Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Minggu, 21 April 2019

MENGAKHIRI GADUH POLITIKUS YANG TAK BERKELAS



Oleh: Mujahid Wahyu
(Analis Ar roya Center)

Penghitungan suara pemilu belum final. Prosesnya masih terus berjalan. Namun, sudah ada partai yang mendeklarasikan kekalahananya. Adalah Grace Natalie sebagaimana yang dikabarkan dalam laman bisnis.com, menyatakan bahwa Partai Solidaritas Indonesia kalah dalam pemilu 2019 karena hanya mendapatkan 2% suara berdasarkan perhitungan quick count dan tidak akan masuk ke senayan selama 5 tahun ke depan.

Menyedihakan dan mengenaskan. Padahal saat pengundian nomor urut partai tahun 2018 silam, Raja Juli Anthoni dkk dalam era.id sesumbar akan mendapatkan 20% suara nasional. Besaran suara yang akan mengubah nasib indonesia.

Rekam jejak partai ini memang penuh dengan kontroversi. Pernyataan-pernyataannya sering menimbukan kegaduhan di tengah-tengah publik. Terutama bagi umat islam. PSI pernah menyatakan akan menolak perda syariah. PSI juga menyatakan akan menolak poligami. Suatu diskursus yang lumrah bagi umat islam karena syariat memang membolehkan.

Jika hasil _real count_  seirama dengan hasil _quick count_ nantinya yang dijadikan PSI sebagai dasar deklarasi kekalahannya, maka ini adalah pembelajaran yang cukup berharga bagi semua partai. Pelajaran untuk tidak mencari-cari masalah dengan umat islam. Pelajaran untuk tidak sombong apalagi berani mengotak-atik syariat yang sudah jelas hukumnya. Meminjam istilah Najwa Shihab, maka inilah hukuman yang pantas untuk mengakhiri gaduh para politikus yang tak berkelas.Umat adalah pemilik kekuasaan yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Siapa yang berani melawan kehendak umat, maka bersiaplah untuk dicampakkannya.

Apa yang dialami oleh PSI adalah juga pelajaran berharga bagi rezim yang akan berkuasa kelak. Ini adalah negri muslim. Ini adalah negri yang dulu dibebaskan dengan keringat dan darah para syuhada'. Para syuhada yang lantang meneriakkan takbir, tidak takut dan tunduk, berdiri tegap dan tegas melawan dan mengusir para imperialis perusak dan perusuh negri ini.

Penguasa harus menggandeng umat islam. Menyatukan bukan memisahkan satu sama lain. Menyatukan bukan menginjak yang lain. Menyatukan energi untuk memperbaiki negri,  karena umat islam memiliki potensi untuk menjadi umat terbaik. Menjadi politikus yang berkualitas, yang paham bagaimana mengurus negri ini dan paham memperlakukan para neo imperialis. Dekatilah umat, gandeng tangannya, duduklah bersamanya, dan berjalanlah bersamanya.

Jika penguasa nantinya masih memandang sebelah mata umat islam, mengacaukan persatuannya, menginjak-injak ukhuwahnya, maka jangan salahkan umat islam yang selalu siap kapan saja mengakhiri politikus yang tidak berkelas.[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox