Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Senin, 08 April 2019

Khilafah; Peristiwa Besar Yang Hampir Diaborsi Aparat



Oleh: Nindira Aryudhani, S.Pi, M.Si
(Koordinator LENTERA)

Gelora Bung Karno (GBK) baru saja menjadi saksi berkumpulnya manusia dalam jumlah besar. Meski momen seperti ini sudah tak asing lagi. Tercatat, sejak tahun 2007, GBK telah beberapa kali menjadi saksi penyelenggaraan event-event akbar umat Islam. Yang tak syak, membuat GBK berkah dalam warna syariat dan gaung Khilafah.

Dalam tiap momen, kibaran panji Rasulullah ﷺ Ar-Rayah dan Al-Liwa' tak pernah absen menghiasi semangat kehadiran peserta dalam perhelatan spektakuler tersebut. Belum lagi sesi sholat malam dan sholat subuh berjamaah menjelang acara, membuat merinding bagi yang menyaksikan. Karena sesi akbar ini ibarat sholat berjamaah-nya Sultan Muhammad Al-Fatih menjelang penaklukan Konstantinopel yang begitu mengguncang dunia.

Di samping itu, yang juga sangat menjadi perhatian panitia dalam setiap event besar umat Islam yang pernah ada, tentu adalah penataan peserta saat menyaksikan berlangsungnya acara. Peserta tidak dibiarkan bercampur baur antara laki-laki dan perempuan. Yang karenanya, panitia berusaha untuk tetap mengusahakan tempat duduk terpisah antara peserta laki-laki dan perempuan. Misalnya dengan membedakan tribun, atau memasang pembatas semi permanen. Semata agar peserta laki-laki tetap dapat berkumpul dengan yang laki-laki; sedangkan yang perempuan tetap dapat berkumpul dengan yang perempuan.

Panitia juga tak kalah sigap membantu mencarikan atau menghubungi ketika ada peserta laki-laki yang mencari istrinya di kalangan peserta perempuan. Jadi sebenarnya tak ada alasan, peserta banyak tapi bercampur baur antara laki-laki dan perempuan. Pihak panitia menyadari pentingnya sistem pemisahan peserta laki-laki dan perempuan, sebagaimana hukum shaf sholat berjamaah pada umumnya. Yang dengannya, keberkahan acara juga dapat teraih. Karena dalam detil teknis sekecil apa pun, faktor pelaksanaan syariat Islam sangat diperhatikan. Terlebih event tersebut juga merupakan acara dakwah dan syiar Islam. Tentu sangat aneh jika ada faktor syariat yang dilanggar, meski itu hanya pemisahan tempat duduk peserta.

Namun demikian, suasana Islami dalam event-event serupa juga adakalanya hampir diaborsi oleh aparat. Tentu dengan berbagai alasan. Entah itu dari konten syariah dan Khilafah yang disajikan di sepanjang acara, teknis acara, dsb. Padahal, jika memang acara tersebut diniatkan demi dakwah, maka tentu saja tak usah khawatir ada syariat yang dilanggar. Tapi bagaimana pun, sistem sekular tempat hidup ini masih bernaung, nyatanya tidak akan pernah sehati dengan opini syariah dan Khilafah.

Justru konten-konten syariah, Khilafah, pun yang serupa Islam kaffah, menjadi kesempatan besar untuk diaborsi agar tak mendapatkan panggung paripurna. Meski demikian, manusia tak dapat mengabaikan peran Allah SWT. Allah Maha Melihat, siapa saja hamba yang menolong agama-Nya, dan siapa saja hamba yang ternyata malah menjadi musuh-Nya.

Acara dakwah dan syiar Islam boleh saja hampir atau sudah diaborsi aparat. Tapi ingat, Allah selalu punya cara untuk menyampaikan urusan-Nya. Jadi jangan lupa, upaya-upaya menghadang gaung Islam, pasti akan langsung berhadapan dengan Allah. Entah itu ada kesempatan lain yang lebih luas untuk makin melancarkan syiar Islam, atau cara-cara yang lain. Bahkan Allah tak segan memberi “bonus”, yakni dengan makin mengokohkan konten dakwah, tidak sebatas di dalam event-event tersebut, tapi juga meluas hingga pasca event.

Inilah yang terjadi ketika syariah dan Khilafah pernah digaungkan di GBK. Dan detik ini, siapa yang tak kenal Khilafah? Yang mana, di antara ikhtiar dakwah itu, pernah dimulai di GBK.

والله أعلم بالصواب[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox