Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Senin, 22 April 2019

Anomali Partai-Partai



Taufik Setia Permana
(Analis Geopolitical Institute)

Pemilu 2019 telah berlangsung, ekspektasi publik ingin ganti rezim meningkat pesat. Hasil pemungutan suara di seluruh Indonesia menunjukkan kubu oposisi tampak menang telak.

Rakyat ingin perubahan, disampaikan secara damai. Rakyat menolak rezim yang menyalahgunakan kekuasaan untuk ambisi pribadi dan golongannya yang melakukan kecurangan sistematis untuk menang.

Berbagai opini di masyarakat menunjukkan tingkat kepercayaan masyarakat pada penguasa telah menurun. Inipun bisa kita buktikan apabila kita mendengar perbincangan masyarakat sekitar ketika menyoal parpol-parpol pragmatis.

Why? Sebagian masyarakat menilai, parpol-parpol ini menjauhi sikap politik keberpihakan pada Islam dan umat Islam. di sisi lain sebagian masyarakat masih sulit membedakan mana partai Islam dengan partai sekular. Contohnya ialah ketika partai memilih menjadi partai terbuka, menjagokan kalangan non muslim sebagai calon pemimpin daerah, dsb. Implikasinya lepaslah dukungan masyarakat yang memiliki kesadaran ideologis.

Efek berikutnya, partai-partai pragmatid tidak memiliki basis massa pemilih loyal. Contohnya, saat partai Islam tidak mengikat pemilih atau pendukung dengan ikatan berdasar ideologi, hal ini menyebabkan para pemilih mudah sekali untuk menjadi pemilih kutu loncat. Senjata-senjata peraup suara yang sering digunakan seperti memberi imbalan kemanfaatan sementara, itupun juga dilakukan oleh partai sekular. Publikasi di berbagai media masih kalah dengan parpol sekular melalui kekuatan media dan kekuatan finansial yang dimiliki. Pun soal figuritas partai, ketenarannya dibawah figur parpol sekular.

di era digital, masyarakat makin pintar, mampu menyadari perilaku oknum elit pimpinan partai mengecewakan. Namun masyarakat semakin kebingungan ketika beberapa partai Islam yang dianggap bersih ternyata elit partai memberikan image sebaliknya. Begitu pula perilaku hedonis dengan bergaya hidup mewah para elit yang memberikan kesan kurang peka terhadap kondisi masyarakat sekitar.

Adapun realitas persaingan antar partai yang semakin ketat, telah terjadi polarisasi pada kantong-kantong suara dari para pemilih tradisional seperti pandangan Muhammadiyah memilih PAN, Nahdhatul Ulama memilih PKB, tampaknya tidak relevan lagi. Sebab partai sekular sudah mengakomodir dengan cara mengangkat beberapa tokoh elemen Islam di jajaran kepengurusan partai.
Kemudian pesaing lain juga datang dari para partai pendatang baru dengan berbagai potensinya. Mereka punya kader-kader muda untuk diusung menjadi pemimpin, jika parpol Islam masih sekedar mengusung jargon saatnya pemimpin muda.

Fenomena apatisme masyarakat pada parpol Islam, harus disadari oleh para aktivis partai tersebut. Maka tidak tepat apabila parpol kemudian bersikap acuh dan tidak mengadakan perbaikan.

Partai Islam hendaknya 'tau diri', bahwa menjadi partai Islam sejatinya bukan sekedar memiliki basis massa muslim, atau sekedar mengatasnamakan partai Islam dalam perijinan pembentukan partai, namun landasan dan sikap politik partai tersebut juga harus mengambil jalan politik Islam.[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox