Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Sabtu, 27 April 2019

OBOR China Menjadi Sarana Penjajahan Sistematis?




Ainun Dawaun Nufus
(Dir. Muslimah Care)

Indonesia dikabarkan berpartisipasi dan menyambut baik Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) One Belt One Road (OBOR) China yang diselenggarakan pada 25-27 April berdampak secara sistemik pada Indonesia. Program ini telah dikritis banyak kalangan sebagai sarana untuk menyebarkan dominasi politik, ekonomi dan militer China di luar negeri, dan membebani negara-negara miskin dengan utang yang tidak berkelanjutan.

Dunia hari ini terbelalak melihat kemajuan ekonomi China yang telah tumbuh 12 kali lipat dan pada tahun 2016 melampaui PDB Amerika. Padahal sebelumnya AS telah menjadi ekonomi terbesar di dunia setiap tahun sejak 1881. China saat ini adalah mitra dagang nomor satu bagi 138 dari 200 negara di dunia, fakta ini menjadikannya pedagang terbesar di dunia. Untuk lebih mengintegrasikan dunia ke dalam mesin perdagangan kolosalnya, China mengumumkan pada 2013 Inisiatif OBOR yang akan menghasilkan investasi hingga 4 triliun dollar dalam infrastruktur Eurasia. China kini telah meluncurkan alternatif bagi IMF dan Bank Dunia yang didominasi AS - Bank Investasi Infrastruktur Asia (AIIB). Dengan proyek-proyek ini berarti Cina memilih bertabrakan dengan AS.

yang jelas, Indonesia harus waspada. Jangan sampai agenda OBOR China menjadi  sarana penjajahan sistematis serta perampokan sumber daya alam kita dan menjadi alat eksploitasi di mana China memakai slogan " Win-Win Solution" sebenarnya akan menikmati sumber daya Indonesia untuk membangun ekonomi domestiknya sendiri.

Berkaitan dengan kerjasama bilateral/multilateral dengan Negara-negara lain, Islam telah menetapkan aturan yang khas untuk perdagangan internasional karena Negara Khilafah dalam perspektif Islam bukan negara isolasionis, sebaliknya akan mengembangkan hubungan ekonomi, politik dan budaya dengan negara-negara lain di dunia.

Ketika China dan AS berupaya menciptakan ketergantungan ekonomi dan politik pada negara-negara lain, ini jelas sangat dilarang dalam Islam. Kebijakan kolonialis destruktif adalah fitur konstan dari setiap pemerintahan yang sekuler. Karena demokrasi dianggap sebagai sistem yang menyuburkan kekuatan kolonial seperti AS, Inggris dan China menancapkan kepentingan mereka. Karena demokrasi hanyalah stempel karet bagi kolonialisme dan sekarang kolonialisme China akan memperparah kesengsaraan rakyat dengan imbalan keuntungan murah yang digembar-gemborkan rezim.

Satu-satunya cara untuk membangun kebangkitan ekonomi Indonesia adalah dengan berpijak kuat adalah penghapusan iklim penjajahan karena mengadopsi sekulerisme, dengan menyongsong tegaknya Sistem Islam. Sistem Islam secara unik akan menciptakan solusi atas kebutuhan berbagai dana besar untuk seluruh kebutuhan ekonomi sebagai bahan bakar pembangunan multisektor, termasuk pertanian dan industri, sekaligus menghapus sistem pajak melalui restrukturisasi radikal system kepemilikan Negara, kepemilikan umum dan kepemilikan pribadi di antara langkah-langkah lainnya.

Dalam perspektif Islam, Islam mengamanatkan khalifah untuk menciptakan pembangunan ekonomi, politik, militer yang kokoh, serta mendorong Negara Islam mampu berperan sebagai negara adidaya. Pertanian, industri alat berat di bawah Khilafah pernah melahirkan kecemburuan dunia selama berabad-abad. Mata uang negara akan ditetapkan pada standar emas dan perak lagi yang merupakan pijakan pasti untuk menghilangkan inflasi dari akarnya.

Dan sumber daya energi akan dikembalikan kepada kepemilikan umat sehingga berbagai kebutuhan rakyat bisa disediakan dengan mudah dan murah. Dengan demikian, Khilafah akan menunjukkan secara praktis kepada dunia tatanan adil dan ideal. Di saat hari ini keruntuhan peradaban kapitalisme yang korup makin dekat, sementara kebenaran dari Diin al  Islam makin tampak.[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox