Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Sabtu, 18 Mei 2019

Indonesia Mampu Menjadi Negara Besar dan Kuat, Tanpa OBOR China



Abu Inas
(Tabayyun Center)

RRC yang kini telah menjadi negara adidaya baru sekaligus memiliki sisi politik ekspansionis, dikhawatirkan jebakan-jebakan politik-ekonominya merugikan kepentingan Indonesia. Masyarakat hari ini mempertanyakan sikap pemerintah Indonesia yang menyambut baik proyek OBOR/BRI China.

Secara fisik, program ini bertujuan membangun infrastruktur darat, laut, dan udara secara besar-besaran untuk meningkatkan dan memperbaiki jalur perdagangan dan ekonomi antar negara di Asia dan sekitarnya. Dan China  menyediakan dana yang besar bagi anggotanya. China bahkan dikabarkan menggelontorkan dana sebesar US$150 miliar atau setara Rp 2.137,6 triliun per tahun. Dana itu bisa dipinjam negara peserta program tersebut untuk membangun infrastruktur mereka.

OBOR China merupakan salah satu jalan dari sekian banyak investasi asing yang masuk ke Indonesia. Investasi asing merupakan cara negara-negara kapitalis untuk membuka pasar-pasar internasional bagi perusahaan-perusahaan multinasionalnya dan mengeksploitasi negara berkembang sebagai pemasok bahan baku. Hasilnya jelas keuntungan hanya akan mengalir ke negara investor.

Jika demikian OBOR China tidak akan menjadikan ekonomi Indonesia hangat dan menggeliat, justru sebaliknya OBOR China akan menjadikan ekonomi Indonesia hangus terbakar. Kerja sama atas nama investasi asing tidak pernah memberikan keuntungan bagi negara berkembang, seperti Indonesia. Yang ada dominasi asing di Indonesia akan semakin kuat, dan Indonesia akan semakin masuk ke dalam cengkraman penjajahan ekonomi barat dan timur.

Sri Langka, Zimbabwe hingga Nigeria hanyalah sedikit contoh negara yang terperangkap dalam jebakan proyek OBOR China. Sri Langka harus merelakan memberi izin penggunaan pelabuhan strategis kepada China selama 99 tahun karena tidak bisa membayar pinjaman. Zimbabwe bahkan harus bersedia terjajah secara massif dengan mengganti mata uangnya menjadi Yuan. Nigeria pun bernasib serupa, demi membayar utang harus rela menggunakan bahan baku dan mempekerjakan buruh kasar asal China untuk pembangunan infrastruktur. Cina juga berhasil mengambil-alih sebuah pelabuhan di Djibouti karena tidak bisa membayar utang. Langkah ini membuat waspada Amerika Serikat (AS) karena Djibouti adalah pangkalan utama pasukan AS di Afrika.

China menyadari penguasaan wilayah ini takkan mampu dilakukan tanpa adanya kemampuan lobi politik-ekonomi yang handal. Adanya daya tarik berupa nilai-nilai bersama yang ingin diwujudkan berupa kemajuan, kesejahteraan hingga pertumbuhan ekonomi menjadikan Indonesia berhasil pada akhirnya menyetujui proyek kolonialisasi berkedok pinjaman ini. Kolonialisasi yang tidak hanya mengancam pada debt trap tapi juga persimpangan konflik yang menegangkan antara China dan AS dalam perebutan wilayah kekuasaan.

Sejatinya, cikal bakal proyek OBOR ini berasal dari strategi String of Pearls, yakni strategi China mengamankan jalur ekspor-impornya dari kawasan asal hingga ke tempat tujuan. Wilayah yang diincar adalah Laut China Selatan, Selat Malaka melintas Samudera Hindia, Laut Arab, Teluk Persia dan seterusnya hingga jika dilihat di peta membentuk untaian kalung (pearl). Sayangnya, Selat Malaka, sebagai salah satu jalur perdagangan paling sibuk di dunia telah diramalkan menjadi wilayah kritis berkecamuknya perebutan antara AS dan China. Maka demi menghindari kemungkinan terburuk, China berinisiatif menggunakan akses jalur alternatif lain sebagaimana yang dirancang dalam proyek OBOR.

Apa kesimpulannya? Pemerintah Indonesia janganlah menghalalkan riba demi pembangunan infrastruktur. OBOR membuka ancaman besar bagi Indonesia, yaitu tergadainya negeri ini ke dalam jebakan utang dan hegemoni asing penjajah. Indonesia adalah negeri kaya sumber daya manusia dan sumber daya alam, semestinya dikelola berdasarkan syariah Islam. Begitu pun orang-orang kafir tidak boleh diberi jalan untuk menjajah dan menguasai Indonesia. Allah Swt berfirman: “Allah sekali-kali tidak akan memberikan jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang mukmin” (An-Nisa’ [4]: 141).

Ingat, Indonesia adalah negeri Muslim terbesar baik dari sisi luas daerah, penduduk, kekayaan, dan lain-lain. Umat Islam di Indonesia mempunyai tanggung jawab terbesar terhadap umat Islam di dunia. Kebangkitan Indonesia harus menjadi lokomotif kebangkitan umat Islam dunia.

Kita ingin Indonesia menjadi negara besar dan kuat, bebas dari penjajahan dan menjadi pemimpin dunia yang mampu menyatukan umat Islam di seluruh dunia. Umat Islam yang merupakan mayoritas di Indonesia sejatinya menjadi pelaku utama dalam membangkitkan Indonesia. Ini adalah rumah kita!

Momentum sekarang ini sangat pas kita jadikan momentum untuk membulatkan tekad guna berjuang sekuat tenaga mewujudkan kebangkitan umat Islam. Hanya satu jalan untuk itu, yaitu dengan mengemban dan menerapkan akidah Islam dan sistem yang terpancar darinya dalam bingkai Syariah Islam.[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox