Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Sabtu, 20 April 2019

Siapa yang Curang: PASTI AKAN TERHINAKAN!



Kurdiy Attubany
[Lingkar Opini Rakyat]

Issue kecurangan Pilpres 2019 mengemuka dan terus menggelinding yang berpotensi menjadi bola liar. Berbagai postingan yang memenuhi jagat media social menunjukan memang telah terjadi kecurangan dalam wujud sudah tercoblosnya surat suara, dugaan penghalang-halangan masyarakat dalam menyalurkan hak pilihnya sampai pada politik uang yang luar biasa massif, kasus tertangkapnya bowo sidik dari Partai Golkar adalah fenomena gunung es politik uang.

Mengiringi issue kecurangan yang  terjadi, klaim kemenangan muncul di pihak rezim petahana, dan klaim kemenangan pula muncul dari pihak penantang petahana, bedanya klaim menang rezim petahana berbasis Quick Count, sedang klaim menang pihak penantang berbasis real count. Situasi ketidakpastian politik dan panas dipastikan akan terus terjadi hingga 22 Mei 2019 mendatang, saat penetapan pemenang pilpres oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Bahkan pasca 22 Mei 2019 pun, bisa jadi akan terjadi banyak kemungkinan situasi dan kondisi  jikalau dalam rentang waktu saat ini hingga 22 Mei 2019 itu wasit dan penyelenggara pilpres tidak menjalankan fungsinya dengan sebaik-baiknya.

Apalagi ditambah juga ditemukan komentar-komentar dan/atau sikap wasit dan/atau penyelenggara pemilu yang seolah mengecilkan bahkan terkesan tidak menganggap berbagai kritik yang muncul atas ketidakberesan penyelenggaraan pemilu. Komentar semisal menganjurkan untuk menganggap sampah atas surat suara yang sudah tercoblos di Malaysia, menganggap kasus surat yang sudah tercoblos agar tidak dibesar-besarkan, adalah komentar yang tentu tidak menyejukkan dan justru karenannya semakin menambah kuat kecurigaan bahwa penyelenggara pemilu telah berpihak.

Terkini, merespon atas temuan kecurangan-kecurangan dilapangan, para netizen bahkan memviralkan hastag #INAElectionObserverOSS yang isinya mengundang pihak internasional untuk hadir dan memantau pemilu di Indonesia. Tentunya ini tidak boleh dianggap enteng, karena kekuatan media social telah terbukti menjadi kekuatan alternative yang tidak boleh dianggap sebelah mata. Rezim petahana sendiri telah merasakan bagaimana kekuatan media social telah nyata berpengaruh besar ditengah-tengah masyarakat. Beragam aksi protes semisal aksi 212 yag fenomenal, adalah bukti bagaimana pengorganisasian rakyat begitu efektif menggunakan platform media social. Diberbagai negara juga membuktikan hal ini.

Maka di era media social yang begitu massif seperti sekarang ini, segala kecurangan akan dengan mudah diketahui. Mungkin segala lini instansi, media massa mainstream, lembaga negara, departemen bisa mereka (pihak yang curang) kuasai tapi tidak dengan media social. Maka siapapun yang curang akan dengan mudah diketahui, cepat atau lambat. Dan siapapun yang curang pasti akan terhinakan dunia dan akhirat.

/Pilpres dan Umat Islam/

Pilpres kali ini, sekali lagi menunjukkan bahwa politik yang mendasarkan pada halalan thoyyiban mubarokan adalah jauh panggang dari api. Artinya metode praktis mengangkat pemimpin yang akan menghantarkan pada negeri yang baldatun thoyyibatun wa robun ghofur tidaklah mungkin tercapai dengan cara-cara yang memberikan peluang kepada calon pemimpin untuk curang, menghalalkan segala cara. Karena kaidahnya tak mungkin pemimpin yang “halal” lahir dari cara yang tidak halal. Saat memilih, merintis dan membangun jalan perubahan sendiri untuk hadirnya pemimpin yang “halal”, dan itu hanya lahir dari system politik yang dilandaskan pada Islam, bukan yang lain.[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox