Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Jumat, 08 Maret 2019

Narkoba, Bisakah Menjadi Senjata Proxy War?



Endah Sulistiowati
 (Dir. Muslimah Voice)

Dunia perpolitikan Indonesia kembali diguncang isu narkoba, dengan ditangkapnya Andi Arif dari Partai Demokrat.Wakil Sekjen Partai Demokrat Andi Arief akhirnya dilepas oleh kepolisian, Selasa (5/3/2019) malam. Andi ditahan sejak Minggu (3/3/2019).  Agustus tahun 2018, Ibrahim Hasan alias Ibrahim Hongkong, anggota DPRD Langkat dari F-NasDem ditangkap BNN. BNN menyita 100-an kg sabu dan puluhan ribu butir ekstasi milik Ibrahim.

Terlepas dari berbagai kontroversi yang ada, satu yang bisa kita tarik benang merah, bahwa narkoba sudah menyasar keseluruh lapisan masyarakat. Tidak terkecuali tokoh politik. Narkoba dilihat dari sudut pandang manapun adalah buruk, negatif, dan merusak. Jika sampai pemuka dan pemimpin negeri ini bergelut dengan narkoba bahkan mengkonsumsinya, mau dibawa kemana masa depan negeri ini?

/Akibat Kedahsyatan Narkoba/

Sekitar 1,77% atau 3,3 juta penduduk Indonesia menjadi penyalahguna narkoba dengan jumlah kerugian ekonomi maupun sosial mencapai Rp 84,7 triliun. Demikian data dari hasil penelitian Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Puslitkes UI pada 2017.

David Hutapea, Dit Diseminasi Informasi Bid. Pencegahan Badan Narkotika Nasional (BNN) mengatakan jumlah prevalensi pengguna narkoba dari tahun ketahun terlihat meningkat. Pada 2016 masih 0,02% dari total penduduk Indonesia dan pada 2017 menjadi 1,77%.

Kerugian yang disebabkan penyalahgunaan narkoba sepanjang 2017 paling besar pada kerugian sosial yakni sebesar Rp 77,4 triliun dan kerugian pribadi Rp 7,3 triliun. David mencontohkan, untuk 1 gram shabu, harganya saat ini bisa Rp1,2 juta - Rp 2 juta. Selain kerugian material, lanjut David, permasalahan narkoba di Indonesia juga sudah menyebabkan korban meninggal, yakni diperkirakan 11.071 orang per tahun atau 30 orang perhari.

Dari total pengguna narkoba tersebut, mayoritas adalah pekerja (59%), disusul pelajar (24%) dan populasi umum (17%). Untuk pelajar ini, sebanyak 2 dari 100 orang pelajar dan mahasiswa menyalahgunakan narkoba sepanjang 2016, dan kebanyakan pria. Dengan umur pengguna dari pelajar mayoritas berumur 15-19 tahun.

/Bisakah Narkoba Menjadi Senjata Proxy War?/

Berangkat dari memahami bagaimana narkoba ini bisa membuat para penggunanya kecanduan. Maka akan bisa disimpulkan bahwa narkoba ini bisa dijadikan senjata untuk membuat suatu Bangsa tunduk bahkan hancur.

Cara kerja narkoba berpengaruh pada kerja otak, narkoba bisa mengubah suasana perasaan, cara berpikir, kesadaran dan perilaku pemakainya. Itulah sebabnya narkotika disebut zat psikoaktif.

Semua zat psikoaktif (narkotika, psikotropika dan bahan adiktif lain) dapat mengubah perilaku, perasaan dan pikiran seseorang melalui pengaruhnya terhadap salah satu atau beberapa neurotransmitter.

Dalam jangka panjang, narkoba secara perlahan bisa merusak sistem saraf di otak mulai dari ringan hingga permanen. Saat penggunaan narkotika, muatan listrik dalam otak berlebihan, jika sudah kecanduan, maka lama kelamaan saraf bisa rusak.

Otak merekamnya sebagai sesuatu yang dicari sebagai prioritas karena dianggap menyenangkan. Akibatnya, otak membuat program salah, seolah-olah orang itu memerlukannya sebagai kebutuhan pokok dan terjadi kecanduan atau ketergantungan. Dalam keadaan ketergantungan, pecandu merasa sangat tidak nyaman dan kesakitan. Untuk mendapatkan narkoba, dia akan melakukan segala cara seperti mencuri, bahkan membunuh.

Pada kasus ketergantungan, seseorang harus senantiasa memakai narkoba, jika tidak, timbul gejala putus obat (atau disebut juga sakau), jika pemakaiannya dihentikan atau jumlahnya dikurangi. Gejalanya bergantung jenis narkoba yang digunakan.

Mengonsumsi narkoba secara terus-menerus menyebabkan peningkatan toleransi tubuh sehingga pemakai tidak dapat mengontrol penggunaannya dan cenderung untuk terus meningkatkan dosis pemakaian sampai akhirnya tubuhnya tidak dapat menerima lagi. Hal ini yang disebut dengan overdosis.

Saraf merupakan salah satu organ penting pada manusia yang mengatur sistem tubuh. Jika ia mengalami kerusakan maka bisa menyebabkan kecacatan yang permanen dan sulit untuk diperbaiki.

Dari sini kita bisa tarik benang merahnya. Indonesia sebagai negara dunia ketiga memiliki bonus demography yang cukup besar. Sehingga Indonesia menjadi ladang subur untuk bisnis narkoba ini. Dengan sistem keamanan yang mudah ditembus serta taraf pendidikan yang minim cukup mudah membuat jaringan disini. Apalagi Hukum di Indonesia mudah dibeli.

Sehingga dengan terus mencekoki generasi muda dengan aneka gaya hidup yang dibilang modern disertai mengenalkan berbagai jenis narkoba yang dirangkum dengan bisnis, maka siapa yang tidak tergiur.

Jika para generasi mudanya sudah terjerat candu narkoba, wakil rakyatnya berbisnis narkoba, tokohnya pun ikut menjadi pengguna, maka tinggal tunggu waktu saja, negara ini bisa berpindah tangan.

Sehingga tidak heran dengan yang disampaikan Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Pol Heru Winarko, saat pertemuan kelompok ahli BNN di Gedung BeritaSatu Plaza, Kamis (28/2/2019). Bahwa narkoba merupakan kejahatan luar biasa (extraordinary crime) karena menjadi salah satu senjata proxy war untuk melumpuhkan kekuatan bangsa. Narkoba menyasar semua kalangan masyarakat, dan peredarannya bisa melibatkan banyak profesi, mulai dari petani hingga pesohor. Apalagi, daya rusak narkoba lebih besar daripada tindak pidana korupsi maupun terorisme. Untuk itu, ancaman narkoba harus ditangani secara intensif dengan mengoptimalkan seluruh komponen, terutama unsur pemerintah dan lembaga negara. (Beritasatu.com).[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox