Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Senin, 22 April 2019

Racun Barat!



Ilham Efendi (Direktur RIC)

Umat Islam pada tahun 2019 masih diliputi berbagai persoalan seperti pada penjajahan, pembantaian, penghinaan hingga kemiskinan. di negara Barat yang mengklaim demokratis kriminalitas dan diskriminasi terhadap umat Islam justru meningkat. di sisi lain terjadi pergolakan di Timur Tengah namun masih lebih mengarah kepada demokrasi sekuler. Meskipun keinginan umat Islam untuk menerapkan syariah Islam semakis meluas. dan Amerika tetap menjadi negara terdepan yang memusuhi dan melakukan pembantaian terhadap umat Islam sambil memaksakan demokratisasi.

Adapun salah satu pilar dasar demokrasi adalah bahwa undang-undang itu dihasilkan melalui suara terbanyak. Pada dasarnya berbagai model berpotensi untuk muncul.
Kemampuan untuk mengubah hukum telah menghasilkan undang-undang yang sangat beracun.

Untuk mencegah demokrasi melakukan pelanggaran tersebut, berbagai badan pencegah anti-demokrasi seperti lembaga supermayoritas dan Mahkamah Agung yang tidak dilakukan melalui pemilu telah ditempatkan, yang pengakuan eksplisit bahwa demokrasi murni dapat menghasilkan produk yang beracun. Karena itu, mengapa undang-undang yang penting harus berbeda?

Sifat beracun tentang bagaimana hukum yang disahkan dalam demokrasi itu sudah dipahami dengan baik oleh para filsuf, para pemimpin, dan suara-suara berpengaruh di Barat selama berabad-abad. Socrates dan Plato mengutarakan kemarahannya terhadap demokrasi di zaman Yunani kuno.

Jefferson dan Adams memahami bahaya demokrasi murni, itulah sebabnya mengapa Amerika adalah negara republik dan mengapa demokrasi murni ditentang.

Kaum muslim mengalami diskriminasi di negara-negara yang mengklaim demokratis dan menyunjung HAM. Islamophobia yang bercampur dengan Xenophobia meningkat di Eropa. Dukungan terhadap kelompok ultranasionalis pun meningkat.Mulai dari pelemparan masjid, penghinaan terhadap Rosulullah SAW, tindakan kriminalitas karena agama dan ras, hingga tindakan resmi negara seperti pelarangan menggunakan busana muslimah (niqab), pelarangan pembangunan masjid. Semua dilakukan atas nama keamanan negara dan kewajiban negara mempertahankan sekulerisme.

Namun Barat tahu, bahwa perubahan dan kebangkitan di dunia muslim, termasuk Indonesia tidak bisa dilepaskan dari faktor Islam yang telah menjadi cultur dan syu'ur kaum muslimin. Tidak mengherankan kalau akhirnya musuh-musuh Islam membungkus tawaran ide-ide kapitalisme dengan Islam.

Lalu muncullah istilah ad daulah al Madaniah (negara madani/civil society), al islam al mu’tadil ( Islam moderat) yang merupakan istilah racun (poison words). Sebab inti dari semua ide itu adalah penerimaan terhadap sistem sekulerisme ,demokrasi, dan pluralisme yang bertentangan dengan Islam. yang mereka maksud dengan Islam moderat adalah Islam yang mengakomodasi pemikiran Barat seperti demokrasi , HAM dan Pluralisme. dan yang menerima kebijakan penjajahan Barat atas nama keterbukaan dan sikap inklusif. Umat Islam perlu mawas diri.[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox