Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Sabtu, 06 April 2019

Ada Kriminalisasi Terhadap Kyai Heru Elyasa?


Abu Inas
(Tabayyun Center)

Umat Islam mendapatkan ujian, yaitu kriminalisasi ulama. Melalui tokoh-tokohnya – sedang mengalami berbagai tekanan sistemik dan terstruktur sedemikian rupa. Tidak dapat dipungkiri, dan semakin jelas arah tujuannya, yakni tidak lain, tidak bukan dalam rangka meneguhkan kepentingan-kepentingan tertentu.

Kepentingan politik kadangkala lebih determinan dari kepentingan hukum. Ketika, kepentingan politik bertentangan dengan kepentingan hukum, maka demi kepentingan politik, adalah suatu yang ‘halal’ kepentingan hukum terpaksa harus ‘dikorbankan’. Iklim dan suhu politik memang cenderung meninggi, tidak dapat dilepaskan dari kepentingan Pilkada dan proses persidangan Ahok sebagai salah satu calon yang mendapat sokongan kuat dari  “The Ruling Class“.

Menjadi masuk akal, ketika Kyai Heru Ivan Elyasa  sebagai sebagai tokoh oposisi, dianggap oleh sejumlah pihak sebagai lawan politik yang mengganggu kepentingan politik harus berurusan dengan pihak Kepolisian. Sejumlah peristiwa biasa telah menjadi tindak pidana dan oleh karenanya harus dipertanggungjawabkan secara pidana pula.

Namun perlu diingat, al-ulama waratsatul anbiya (Ulama adalah pewaris para nabi). Dalam hadis riwayat Tirmidzi tersebut, Nabi SAW menegaskan tentang kedudukan seorang ulama. Islam telah menempatkan ulama pada posisi yang strategis, hal itu karena keilmuannya.
Imam al-Ajurri meriwayatkan dengan sanadnya dari Abud Darda RA, Nabi SAW bersabda, Sungguh keutamaan seorang ahli ilmu di atas ahli ibadah adalah laksana keutamaan bulan purnama di atas seluruh bintang gemintang. Sesungguhnya para ulama adalah pewaris nabi-nabi.

Sedangkan, para nabi tidak mewariskan uang dinar ataupun dirham, tetapi mereka mewariskan ilmu. Barang siapa yang mengambil ilmu itu, niscaya dia memperoleh jatah warisan yang sangat banyak. Ibnul Qayyim berkata, Allah SWT menjadikan ilmu bagi hati laksana air hujan bagi tanah. Sebagaimana tanah tidak akan hidup kecuali dengan curahan air hujan, demikian pula tidak ada kehidupan bagi hati kecuali dengan ilmu.

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdul A’la ash-Shan’ani, telah menceritakan kepada kami Salamah bin Raja, telah menceritakan kepada kami al-Walid bin Jamil, telah menceritakan kepada kami al-Qashim Abu Abdurrahman dari Abu Umamah al-Bahili ia berkata, Dua orang disebutkan di sisi Nabi SAW, salah seorang adalah ahli ibadah dan yang lain seorang yang berilmu. Kemudian Nabi SAW bersabda.

“Keutamaan seorang alim dari seorang abid seperti keutamaanku dari orang yang paling rendah di antara kalian. Nabi SAW melanjutkan sabdanya, Sesungguhnya Allah, Malaikat-Nya, serta penduduk langit dan bumi, bahkan semut yang ada di dalam sarangnya, sampai ikan paus, akan mendoakan untuk orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.” (HR Tirmidzi).

Namun ingat: “Daging para ulama beracun. Alloh U pasti menyingkap tirai para pencela mereka”  (Tabyin Kadzibil Muftari (hal. 29) oleh Imam Ibnu Asakir). Berhati-hatilah siapapun yang ingin menodai ulama, Gusti Allah mboten sare.[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox