Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Tuesday, July 30, 2019

Bola Panas Isu Radikalisme, Siapa yang Disasar?



Kediri- Diskusi yang hangat dan akrab oleh para peserta setelah pemaparan para narasumber tergambar pada acara Islamic Lawyer Forum (ILF) yang kembali diselenggarakan oleh LBH Pelita Umat Korcab Kota Kediri, pada Ahad (28/7), di rumah Bapak H. Musthofa yang dihadiri puluhan tokoh dan warga.

Turut hadir empat narasumber, Budiharjo, S.H.I. dari LBH Pelita Umat Korwil Jawa Timur, menyampaikan; pasca berakhirnya pemilu 2019 ini menjadi bukti bahwa sistem demokrasi saaat ini memberikan jalan sempit kepada Islam.

“Wujudnya bisa berupa stigma negatif, persekusi, penangkapan dan lain-lain dengan target yang sama yakni umat Islam yang kritis terhadap rezim.” Ujarnya.
Ia menambahkan bahwa umat Islam yang memliki kesadaran dianggap mengancam kekuasaan mereka sehingga harus dihetikandan dibungkam.

“Umat yang ingin melakukan perubahan dicap dengan istilah “radikal”, sementara korupsi yang dilakukan pejabat negara di segala lini yang berlangsung secara massif tidak disebut radikal.” Imbuhnya.

 Narasumber berikutnya, Aminudin Syuhadak, Direktur LANSKAP menyatakan bahwa ada ancaman yang lebih nyata yang saat ini terjadi di negeri ini dibanding dengan isu radikalisme, yaitu penjajahan yang dilakukan oleh China melalui jalur investasi OBOR (one road one belt) yang menjerat secara sistematis.

“Isu radikalisme yang terjadi merupakan pengaburan terhadap ancaman nyata kolonialisme china di negeri ini. Terkait isu hukum beliau menyampaikan, rezim dalam upayanya untuk menjerat para aktivis adalah dengan menggunakan UU ITE pasal 27 & 28, terkait hal tersebut beliau menyampaikan bahwa data dari kominfo menyebutkan ada 4000 kasus terkait ujaran kebencian yang menyasar pada para aktivis.” Tegasnya.

Selanjutnya narasumber dari LBH Pelita Umat Korcab Kediri, Mahfud; memaparkan bahwa Radikalisme merupakan isu politik terkini yang sangat panas, digulirkan rezim untuk menjerat para aktivis yang kritis terhadap berbagai kebijakan rezim.

“Narasi radikalisme ini perlu dibangun secara massif dengan berbagai sarana media yang ada sehingga terbentuklah opini public yang ujung-ujungnya dialamatkan pada Islam” Ujarnya.
Sedangkan Achmad Fathoni, Direktur el-Harakah Research Center (HRC) menegaskan bahwa setelah Uni Soviet runtuh musuh utama barat adalah Islam, yang disasar adalah Islam.

“Diawali dengan peledakan Gedung World Trade Center (WTC) di Amerika, bergulirnya isu terorisme yang memakan korban banyak dari umat Islam. Hingga saat ini sepertinya isu terorisme terus digalakkan dan disuport, akan tetapi akhir – akhir ini isu terorisme nampaknya sudah tidak relevan lagi, umat sudah cerdas sudah tidak bisa dilabeli teroris.” Papar Fathoni.

Sehingga imbuhnya, dari hal tersebut perlu isu baru yang digunakan untuk membungkam suara umat Islam yaitu dengan “War on Radicalism”.

“Pelabelan baru, bukan lagi dengan istilah teroris tapi diganti dengan “radikal”. Yang disasar ya umat Islam.” Pungkasnya.  (Aga)

No comments:

Post a Comment

Adbox