Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Jumat, 01 Maret 2019

UMAT PASTI MENANG!



Endah Sulistiowati
(Dir. Muslimah Voice)

Allah Azza wa Jalla berfirman :
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu karena nikmat Allah, menjadilah kamu orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (TQS. Ali Imran: 103).

Imam ath-Thabariy dalam tafsirnya mengatakan: Yang diinginkan oleh Allah Azza wa Jalla dengan ayat ini ialah: Berpeganglah kalian pada agama dan ketetapan Allah Azza wa Jalla yang dengan agama serta ketetapan itu Allah Azza wa Jalla telah memerintahkan agar kalian bersatu padu dalam satu kalimatul haq (kebenaran) dan menyerah pada perintah Allah Azza wa Jalla . (Tafsiruth Thabari, Dâr Ihyâ it-Turâts al-Arabi, IV/hal. 42, cet. I -1421 H/2001 M).

Nabi Shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda dalam hadits yang dibawakan oleh an-Numân bin Basyîr Radhiyallahuanhu:
Perumpamaan kaum mukminin satu dengan yang lainnya dalam hal saling mencintai, saling menyayangi dan saling berlemah-lembut di antara mereka adalah seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggota badan sakit, maka semua anggota badannya juga merasa demam dan tidak bisa tidur. [HR. Bukhâri dan Muslim, sedangkan lafalnya adalah lafazh Imam Muslim]. (Fathul Bâri Syarh Shahîhil Bukhâri, X/438, Kitab al-Adab, bab : 27, no. 6011. Dan Shahîh Muslim Syarh Nawawi, tahqîq: Khalîl Makmûn Syiha, XVI/356, Kitab al-Adab; al-Birr wash-Shilah wa al-Adâb, no. 6529).

Bila seorang atau sekelompok mukmin menderita kesulitan, maka mukmin yang lain juga seharusnya merasakan itu. Itulah makna ukhuwah sesungguhnya. Islam mendorong Umatnya untuk menerjemahkan ukhuwah dalam kehidupan sehari-hari. Agar mereka dapat merasakan apa yang diderita saudaranya se-agama, untuk selanjutnya memberikan bantuan apapun bentuknya agar meringankan beban dan penderitaan saudaranya itu.

Betapa banyak Kaum Muslimin di penjuru bumi yang masih belum merasakan ketenangan dan ketentraman hidup. Betapa Negara-negara mayoritas Muslim sekarang sedang ditindas dan bergejolak. Sudah ada jutaan umat Islam dibantai di banyak lokasi negeri-negeri muslim.

Namun sungguh menyedihkan bahwa kaum imperialis menyetir kebijakan penguasa dalam persoalan-persoalan kita. Mereka memutuskan, sementara para penguasa di negeri kaum Muslim yang bertugas sebagai operatornya tanpa merasa malu kepada Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana, juga tidak merasa malu kepada Rasulullah saw. Bahkan setiap kali menjadi jelas bagi mereka kebenaran, mereka melupakannya demi menyenangkan tuan-tuan mereka dan berikutnya mereka dipertahankan di jabatan mereka. Mereka tidak memperhatikan apa yang telah terjadi terhadap kelompok mereka ketika peran mereka telah selesai maka tuan-tuan mereka mencampakkan mereka, jadi mereka membinasakan diri dengan tangan-tangan mereka sendiri di dunia dan akhirat.

/Bagaimana dengan Indonesia?/

Reformasi yang sudah berjalan dua puluh tahun telah berhasil menjadikan negeri ini makin demokratis. Bahkan sekarang negeri ini dianggap sebagai negara demokratis terbesar ketiga di dunia setelah AS dan India-. Meski demikian, nyatanya proses demokrasi yang makin demokratis itu tidak korelatif dengan peningkatan kesejahteraan dan kehidupan rakyat yang baik. Padahal demokrasi dan proses demokratisasi dianggap menawarkan perubahan kehidupan rakyat menjadi lebih baik. Fakta menunjukkan tawaran itu seperti pepesan kosong.

Peran para pemodal yang berinvestasi melalui proses demokrasi menjadi sangat menonjol dan menentukan. Ironisnya semua itu selalu diatasnamakan suara dan kepentingan rakyat karena rakyatlah yang memilih orang-orang yang mewakili mereka. Dengan demikian kepentingan para pemodal demokrasi itulah yang menjadi penentu arah perubahan yang terjadi. Jadi demokrasi memang menjadikan perubahan tetapi bukan perubahan yang memihak kepentingan rakyat, tetapi memihak kepentingan aktor-aktor demokrasi dan para pemodal mereka.

Soal ketimpangan dunia hukum, ada nuansa diskriminasi terhadapa suara kritis kepada penguasa. Demikian juga perlakuan terhadap ulama dan ormas yang getol menyuarakan kebenaran dan menguliti kebijakan yang batil.
Dari sisi kebijakan politik, penulis mengamati bahwa ketika sebelum berkuasa, PDIP menjadi partai yang paling keras menolak kenaikan harga BBM, namun setelah berkuasa  tampaknya tidak bersuara keras meskipun Jokowi sudah menaikkan beberapa kali. Kalau dulu mereka bersuara tegas menentang kenaikan BBM dan listrik sekarang diam.

Kita masih ingat bagaimana terbitnya perppu ormas no 2 tahun 2017 yang digunakan untuk mencabut BHP Hizbut Tahrir Indonesia.  HTI kemudian menggugat keputusan itu ke PTUN Jakarta. Namun pada 7 Mei 2018, PTUN Jakarta menolak gugatan HTI. Vonis dikuatkan Pengadilan Tinggi Jakarta pada September 2018. HTI lantas mengajukan permohonan kasasi ke MA. Namun, sekarang MA juga menolak gugatan HTI. Inilah yang terjadi di Indonesia yang 200juta lebih penduduknya beragama Islam dan penguasanya pun mengaku Islam, tapi membubarkan ormas Islam yang tegas dan kritis. Hari ini penegakan hukum termasuk yang dilakukan kepolisian dan kejaksaan di era Jokowi dinilai banyak pihak  belum berpihak pada keadilan.

/Tenang, Umat Pasti Menang/

Sesungguhnya umat telah paham siapa saja yang telah bertindak melampaui batas dan sombong serta mengutamakan kekuasaan dan duniawi ketimbang agama dan umatnya. Maka, haram hukumyna, dan sekali lagi demi Allah, haram membiarkan mereka membuat kerusakan di muka bumi, dan umat hendaknya tidak hanya melihat dan mengingkarinya saja, tetapi harus berusaha untuk mengubahnya.

Berbagai ujian yang menimpa umat hendaknya tidak boleh membuat para pejuang kebenaran menyerah. Apalagi sampai resign dari perjuangan. Halangan, tantangan, dan segala cobaan adalah pemanis dalam dakwah, dan itu adalah bukti bahwa Allah masih memperhatikan Kita. Bukankah Allah berfirman "Maka sesungguhnya bersama kesulitan Ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan Ada kemudahan". (TQS Al Insyirah 5-6). Kemudian Allah pun berfirman "Sesungguhnya Allah membela dari orang-orang mukmin, baik diri maupun harta mereka dengan memberikan Surga untuk mereka". (TQS At Taubah 111).

Kita tentu tidak boleh terus-menerus dalam keadaan terpuruk seperti itu. Maka kita perlu cepat menyadari fenomena dan segera bangkit memperbaiki negeri. Segala ujian yang menimpa perlu dijadikan sebagai momen kebangkitan. Beban berat perjuangan melawan kezaliman tentu akan menjadi ringan dan akan terasa semakin ringan jika dilakukan secara bersama-sama.[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox