian dari penelitian yang dilakukan Cancer Research di Inggris, mendapatkan sebuah hasil bahwa homoseksual lebih rentan terkena kanker. Penelitian yang dilakukan selama tahun 2001, 2003, dan 2005, menghasilkan kesimpulan bahwa gay dapat dua kali lebih tinggi terkena risiko kanker apabila dibandingkan pria heteroseksual (normal).

Selain kanker yakni kanker anus, dan mulut, para pelaku LGBT rentan terhadap penyakit meningitis, dan HIV/AIDS. Data dari CDC (Centers for Disease Control and Prevention) AS pada tahun 2010 menunjukkan dari 50 ribu infeksi HIV baru, dua pertiganya adalah gay - MSM (male sex male/laki-laki berhubungan sek dengan laki). Data pada tahun 2010 ini, jika dibandingkan dengan data tahun 2008 menunjukkan peningkatan 20 persen. Sementara itu, wanita transgender risiko terinfeksi HIV 34 kali lebih tinggi dibanding wanita biasa. (Republika, 12/02/2016). Lebih lanjut data CDC, pada tahun 2013 di Amerika Serikat, dari screening gay (pemeriksaan terhadap kaum gay), yang berusia 13 tahun ke atas, 81 persen di antaranya telah terinfeksi HIV dan 55 persen di antaranya terdiagnosis AIDS.

Di Indonesia, penularan HIV di kalangan LGBT di Indonesia juga meningkat secara signifikan, dari 6 persen pada tahun 2008, naik menjadi 8 persen di 2010, kemudian menjadi 12 persen di tahun 2014. Sedang jumlah penderita HIV di kalangan PSK (pekerja seks komersial) cenderung stabil antara 8 persen sampai dengan 9 persen. (Republika, 12/02/2016).

Secara sosial, penyimpangan orientasi seksual ini merupakan ancaman bagi eksistensi sebuah keluarga. Perkawinan yang awalnya merupakan hal yang sakral dan legal dengan maksud untuk melestarikan keturunan, berubah sekadar pemuas nafsu birahi. Akibatnya secara demografi akan menutup pertumbuhan umat manusia.

Lebih dari itu perilaku mereka merusak masyarakat. Sebuah studi menyebut, seorang gay punya pasangan antara 20-106 orang per tahunnya. Adapun pasangan zina (pasangan heteroseksual tetapi di luar pernikahan) tidak lebih dari delapan orang seumur hidupnya. Bahkan ditemukan bahwa sekitar 43 persen kaum gay tersebut selama hidupnya melakukan homoseksual dengan 500 orang bahkan lebih. Sekitar 79 persen dari mereka mengatakan bahwa pasangan sejenisnya itu merupakan orang yang tidak dikenalinya sama sekali. Ini adalah hal yang sangat mengerikan bagi masyarakat.

Tak hanya itu, perilaku LGBT ini terbukti menimbulkan tindakan kriminal berikutnya. Beberapa di antaranya muncul sebagai psikopat yang dengan entengnya membunuh dan memutilasi orang lain. Ingat kasus Ryan (35) yang menghabisi 11 nyawa manusia di Jombang, Jawa Timur. Kasus sejenis muncul akhir-akhir ini oleh para homoseks ini. Termasuk mutilasi terhadap Budi Hartanto (28), guru honorer asal Kediri adalah persoalan asmara. Budi Hartanto, guru honorer asal Kediri disebut memiliki hubungan asmara dengan 2 pria yang membunuh dan memutilasinya.

/Peran Negara/

A. Lapas

Mengenai pengelolaan lapas, diakui secara kualitas dan kuantitas, tenaga pengamanan lapas sangat jauh di bawah standar. Kemampuan dan kapabilitasnya masih rendah.

Ironisnya lagi, tingkat kesejahteraan petugas lapas. Menurut I Wayan Dusak, dilansir dari beritagar.id (1/5/16) saat itu napi lebih sejahtera daripada si petugas. Per hari napi mendapat jatah beras 0,45 gram, atau sekitar 13,5 kilogram per bulan, dengan kualitas premium. Sementara jatah petugas, sebulannya hanya 10 kilogram beras, dengan kualitas medium dari Bulog.

Kepada The Jakarta Post, I Wayan Dusak juga mengakui bahwa minimnya anggaran dan program pelatihan untuk petugas lapas telah memperburuk pengelolaan lapas di Indonesia. Pasca-rekruitmen, menurut Dusak, takada pelatihan khusus untuk mereka. Padahal pernah ada pelatihan selama 11 bulan untuk rekrutan baru.

Permasalahan kelebihan beban yang dialami oleh lembaga pemasyarakatan merupakan masalah yang sudah terjadi sejak dulu. Hal ini tidak semata-mata terjadi akibat kurangnya infrastruktur soal kapasitas lembaga pemasyarakatan tetapi perlu juga ditinjau faktor lain. Sebelumnya perlu diketahui bahwa penuhnya lembaga pemasyarakatan ini tidak semata-mata diisi oleh para narapidana yang artinya sudah mendapatkan putusan pengadilan, tetapi juga terdapat tahanan yang masih menunggu proses penuntutan. Penuhnya lembaga pemasyarakatan ini adalah akibat dari beberapa penyebab. Diantaranya:

a. Faktor mudahnya seseorang ditahan ketika disangka atau didakwa melakukan tindak pidana
b. Prosedur penangguhan penahanan yang belum jelas
c. Kurang efektifnya jenis pemidanaan lain selain penjara
d. Penambahan syarat untuk mendapatkan remisi

Dengan subjektifnya alasan penahanan oleh penegak hukum dan juga sulitnya proses penangguhan penahanan, mengakibatkan jumlah tahanan yang sangat banyak. Padahal rutan sudah tidak dapat menampung lagi sehingga tahanan tersebut dipindahkan ke dalam lembaga permasyarakatan. Kondisi di lembaga pemasyarakatan sendiri tidak kalah mengenasakan. Jumlah terpidana yang terus bertambah seiring pemidanaan hampir selalu penjara ditambah pidana subsidair mengakibatkan “supply” terpidana terus membesar dan salah satu bentuk pengurangan, yaitu remisi yang nantinya bisa mendapatkan pembebasan bersyarat diperberat mengakibatkan seluruh tahanan dan narapidana berada di satu tempat yang sangat penuh.

B. Solusi atas LGBT

Di sinilah, peran negara menjadi sangat penting. Solusi bagi masalah LGBT ini tidak ada lain kecuali dengan mengganti sistem ideologinya. Sebab, kasus LGBT tersebut lahir dari kebebasan yang dibawa ideologi kapitalisme liberal.

Secara mendasar, syariah Islam mengharuskan negara untuk senantiasa menanamkan akidah Islam dan membangun ketakwaan pada diri rakyat. Negara pun juga berkewajiban menanamkan dan memahamkan nilai-nilai norma, moral, budaya, pemikiran dan sistem Islam kepada rakyat.

Hal itu ditempuh melalui semua sistem, terutama sistem pendidikan baik formal maupun non formal dengan beragam institusi, saluran dan sarana. Dengan begitu, rakyat akan memiliki kendali internal yang menghalanginya dari tindak kriminal—termasuk LGBT. Dengan itu pula, rakyat bisa menyaring informasi, pemikiran dan budaya yang merusak.
Penanaman keimanan dan ketakwaan juga membuat masyarakat tidak didominasi oleh sikap hedonis, mengutamakan kepuasan hawa nafsu. Selain itu, negara juga tidak akan membiarkan penyebaran pornografi dan pornoaksi di tengah masyarakat. Masyarakat akan diajarkan bagaimana menyalurkan gharizah nau' (naluri melangsungkan jenis) dengan benar. Penerapan sistem Islam akan meminimalkan seminimal mungkin faktor-faktor yang bisa memicu terjadinya kekerasan seksual, pedofilia, sodomi dan perilaku seksual menyimpang lainnya.
Jika masih ada yang melakukannya, maka sistem 'uqubat (sanksi) Islam akan menjadi benteng yang bisa melindungi masyarakat dari semua itu. Hal itu untuk memberikan efek jera bagi pelaku kriminal dan mencegah orang lain melakukan kejahatan serupa.

Menurut syariah Islam, pelaku homoseks hukumannya adalah dijatuhkan dari tempat yang tinggi sampai mati. Walhasil, LGBT akan bisa dicegah dan dihentikan hanya oleh sistem Islam yakni khilafah. di dalam naungan khilafah, umat akan dibangun ketakwaannya, diawasi perilakunya oleh masyarakat agar tetap terjaga, dan dijatuhi sanksi bagi mereka yang melanggarnya sesuai syariah Islam. Maka, Islam akan tampak aslinya sebagai rahmatan lil 'alamin.[]

No comments:

Post a Comment

Adbox