Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Selasa, 04 Juni 2019

ILUSI KEDAULATAN, INDONESIA TERJUAL?



Oleh : Dr. Ahmad Sastra
_Dosen Filsafat dan Peradaban_

Orang baik tidak memerlukan hukum untuk memerintah mereka agar bertindak penuh tanggungjawab, sementara orang jahat akan selalu menemukan celah di sekitar hukum [Plato]

Ada pasal fundamental dalam Undang-Undang Dasar di negeri ini bahwa sumber daya alam adalah milik rakyat dan dikuasai negara untuk dikelola demi kesejahteraan rakyat. Dalam perspektif Islam, sumber daya alam seperti air, hutan, minyak dan gas adalah milik rakyat atau umat yang tidak boleh dijual atau diprivatisasi menjadi monopoli individu.

Privatisasi sumber daya alam sebagai konsekuensi implementasi sistem ekonomi kapitalisme sejatinya melanggar undang-undang, terlebih prinsip Islam. Rasulullah pernah bersabda, kaum muslim bersekutu [memiliki hak yang sama] dalam tiga hal : air, padang dan api [HR Abu Dawud]

Sistem kapitalisme merujuk kepada sistem sosial ekonomi yang individualistik dan liberalistik, dimana kepentingan individu diatas segalanya. Karena itu kapitalisme sering juga disebut dengan istilah free enterprise atau private enterprise.

Hak milik privat atas alat-alat produksi dan konsumsi [tanah, pabrik, jalan, dll] dengan tujuan menumpuk kekayaan individual adalah karakter utama kapitalisme menurut Milton H Spencer. Konsep ini timbul dari pemikiran filsafat John Locke yang berpendapat bahwa kekayaan adalah hak alamiah dan terlepas dari kekuasaan negara.

Keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia yang tercantung dalam pancasila hanya akan menjadi sebuah utopia bagi rakyat kecil, jika yang diterapkan di negeri ini justru kapitalisme yang individualistik. Menjual aset-aset strategis bagi faktor kesejahteraan rakyat adalah bentuk pengkhianatan terhadap bangsa ini.

Sebab semakin banyak kebijakan privatisasi, maka semakin menganga kemiskinan rakyat. Akhirnya negara hanya menjadi kapling-kapling para kapitalis yang hanya mementingkan dirinya sendiri.

Kapitalisme ekonomi akan menjadikan kesenjangan menganga antara yang kaya dan yang miskin. Kekayaan sebuah negara hanya akan dikuasai oleh segelintir manusia rakus.

Bukan hanya sampai disini, bahkan kini yang berkembang adalah state capitalism dimana sebuah negara menguasai negara lain dengan sistem kapitalismenya. Asing yang diwakili Amerika dan aseng yang diwakili China bisa membeli negeri ini, jika negeri ini menerapkan sistem ideologi kapitalisme demokrasi sekuler.

Proyek OBOR adalah salah satu bentuk state capitalism yang secara ambisius dilakukan oleh China. Dengan skema jeratan utang (debt colonialism)  kepada negara lain, maka China berharap bisa menguasai aset negara lain, Sri Langka adalah salah satu korban OBOR China.

Sementara dari sisi sosial, kapitalisme sekulerisme akan melahirkan perilaku individual amoral yang jauh dari nilai-nilai agama dengan berlindung dibalik hak asasi manusia sebagai hak individual untuk berbuat apa saja. Kapitalisme sekuler telah membawa self destructive sejak lahir.

Worlview kapitalisme yang antietika agama inilah yang kelak menjadi sumber malapetaka sosiologis dunia modern di seluruh aspeknya. Kapitalisme adalah kejahatan sistematis dan terstruktur yang ditopang oleh konsensus konstitusi hasil konspirasi pengusaha dan penguasa yang hidup dalam jeratan pragmatisme.

Dari akar masalah inilah lahirnya berbagai bentuk kemiskinan dan kejahatan di masyarakat arus bawah karena tekanan hidup yang semakin tidak adil.

Sistem kapitalisme mendudukkan para pemilik modal diatas negara. Kedaulatan negara berada dibawah kuasanya. Faktor-faktor ekonomi strategis dikuasai sepenuhnya oleh para kapitalis yang mampu mengendalikan berbagai kebijakan negara. Kedaulatan dan keadilan dalam negara kapitalistik hanyalah sekedar retorika semua, jika tidak hendak dikatakan sebagai pembohongan publik.

Alih-alih penguasa akan mewujudkan keadilan dan kesejahteraan rakyat sesuai amanah Undang-undang, dengan sistem kapitalisme ini justru sebuah negara akan mudah tergadaikan kedaulatannya dalam pesaran materialisme.

Sistem ideologi kapitalisme secara esensi bertentangan dengan Pancasila dan Islam. Miguel D Lewis mengatakan bahwa capitalism is religion. Banks are churches. Bankers are priests. Wealth ia heaven. Poverty ia hell. Rich people are sainst. Poor people are sinners. Commodities are blessings. Money ia God.

Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa negara bisa terjual jika menganut sistem kapitalisme ini. Bukan hanya sampai disitu, kapitalisme akan melahirkan berbagai kezaliman bagi rakyat kecil. Setidaknya ada empat kezaliman akibat sistem kapitalisme ini.

Pertama, kezaliman politik. Mengingat kekuasaan terhadap manusia dimonopoli oleh komunitas tertentu di antara mereka. Komunitas yang memonopoli kekuasaan ini senang memaksakan kehendaknya kepada rakyat, tanpa memberikan hak kepada siapapun untuk mengemukakan pendapatnya dalam menyusun program dan cara kerja penguasa. Di sana telah terjadi perampasan hak rakyat secara masif oleh sentral kekuatan politik negara.

Kedua, kezaliman sosial. Proses penjaringan penguasa dalam sistem kapitalisme diberikan hanya kepada orang-orang berduit dan yang mau melakukan tindakan tercela berupa suap atau gratifikasi. Akibatnya orang-orang yang sebenarnya memiliki kejujuran dan integritas tidak tidak ada peluang sama sekali jika tak memiliki uang.

Kapitalisme dengan demikian berwatak diskriminatif terhadap orang-orang baik yang sejatinya layak menjadi pemimpin. Terbukti banyaknya tindak pidana korupsi adalah cara untuk mengembalikan modal politik penguasa dalam sistem kapitalisme.

Ketiga, kezaliman ekonomi.  Tumbuhnya kelas sosial kapitalis yang memiliki kekayaan yang melimpah di satu sisi tapi terdapat pula kelas sosial yang sangat miskin di sisi lain. Kekayaan segelintir orang bisa melebihi harta ratusan juta rakyat jelata.

Hal ini diakibatkan oleh belum terfikirnya pembuatan peraturan pendistribusian kekayaan negara kepada rakyat. Karenanya tumbuh kelas sosial yang kaya (kapitalis) yang rakus dan menzalimi sesama demi memuaskan nafsunya tanpa mengindahkan aturan. Tumbuhlah praktek-praktek ribawi yang sangat menjerat si miskin.

Keempat, kezaliman jiwa. Masyarakat kapitalistik tidak dibangun di atas asas persaudaraan melainkan pemaksaan dan kepentingan sepihak. Inilah yang kemudian menghilangkan kejernihan jiwa penguasa dan rakyat. Mereka tumbuh menjadi penindas yang lemah. Jiwa mereka menjadi gelap penuh egoisme dan kecongkakan.

Akibatnya berbagai bentuk kejahatan dan kriminalitas  tumbuh subur dari dari pucuk penguasa hingga rakyat jelata. Rakyat kemudian banyak mengalami stress dan depresi akibat tekanan ekonomi yang kian menjerat.

Jika demikian, alangkah eloknya jika seluruh penguasa sebagai pengemban amanah rakyat di negeri ini melakukan reorientasi paradigma terhadap sistem kenegaraan bangsa ini. Sudah saatnya negeri ini membuang jauh sistem ideologi kapitalisme demokrasi sekuler yang terbukti telah menjajah negeri ini.

Dalam pusaran dan jeratan ideologi kapitalisme dan hegemoni state capitalism, teriakan 'kita Pancasila, kita Indonesia' hanyalah sandiwara belaka. Teriakan itu sekedar apologi atas ketidakberdayaan bangsa ini dibawah hegemoni neokolonialisme asing dan aseng.

Tidaklah sulit untuk memahami bahwa negeri ini telah hampir runtuh kedaulatannya hegemoni kapitalisme demokrasi sekuler ini. Sesungguhnya negeri ini belum merdeka sepenuhnya, masih terjajah dan bahkan terjual kepada asing dan aseng.

Semoga para penguasa tidak melakukan misdiagnosis sehingga melakukan tindakan malpraktek atas penyakit negeri ini. Dari sinilah semoga sistem Islam bisa menjadi alternatif terbaik bagi obat mujarab atas penyakit kronis negeri ini. Sebab terbukti secara empiris bahwa ideologi kapitalisme dan komunisme telah gagal total. Saatnya ideologi Islam menggantikannya.

*[AhmadSastra,Semarang,,2/6/19 : 09.20WIB]*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox