Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Senin, 08 April 2019

Ulama’ Menyerukan Amar Ma’ruf Nahi Mungkar, Mengapa Dikriminalisasi?


Oleh : Achmad Fathoni
 (Direktur el-Harokah Research Center).

     Sebagaimana yang ujian yang menimpa ulama’ kita, Kyai Heru Ivan Wijaya atau yang sering disapa Kyai Heru Elyasa’, yang dijadikan tersangka oleh karena komentar beliau di facebook. Padahal jika publik mau menelaah lebih jauh penggalan komentar beliau sesungguhnya merupakan  bagian dari  ungkapan yang mewakili perasaan publik, terutama umat Islam. Dan tentu saja, beliau melakukan semua itu sebagai bagian dari amaliyah dakwah dan wujud implementasi dari perintah Allah SWT dalam al-Qur’an. Sebagaimana firman Alah SWT: “(Dan) Hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan (Islam), menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung (yang akan masuk surga)” (TQS. Ali Imron [3]: 104).

     Selain itu, dalam sebuah hadist Nabi SAW bersabda: “Demi Zat yang diriku berada di tangan-Nya, sungguh kalian (mempunyai dua pilihan, yaitu) melakukan amar ma’ruf nahi munkan, atau (jika tidak dilakukan) Allah SWT akan mendatangkan siksa dari sisi-Nya yang akan menimpa kalian. Kemudian (jika hal itu tidak dilaksanakan) kalian berdo’a, maka (do’a itu) tidak akan dikabulkan”. Hadist ini merupakan salah satu qarinah (indikasi) bahwa thalab (seruan) tersebut adalah thalab (seruan) yang bersifat harus, dan perintah yang ada adalah wajib. Dengan demikian, jika ada seorang ulama’ yang menyerukan amar ma’ruf nahi munkar maka ulama’ tersebut adalah sedang melakukan kewajiban yang ada di pundaknya. Maka dari itu, ulama’ tersebut tidak boleh dikriminalisasi oleh siapapun, termasuk rezim yang berkuasa saat ini. Bahkan seharusnya, rezim yang berkuasa harusnya berterima kasih terhadap ulama’ yang mau memberikan nasehat atas kepemimpinan dan kebijakannya.

     Teladan dari Khalifah Umar bin Khathab, ketika beliau hari pertama menjabat sebagai kepala negara. Beliau berpidato bahwa jika ada kebijakannya ke depan salah, maka rakyatnya dipersilakan menasehatinya. Serta merta ada seorang pemuda yang mengacungkan tangan dan berkata, “Wahai Umar, Akulah kelak yang akan meluruskanmu dengan pedang ini, jika ada kebijakanmu yang menyengsaran rakyat dan bertindak sewenang-wenang”. Maka Sang Khalifah ini, justeru berterima kasih terhadap sikap pemuda “pemberani” dalam amar ma’ruf nahi munkar tersebut. Khalaifah Umar bin Khathab juga pernah mencabut kebijakan membatasi jumlah mahar/maskawin bagi wanita, gara-gara ada seorang Muslimah mengecam kebijakan yang bertentangan dengan aturan syariat Islam tersebut. Bahkan, Sang Khalifah itu justeru berterima kasih atas nasehatnya dan membenarkan nasehat muslimah tersebut.

     Seharusnya pemimpin negeri ini, bercermin atas peristiwa cukup terkenal di masa lalu tentang akibat kedzaliman salah satu penguasa terhadap ulama’. Adalah Al-Hajjaj, penguasa yang dictator dan kejam, yang menghukum mati seorang ulama’, Syaikh Said bin Jubair. Sebelum dieksekuti mati, Sang Ulama’ berdo’a untuk terakhir kalinya, “Ya Allah…jangan kuasakan dia atas seorangpun sesudah diriku!”. Lima belas hari kemudian, al-Hajjaj terserang demam. Sakit itu yang menghantarkan pada kematiannya. Dia sangat tersiksa sebelum kematian yang sangat mengenaskan. Dia tidak bisa tertidur lelap, karena senantiasa terbangun dan ketakutan karena senatiasa bermimpi buruk yaitu dicekik oleh Sang Ulama’ yang telah dieksekusi mati secara dzalim. “Said ibn Jubair mencekikku”, begitu dia selalu mengigau dalam tidurnya.

     Akhirnya al-Hajjaj mati setelah 40 hari hidup dalam ketakutan. Bahkan khalifah Umar bin Abdul Aziz dan Ulama’ terkemuka Hasan al-Basri sujud syukur berulang kali. Pasca peristiwa kematian al-Hajjaj, Umar bin  Abdul Aziz dan ulama’ terkemuka yang lain bermimpi, bahwa al-Hajjaj dibunuh oleh Allah SWT sebanyak pembunuhan yang dia lakukan, kecuali atas Syaikh Sa’id ibn Jubair, Allah SWT membalasnya dengan 70 kali. Begitulah akhir kehidupan yang tragis akibat kedzalimanya terhadap ulama’ yang alim dan teguh berpegang terhadap kebenaran (Islam). (Sumber: disarikan dari https://t.me/WadahAspirasiMuslimah pada 7/4/2019).

     Maka, mulai sekarang hentikanlah mendzalimi ulama’, pewaris para nabi, jika tidak ingin kesengsarahan hidup di dunia hingga akhirat menimpa kalian Wahai penguasa!. Cotoh seperti itu, dalam sepanjang sejarah sangatlah banyak. Berpikirlah yang jernih, jangan sampai terjadi seperti pepatah, “Sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tiada berguna”. Wallahu a’lam. []   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox