Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Sabtu, 09 Maret 2019

Kekejaman Ide Feminisme



Oleh : Septa Yunis
(Staf Khusus Muslimah Voice)

Bulan Maret, tepatnya tanggal 8 Maret diperingati sebagai Hari Perempuan Internasional.  Telah dirayakan lebih dari satu abad, dengan kongres pertama yang berlangsung pada tahun 1911. Perayaan ini muncul pertama kali dari kegiatan gerakan buruh pada pergantian abad XX di Amerika Utara dan di seluruh Eropa. Sejak tahun-tahun awal itu, Hari Perempuan Internasional telah menjadi dimensi global baru bagi perempuan di negara-negara maju dan berkembang. (Kompas.com).

Para pejuang gender acap kali menyuarakan ide-ide feminis.  Kaum perempuan aktif mengkampanyekan perjuangan hak-hak perempuan. Mereka berjuang untuk menghapuskan diskriminasi dan penindasan yang dialamatkan kepada perempuan. Hal ini di awali sejak pemerintah Indonesia meratifikasi konvensi hasil konferensi  tentang penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan (CEDAW, 1979) yang dikeluarkan melalui UU no.7 tahun 1984, hal ini menjadi acuan bagi penyelesaian segala macam persoalan perempuan.

Ide feminis diklaim bisa memberikan solusi atas semua persoalan yang tengah dihadapi para perempuan saat ini. Feminism sendiri adalah sebuah gerakan yang menuntut emansipasi atau kesamaan dan keadilan hak dengan pria. Feminisme berasal dari bahasa Latin, femina atau perempuan. Istilah ini mulai digunakan pada tahun 1890-an, mengacu pada teori kesetaraan laki-laki dan perempuan serta pergerakan untuk memperoleh hak-hak perempuan. Secara luas pendefinisian feminisme adalah advokasi kesetaraan hak-hak perempuan dalam hal politik, sosial, dan ekonomi. (wikipedia.org)

Namun faktanya gerakan feminism ini berdampak buruk bagi kaum perempuan itu sendiri. Di Barat, kaum perempuan enggan berkeluarga, mereka lebih memilih menjadi wanita karir. Mereka lebih menyukai berhubungan bebas tanpa ikatan pernikahan. Memiliki keluarga dan anak dianggap memasung kebebasan dan aktualisasi diri. Hal ini lama kelamaan akan merambah ke Indonesia yang notabennya banyak sekali para pejuang feminism di negeri ini.

Gerakan feminism ini lahir dari para kapitalis. Sejatinya mereka hanya ingin mengeksploitasi para perempuan. Perempuan dijadikan komoditas pencetak uang. Persoalan yang tengah dialami perempuan saat ini dari kemiskinan, pelecehan sampai penindasan muncul karena sistem yang diterapkan  di seluruh dunia termasuk di Indonesia, sistem kapitalis yang menjerat banyak negara mempengaruhi cara pandang dan kebijakan yang diambil oleh pemerintah. Sistem kapitalisme mampu menciptakan gaya hidup materialistik dan hedonism.

Kapitalisme pun menyebabkan manusia menjadi para pemuja fisik, kemolekan dan kecantikan perempuan dijadikan aset dalam meraup keuntungan sebesar-besarnya, perempuan banyak dijadikan objek iklan, model, film, maupun pekerja seks yang dapat menyumbangkan pajak yang besar bagi negara. Dalam segi ekonomi, lapangan pekerjaan yang memberikan prioritas terhadap para perempuan sehingga menciptakan para perempuan karir yang lupa akan tanggung jawabnya sebagai seorang anak, istri dan juga ibu bagi keluarganya, di lain sisi sebagian besar keluarga hidup dalam kemiskinan yang mengharuskan para perempuan bekerja meninggalkan anak dan suami bahkan sampai ke luar negeri, yang tidak jarang terjebak pada human trafficking.

Kapitalisme juga terus menggencarkan idenya, bahwa standar kebahagiaan seseorang diukur dengan banykanya uang, gelar dan hal lain yang berstandarkan atas materi. Dengan demikian perempuan akan semakin banyak yang bekerja dan meninggalkan keluarganya demi mencapai kebahagiaan versi kapitalisme. Sehingga peran perempuan dalam keluarga beralih fungsi. Akibatnya banyak anak yang terlantar karena ibunya bekerja di luar rumah. Walaupun hukum asal perempuan bekerja adalah sebuah kemubahan (kebolehan) dengan catatan tidak meninggalkan kewajiban dan peran seorang ibu di rumah. Bagaimana bisa mencetak generasi cemerlang jika ibunya sibuk mencari uang di luar rumah. Selain itu angka perceraian pun semakin meningkat karena timbul konflik, salah satunya penghasilan istri lebih tinggi daripada suami.

Dari sini sudah jelas kapitalisme sangat bertentangan dengan Islam. islam sangat memuliakan perempuan. Bahkan islam memerintahkan menghormati Ibu (perempuan) tiga derajat lebih tinggi dibanding ayah. Begitu mulianya islam memandang perempuan. Peran perempuan di keluarga sangatlah penting untuk menentukan generasi selanjutnya. Perempuan berdaya dalam tinjauan islam tidak hanya sekedar pelabelan harta, kecantikan dan hal lain yang mengarah pada metrealistis. Namun berdaya dengan mengemban tugas-tugas yang menjadi amanah untuk para perempuan, yaitu mengatur rumah tangga dan mencetak generasi unggul. Selain itu perempuan juga mempunyai kewajiban untuk mengkritisi kebijakan penguasa tanpa harus bergelar dan mempunyai jabatan.

Perempuan akan mulia di dalam sistem yang diturunkan langsung oleh Yang Maha Mulia yaitu sistem Khilafah. Khilafah tidak akan membiarkan seorangpun hidup terlantar dalam kemiskinan. Khilafah akan menjamin kebutuhan seluruh warga negaranya baik laki-laki ataupun perempuan, muslim dan non muslim. Telah terjadi pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz dimana tidak seorangpun rakyatnya mau menerima zakat, karena semua merasa kaya.

Selain itu, khilafah menghentikan konspirasi global menghancurkan bangsa melalui perempuan. Khilafah, dengan penerapan Syariatnya tidak akan melarang kaum perempuan memberdayaakan dirinya diluar rumah menuntut ilmu dan berkarya, selama suaminya mengizinkan, tugas dan tanggung jawabnya sebagai ibu dan pengatur rumah tangga telah ditunaikan dan kehormatan nya tetap terjaga. Sesungguhnya hanya sistem Khilafahlah yang akan memuliakan perempuan, sistem yang telah mengantarkan perempuan pada puncak kebaikannya, yaitu melahirkan generasi-generasi pejuang dan pemimpin yang cemerlang dan akan memimpin dunia dimasa mendatang.[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox