Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Kamis, 04 April 2019

PALESTINA DAN DUNIA BUTUH KHILAFAH


Oleh: Al Azizy Revolusi

Memasuki bulan Rajab tahun ini, ada rasa gembira dan sukacita. Sebab, banyak kemuliaan yang Allah janjikan di bulan Rajab. Namun kegembiraan kita tidaklah sempurna manakala menyaksikan berbagai peristiwa menyedihkan menimpa umat Islam di berbagai belahan dunia. Bagaimana kita bisa bergembira sementara saudara-saudara kita di New Zealand dibantai begitu kejam di dalam Masjid. Bahkan yang terbaru, saudara-saudara kita di Gaza-Palestina di bombardir dengan aneka senjata pemusnah oleh tentara-tentara Israel. Tidak sedikit yang menjadi korban, bahkan ratusan orang gugur menjadi syuhada. Masjid, pemukiman, rumah sakit, dan berbagai infrastruktur lainnya pun hancur dan luluh lantak. Betapa sedihnya hati ini, kita menyaksikan tubuh-tubuh bergelimpangan denganpenuh luka mengenaskan, mendengar tangisan bayi dan anak-anak yang memilukan, serta jeritan meminta pertolongan. Namun, tak banyak yang bisa kita lakukan.

Kita sungguh kagum dan bangga dengan sikap ksatria saudara-saudara kita Gaza. Meskipun menghadapi gempuran tentara Israel, mereka tetap sabar dan tabah. Tak tampak sikap lemah, apalagi kata menyerah. Mereka melakukan perlawanan dengan gagah. Sehingga, mereka tak bisa ditundukkan Israel dengan mudah. Padahal, Gaza hanyalah sebuah kota dengan luas sekitar 365 km2. Itu pun sudah diblokade dengan benteng tinggi yang mengelilinginya.

Serangan Israel terhadap Gaza telah menyingkap tabir siapa sejatinya para penguasa Arab dan negeri-negeri Muslim lainnya. Para penguasa itu tentu menyaksikan kebiadaban Yahudi Israel. Mereka juga tahu bahwa kebiadaban Israel itu telah melampaui batas kemanusian. Namun anehnya, mereka hanya bungkam dan berdiam diri. Kalaupun ada, hanya sebatas kecaman dan kutukan tak berarti. Atau paling banter, mengirimkan bantuan dana, makanan, atau obat-obatan. Namun, tidak ada satu pun tindakan nyata yang mereka lakukan untuk menghentikan kebiadaban Israel. Tidak ada tentara yang mereka kirim untuk berjihad melindungi Gaza dan berperang melawan tentara Israel di medan perang.

Padahal, jika mereka mau menggerakkan tentara mereka, niscaya dapat menyelamatkan Gaza. Bahkan lebih dari itu, mampu membebaskan Palestina dan melibas habis Israel dalam waktu singkat.

Betapa tidak. Jika dikumpukan, jumlah seluruh tentara di negeri-negeri Muslim lebih dari dua juta orang. Kalau masih dirasa kurang, bisa memobilisasi para pemuda dan umat Islam yang siap berjihad. Belum lagi ditambah dengan tentara malaikat yang tak terlihat, yang diturunkan untuk membantu mereka. Maka dengan izin dan pertolongan Allah Swt, negara Israel yang penduduknya hanya 7,8 juta jiwa itu dengan mudah dapat dilenyapkan.

Akan tetapi mereka tidak mau melakukannya. Mereka justru menghiba kepada PBB dan Amerika, dan hanya meminta Israel agar menghentikan serangan. Tindakan itu jelas menunjukkan bahwa mereka tidak peduli dengan nasib umat ini. Kendati darah umat Islam tertumpah, negerinya dijajah, dan kekayaannya dijarah, merekatidak melakukan pembelaan. Maka tak aneh jika banyak yang menyebut mereka sebagai penguasa antek. Antek negara-negara kafir penjajah. Tak mengherankan pula jika ada yang mempertanyakan aqidah mereka: Masihkah tersisa keimanan di dada mereka?

Bukankah mereka telah mendengar firman Allah swt: innamâ al-mu`minûna ikhwah, sesungguhnya orang-orang Mukmin itu bersaudara? Bukankah mereka telah mengerti bahwa umat Islam itu kamatsal al-jasad al-wâhid, laksana tubuh yang satu. Tatkala ada bagian tubuh yang sakit, seluruh tubuh ikut merasakannya. Lalu, mengapa mereka meremehkan perintah Allah Swt:

﴿وَإِنِ اسْتَنْصَرُوكُمْ فِي الدِّينِ فَعَلَيْكُمُ النَّصْرُ﴾

(Akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan(QS al-Anfal [8]: 71).

Palestina bukanlah satu-satunya. Di Suriah, hingga kini umat Islam harus menghadapi keganasan penguasanya sendiri, Basyar Asad. Dengan dukungan negara-negara kafir penjajah, rezim Nushairiyyah itu membantai ratusan ribu rakyatnya sendiri.

Sementara Irak dan Afghanistan masih berada di bawah penjajahan negara imperialis, Amerika Serikat. Kondisi menyedihkan juga masih terus dialami saudara-saudara kita di Pattani Thailand, Moro Philipina Selatan, Kashmir, Rohingya di Myanmar, Afrika Tengah, China, dan lain-lain.

Semua realitas itu mengukuhkan kesimpulan bahwa umat ini memerlukan Khilafah. Dengan Khilafah, persatuan umat Islam benar-benar dapat diwujudkan dalam kehidupan. Selain ikatan aqidah, persatuan umat semakin kokoh tatkala berada dalam ikatan daulah.

Dengan Khilafah, negeri-negeri Islam yang kini membentang dari Maroko hingga Merauke dapat dipersatukan. Tatkala dihimpun dalam satu daulah, maka Khilafah akan menjadi negara raksasa yang disegani dunia. Tidak ada yang berani melawan dan melecehkan.

Dengan Khilafah pula, umat Islam beserta agamanya terjaga. Darah, kekayaan, dan kehormatan akan terpelihara. Sebab, khalifah sebagaimana disebutkan Rasulullah saw adalah junnah, perisai. Beliau bersabda:

«وَإِنَّمَاالإِمَامُجُنَّةٌيُقَاتَلُمِنْوَرَائِهِوَيُتَّقَىبِهِ»

Sesungguhnya imam itu adalah perisai, tempat berperang di belakangnya dan berlindung dengannya(HR al-Bukhari).

Pendek kata, dengan Khilafah, umat ini akan menjadi umat yang mulia dan terhormat.

Khalifah bukan hanya kebutuhan negeri-negeri Muslim yang terjajah secara fisik. Khilafah juga menjadi kebutuhan bagi seluruh umat Islam, termasuk negeri yang tidak dijajah secara fisik seperti negeri ini. Meskipun tidak secara fisik, namun penjajahan berlangsung dalam berbagai aspek kehidupan, seperti politik, ekonomi, budaya, pemikiran, dan peradaban. Maka, utang negara pun terus bertambah setiap tahun, sementara sebagian besar rakyatnya hidup miskin dan menderita. Ironisnya, kekayaan alam yang melimpah ruah justru dikuasai korporasi-korporasi asing. Korupsi semakin menjadi-jadi, kriminalitas merajalela, kemungkaran dan kemaksiatan lainnya semakin liar dan tak terkendali.

Rezim telah beberapa kali berganti. Pemilu, baik legislatif, presiden, maupun kepala daerah sudah diadakan berkali-kali. Namun perubahan lebih baik tak kunjung terjadi. Janji manis para politisi tinggal janji. Keadilan, kemakmuran, dan kesejahteraan hanya mimpi.

Bagaimana bisa keadilan, kemakmuran, dan kesejahteraan bisa diwujudkan, sementara sistem yang diberlakukan justru menciptakan ketimpangan, kemiskinan, dan kesengsaraan. Bagaiaman bisa negeri ini terbebas dari penjajahan, sedangkan sistem yang diterapkan justru melempangkan penjajahan. Maka, siapa pun pemimpinnya, jika sistemnya tidak diubah, tetap saja tidak akan membawa perubahan.

Inilah yang terjadi di negeri ini. Pangkal penyebab aneka problema di negeri ini adalah sistem batil dan rusak. Sistem itu adalah demokrasi dan liberalisme. Keduanya bersumber dari ideologi kufur, yakni Sekularisme-Kapitalisme.

Prinsip dasar demokrasi adalah kedaulatan rakyat. Prinsip ini menjadikan manusia menjadi pembuat hukum satu-satunya. Ini jelas menafikan otoritas Allah Swt sebagai pembuat hukum. Sedangkan prinsip dasar liberalisme dalam ekonomi adalah kebebasan kepemilikan beserta pengelolaannya. Tidak peduli apakah kebebasan itu menabrak ketentuan syariah atau tidak.

Ketika sistem tersebut diterapkan oleh negara, maka akan memiliki daya paksa terhadap rakyatnya. Rakyat dipaksa berpaling dari syariah-Nya. Ketika itu terjadi, nicaya akan menjerumuskan manusia kepada jurang kesengsaraan. Allah Swt berfirman:

﴿وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا﴾
Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit (QS Thaha [20]: 124).

Menurut Imam Ibnu Katsir rahimahul-Lâh dalam tafsirnya, pengertian berpaling dari peringatan-Kuadalah menyelisihi perintah-Ku dan apa yangAku turunkan kepada para rasul-Ku, berpaling darinya, melupakannya, dan mengambil selainnya sebagai petunjuk baginya,
Sedangkan yang dimaksud dengan: fa inna lahu ma’îsyatan dzanka, adalah:Tidak ada ketenteraman baginya, tidak ada kelapangan di dadanya, bahkan dadanya terasa sempit karena kesesatannya,meskipun secara dhahir terlihat nikmat.Bisa berpakaian,bisa makan dan minum apa pun yang diinginkannya, serta tinggal di mana pun dia suka. Maka hatinya tidak akan sampai pada keyakinan dan petunjuk.Hatinya akan merasa gelisah, tidak menentu, dan ada dalam keraguan. Hatinya selalu diliputi sangsi dan kebimbangan.

Penolakan terhadap syariah, tidak hanya menyebabkan derita di dunia, namn juga akan menjerumuskan manusia ke dalam neraka. Inilah yang ditegaskan dalam ayat ini selanjutnya:
﴿وَنَحْشُرُهُيَوْمَالْقِيَامَةِأَعْمَى﴾
Dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta (QS Thaha [20]: 124).
Masihkah ada di antara kita berani melanjutkan sistem kufur yang membuat kita mendapatkan siksa tiada tara?

      Sebagai kesimpulan, kami mengingatkan kembali bahwa Khilafah adalah kewajiban syar’i dan sumber kemuliaan kita: al-khilâfatu fardhu Rabbina wa mashdaru ‘izzinâ, Khilafah adalah kewajiban Tuhan kita dan sumber kemuliaan kita.

Khilafah sebagai kewajiban telah diterangkan oleh para ulama mu’tabar. Tidak ada perselisihan di antara mereka. Kemuliaan juga hanya kita dapatkan tatkala kita menerapkan syariah. Sedangkan syariah secara kaffah hanya bisa diterapkan dalam daulah Khilafah.

Marilah kita sempurnakan ibadah kita dengan turut berjuang menegakkan Khilafah. Segeralah melangkah dalam barisan para pejuang syariah dan Khilafah. Semoga, Allah Swt menyegarakan pertongan-Nya dengan kembalinya Khilafah ‘alâ minhâj al-nubuwwah; dan kita termasuk di antara orang-orang ikut andil di dalamnya.[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox