Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Sabtu, 06 April 2019

Sikap Kritis Kyai Heru Elyasa Kepada Penguasa Berbuntut Apa Hari Ini…



Fajar Kurniawan
(Analis Senior PKAD)

Ketika Anda bangun pagi, membuka surat kabar, media sosial maupun televisi maka bisa meraba situasi yang tengah terjadi. Maka kami sampaikan kepada Anda tentang penindasan luar biasa jangka panjang akibat penerapan kapitalisme. Para ulama yang takut kepada Allah, tidak akan rela melihat hukum-hukum Allah ditelantarkan, kemaksiatan merajalela. Tidak akan rela dikriminalisasi, tidak akan rela kebijakan musuh-musuh Islam merugikan di seantero negeri. Ulama juga tidak akan rela melihat kekayaan umat dirampok dan korupsi memakan tulang-tulang dan daging negara dan institusi-institusinya. (Umar Syarifudin).

Prolog di atas adalah kata-kata bagus dari seorang pengamat politik internasional Umar Syarifudin. Selanjutnya penulis mengingatkan kepada Anda terkait posisi ulama di mata Islam:

Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Mereka mewariskan ilmu. Siapa saja yang mengambil ilmu berarti telah mengambil bagian yang banyak lagi sempurna. (HR Abu Dawud).

Sesungguhnya yang terjadi saat ini adalah bahwa kaum penjajah dan antek-anteknya tengah ketakutan akan kemungkinan tegaknya Islam, karena hal itu bakal membangkitkan kaum muslimin di Indonesia. Oleh karena itu, kemudian antek-antek penjajah meningkatkan tekanan terhadap kaum Muslimin. Maka diamnya ulama terhadap kebijakan politik penguasa yang menyimpang dari Islam, akan semakin menambah penderitaan masyarakat. Kebijakan liberalisi ekonomi, privatisasi, kapitalisasi pendidikan dan kesehatan seharusnya dilawan dan dihentikan oleh ulama karena membahayakan dan mengancam kesejahteraan umat.
Adalah Kyai Elyasa, ulama Mojokerto - Jatim sebagai sosok yang intensif menentang keras intervensi asing atau bahkan kerjasama penguasa dengan pihak asing yang berakibat pada keterjajahan bangsa dan negara ini. Beliau tidak diam, beliau mendapat kepercayaan dari umat untuk memimpin mereka. Beliau tidak diam, beliau intensif mengajak masyarakat sipil untuk bersama-sama melawan praktik kotor penegakan hukum dan kriminalisasi. Menyelamatkan Negara dari korupsi dan memastikan berjalannya agenda pemberantasan korupsi yang progresif.

Adapun dugaan kriminalisasi yang menimpa Kyai Elyasa, menyadarkan umat Islam yang tergabung dalam beberapa organisasi kemasyarakatan untuk merapatkan barisan dan memberikan dukungan kepada terdakwa. Kita ingin negara hukum (rechtstat) bukan negara kekuasaan (machtstat), ini bukan lagi negara kekuasaan, tapi negara kesewenang-wenangan.

Hari ini penulis mengamati sebuah kredo yang berkembang di tengah masyarakat tentang kriminalisasi yang dilakukan oleh aparat penegak hukum yang mereka maknai tak lain unuk tujuan men-tersangkakan mereka untuk membungkam kebebasan penyampaian pendapat di muka umum, dan melemahkan suara kritis terhadap penguasa.

Akhirnya, kami kembalikan semua urusan ini kepada Allah Azza wa Jalla, semoga bagi orang-orang mukmin dan pejuang yang mukhlis -yang hari ini menghadapi upaya-upaya busuk dan keji pihak yang benci terhadap Islam dan kaum Muslimin- mendapatkan kebaikan dan surga, sebagai upah dari Allah SWT. Kami yakin, Allah Azza wa Jalla akan membalas setiap perbuatan makhluk-Nya sepadan dengan apa yang mereka lakukan.[]

2 komentar:

  1. Sebentar lagi Rezim berganti, In Sya Alloh Kriminalisasi Ulama tidak akan ada lagi.

    BalasHapus
  2. Sesungguhnya Alloh bersama orajg orang yang teguh dalam memegang agama ini, la Tahzan innalloha ma'ana.

    BalasHapus

Adbox