Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Jumat, 12 April 2019

HTI DALAM SEBUAH PERSPEKTIF (Bagian 2)


(Sikap Kritis Hizbut Tahrir Indonesia)

Oleh : Firdaus Bayu, Pusat Kajian Multidimensi

Dalam setiap aktifitas dakwahnya, selain menyampaikan ajaran-ajaran agama, Hizbut Tahrir (Indonesia) juga kerap melontarkan kritik terhadap penguasa. Sikap kritis mereka seperti tak pernah ketinggalan dalam setiap momen dan isu politik yang mereka angkat.  Wajar saja, sebab konsen utama dakwah mereka memanglah persoalan politik, sebagaimana mereka menggambarkan identitas diri mereka sendiri dalam pembahasan sebelumnya, yaitu sebagai sebuah kelompok politik berideologi Islam. Nah, karena memang HTI telah memproklamirkan diri sebagai kelompok berideologi Islam, maka mereka tak hanya mengkritik penguasa, namun juga menawarkan solusi sistemik berupa undang-undang Islam dalam payung khilafah. Tentu saja, hal tersebut akan sangat berdampak buruk bagi ideologi kapitalisme yang saat ini tengah berkuasa di negeri-negeri umat muslim, termasuk Indonesia.

Kritik membangun yang HTI lontarkan, disampaikan secara elegan dalam berbagai forum dan media. Mereka sering mengadakan acara di dalam dan luar gedung, apakah itu seminar, halqah akbar, training, talkshow, hingga demonstrasi di jalan-jalan dan konferensi besar-besaran seperti yang pernah terjadi di GBK dan tempat-tempat berkapasitas besar lainnya. Jamaahnya selalu membludak. HTI juga rajin mengunjungi tokoh-tokoh masyarakat untuk berdialog, serta menyebarkan ide-ide kritis mereka lewat selebaran buletin dan press release resmi melalui sang juru bicara, Muhammad Ismail Yusanto.

Dalam setiap aksinya, baik aksi di jalan, di dalam gedung terbatas maupun lapangan terbuka, mereka senantiasa membawa bendera tauhid berwarna hitam dan putih. Mereka menyebutnya sebagai ar-raya (hitam) dan al-liwa (putih). Tentu saja, mereka memiliki dasar hukum secara syariat untuk menyebutnya demikian. Pasalnya, bendera tersebut adalah bendera Rasulullah Muhammad saw. Penjelasan lebih lengkap tentang bendera, sudah berkali-kali mereka jelaskan kepada umat, mulai dasar argumentasi hingga bahkan hubungannya dengan sejarah Nusantara. Sebagaimana penjelasan sang jubir, bahwa bendera itu bukanlah bendera khusus milik HTI, sebab mereka sendiri mengakui bahwa mereka tidak memiliki bendera. Itu adalah bendera Islam, panji tauhid milik umat Islam. Dan yang tak kalah penting untuk diketahui, bahwa dalam setiap aksinya, mereka selalu terkontrol dengan baik, prosedural, dan tanpa kekerasan.

Apa yang HTI kritik? Setidaknya dapat dikerucutkan ke dalam dua hal. Pertama, kebijakan pemerintah yang dianggap dzalim dan tidak sesuai perintah agama. Banyak sekali kebijakan pemerintah yang memang tampak tidak membela kepentingan umat, bahkan terkesan mengkhianatinya, seperti; naiknya harga BBM dan TDL, diserahkannya aset negara ke swasta dan asing, dibiarkannya komunitas LGBT dan tradisi free sex berkeliaran, lambatnya respon negara terhadap kasus penistaan agama, dan banyak lagi yang lainnya. Semua itu adalah sebuah kemungkaran yang wajib dibongkar dan dikritisi. Kedua, sistem politik yang carut marut. Dalam hal ini, bisa dibilang sistem demokrasi adalah sistem yang selama ini menjadi sumber kerusakan dalam pandangan mereka. Betapa tidak, dalam demokrasi memang sesuatu yang haram dalam pandangan Islam, bebas dilakukan, seperti; miras, free sex, riba, privatisasi kekayaan alam, dan sebagainya. Sementara sesuatu yang harusnya halal, justru ditentang, seperti ajaran khilafah yang hukumnya fardhu khifayah namun justru ditolak mentah-mentah. Demikianlah sikap kritis HTI, selalu kuat dan mengena. Maka wajarlah jika orang-orang dzalim penganut faham anti Islam (seperti sekularisme, komunisme, dan liberalisme) terusik. Orang-orang jahat yang takut dengan kebangkitan Islam tentu amat mengkhawatirkan perkembangan dakwah mereka yang semakin hari digandrungi. Karena sikap kritisnya, HTI seringkali mendapat pertentangan dari rezim. (bersambung).[]


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox