Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Sabtu, 27 April 2019

KECURANGAN TSM, Apakah mungkin?



John Suteki

Semua belum dibuktikan tentang KECURANGAN TSM, tetapi semua orang juga boleh menduga adanya kecurangan TSM. Menduga boleh, menyatakan PASTI TSM atau TIDAK itu yg belum boleh karena harus dibuktikan DI PENGADILAN, yakni MK.

Menduga itu berarti berpendapat yang seharusnya disertai dengan bukti-bukti. Pada pemilu 2019 ini, Pihak BPN setahu saya sdh mengumpulkan ada 1200 lbh bukti CURENG. Kebenarannya akan diuji. Benarkan CURENG-nya itu TSM?

Terstruktur (T) dalam Kamus Bahasa Indonesia berarti sudah dalam keadaan disusun dan diatur rapih. Sedang arti dari Sistematis (S) ialah sesuatu dalam hubungan yang teratur dan logis, sehingga membentuk suatu sistem secara utuh, menyeluruh, perpadu, mampu menjelaskan sebab akibat menyangkut obyeknya. Adapun arti dari Masif (M) ialah kuat, padat, kukuh, murni dan kekar.

Bercermin pada kasus-kasus Pilkada,  kecurangan dalam pemilukada yang bersifat Terstruktur, Sistematis, dan Masif pada prinsipnya merupakan penegasan terhadap kecurangan pemilukada yang terungkap di dalam persidangan Mahkamah Konstitusi. Munculnya istilah kecurangan terstruktur, sistematis, dan masif pada saat MK memeriksa sengketa pemilukada Provinsi Jawa Timur pada tahun 2008 yang lalu. Pada mulanya, MK hanya berwenang mengadili sengketa hasil pemilihan umum. Namun, dalam perkembangan saat sidang berlangsung, ternyata terungkap pula sejumlah pelanggaran- pelanggaran pemilu yang secara luar biasa telah merusak nilai-nilai yang terkandung dalam sistem demokrasi. Jadi, bukan pelanggaran pemilu yang hanya bersifat insidental, individual, dan sporadis dalam batasan-batasan yang wajar.

Dari berbagai putusan MK, setelah dilakukan penelusuran terhadap putusan-putusan MK dari tahun 2008 sampai dengan awal tahun 2014, ada 689 perkara yang dikabulkan untuk di sidangkan. Namun, dari 689 perkara yang dikabulkan untuk disidangkan itu, hanya ada 68 perkara yang dikabulkan oleh MK termasuk 12 putusan sela, karena terbukti adanya pelanggaran yang bersifat terstruktur, sistematis, dan masif. Sedangkan, 450 perkara dibatalkan oleh MK, karena bagi Mahkamah pemohon dalam mengajukan permohonannya tidak beralasan secara hukum.

Setelah dilakukan penelusuran terhadap putusan MK tersebut, ternyata pertimbangan Mahkamah dalam mengabulkan perselisihan hasil pemilukada yang diajukan oleh pemohon dalam permohonannya mempunyai 2 sifat, yaitu :

a.  Mahkamah menilai bahwa kecurangan yang dilakukan oleh pihak terkait itu memenuhi ketiga unsur, yakni unsur sistematis, terstruktur dan masif; dan;

b.  Bahwa kecurangan yang dilakukan oleh pihak terkait, hanya terpenuhi satu unsur saja dari ketiga unsur itu maka sudah cukup membatalkan hasil pemilukada. Misal, hanya terpenuhi 1 (satu) unsur saja. Contohnya, unsur terstruktur saja, masif saja ataupun sistematis saja.

Lalu, bagaimana dengan pilpres 2019 ini? Mungkinkah akan ada sengketa hasilnya yg dibawa ke MK? Bila ada kecurangan, mungkinkah bisa dibuktikan bahwa itu kecurangan TSM? Apa buktiknya? Siapa saksi-saksinya? Siapa ahlinya?
Dan, siapakah MK itu?

Meme berikut ini bukan saya yang bikin. Saya hanya tdk ingin pernyataan dlm caption ini menggiring aparat untuk menjerat orang yang menduga adanya kecurangan TSM----KARENA dituduh menyebarkan HOAKS--- dengan UUITE bahkan dengan UU TERORISME. Hentikan nafsu untuk MEMENJARAKAN RAKYAT. Mereka juga bagian dari tubuhmu sendiri.
(Artikel merupakan gabungan dari beberapa tulisan)

#salamAKALSEHAT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox