Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Senin, 08 April 2019

Retorika Khilafah dan Revolusi Pemikiran




Oleh: Nindira Aryudhani, S.Pi, M.Si
(Koordinator LENTERA)

Istilah “khilafah” kian hari kian deras saja dibicarakan. Sejumlah tokoh nasional bahkan seolah tak melewatkan kesempatan untuk memberikan pernyataan perihal “khilafah”. Tak hanya di media mainstream dan dunia nyata, jagat maya juga tak abai terhadap istilah tersebut. Mulai dari opini negatif hingga yang positif, semua ada.

Ya, berbagai pihak telah membincangkan “khilafah”. Ini sungguh di luar dugaan. “Khilafah” yang di awal keruntuhannya pada 1924 begitu tabu disebut, akibat pekatnya suasana sekularisasi sistemik-politik global, khususnya di Turki sebagai pusat kekhilafahan terakhir; namun kini “khilafah” bagai bola panas yang siap menyambar siapa saja agar tak dapat mengelak untuk membicarakannya. Meski sangat mungkin kondisi ini juga terkait erat dengan momen tahun politik.

“Khilafah” telah menjadi retorika. Siapa pun bisa bicara tentangnya. Hal inilah yang layaknya patut kita tinjau berdasarkan sejarah dakwah Rasulullah ﷺ, terutama seputar peristiwa Isra' Mi'raj, pemboikotan dakwah, harapan dari kaum Anshor, hingga hijrahnya beliau ke Madinah.

Momen Isra' Mi'raj baru saja berlalu. Menilik perjalanan sejarah Rasulullah ﷺ, nyatanya Isra' Mi'raj tak sekedar peristiwa ajaib yang dikaruniakan oleh Allah SWT sebagai pelipur lara bagi Rasul hingga akhirnya diberi perintah shalat fardhu 5 waktu. Justru, peristiwa ini layak ditelusuri lebih mendalam; yakni dari sisi progres dakwah beliau belasan tahun di Makkah. Isra' Mi'raj terjadi ketika dakwah beliau di Makkah terasa vakum pasca pemboikotan yang dilancarkan oleh kaum kafir Quraisy; yang pada saat yang sama masih berlangsung. Kaum muslimin pun terasing. Islam terpojok. Buntu.

Belum lagi pasca Isra' Mi'raj, manusia ibarat terpecah menjadi tiga golongan besar, yaitu kaum beriman, kaum munafik, dan kaum kafir/musyrik.

Dan yang tak dapat diabaikan, bahwa pertolongan Allah sedikit demi sedikit mulai tercurah. Terbukanya cara pandang kaum Aus dan Khazraj dari Yatsrib (Madinah) akan urgensitas sistem kehidupan yang baru, membuat mereka ridho dengan konten dakwah Rasulullah ﷺ. Mereka menerima jalan hidup Islam yang ditawarkan Rasul sebagai satu-satunya muara berbagai solusi problematika jahiliyah dan kemusyrikan. Mereka tak hendak mempertahankan aturan kehidupan usang yang hanya membawa kehinaan. Mereka juga sama sekali tak menginginkan demokrasi ala Yunani kendati negeri Aristoteles itu katanya pernah berjaya dengan demokrasi di masa yang lebih kuno daripada Madinah. Kendati Yunani runtuh pula di kemudian hari.

Artinya, memang terbukti tiada harapan kebaikan, alih-alih keberkahan, ketika keberpihakan iman adalah kepada selain Allah, kepada tata aturan selain kepada hukum Allah. Ini pula fakta yang membegal pemikiran umat Islam detik-detik menjelang runtuhnya Khilafah Utsmaniy di Turki 95 tahun silam. Kesalahan fatal di balik keruntuhan Khilafah semata akibat keberpihakan iman tidak lagi diarahkan kepada Allah. Melainkan kepada aturan manusia. Syariat Allah ditinggalkan. Melaksanakan ketaatan dianggap rendah, bahkan tak berkelas. Sungguh arah pandang khas Barat yang segala ukurannya hanya distandarisasi berdasarkan materi.

Karenanya, ini semua membutuhkan revolusi pemikiran. Khilafah boleh jadi retorika, tapi hanya akan menjadi sekedar ide brilian tanpa adanya revolusi pemikiran untuk mendakwahkan dan menegakkannya. Merefleksilah. Keberadaan kekuatan Islam yang ada di Madinah dan kesiapan Madinah untuk menerima Rasul ﷺ, nyatanya adalah bentuk revolusi pemikiran menuju tegaknya Negara Islam di sana.

والله أعلم بالصواب[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox