Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Senin, 18 Maret 2019

ISRA’ MI’RAJ 1440 H, “MENELADANI KEPEMIMPINAN RASULULLAH”



Ngawi, (17/3). Tidak kurang dari 1300 jamaah, hari Ahad, 17 Maret 2019 yang bertepatan dengan 10 Rajab 1440 H memenuhi pelataran Masjid Al Istiqomah, Jl. Basuki Rahmat Ngawi. Mereka hadir dalam rangka Tablig Akbar untuk memperingati Isra’ Mi’raj 1440 H yang bertemakan “ Meneladani Kepemimpinan Rasulullah” yang diselenggarakan oleh Forum Komunikasi Ulama Aswaja Mataraman. Tampak hadir para ulama, asatidz, dan tokoh masyarakat dari seputaran kota eks karesidenan Madiun, diantaranya, KH. Bukhori dari Ponpes Al Muslimun Magetan, Kyai Misno mubaligh, Ust. Suparlan, KH. Anas Karim, Ust. Handoko, dan masih banyak lagi.

Acara dibuka dengan bacaan Qur’an yang dilantunkan oleh Ust. Budi, yang dilanjutkan kata sambutan oleh shohibul bait, H. Sugito. Acara dilanjut penyampaian orasi yang disuarakan dengan lantang dan penuh semangat dari kalangan ustadz muda di ngawi, Ust. Ilham. Beliau menggambarkan bagaimana keterpurukan negeri yang kaya raya ini, dengan menyatakan bahwa “bayi yang baru lahir harus menanggung beban hutang puluhan juta rupiah”. Kekayaan alam negeri ini dikeruk habis oleh Kapitalis Barat maupun Timur. Hal ini disebabkan karena penerapan sistem rusak dan merusak, yakni demokrasi.

Selanjutnya, dalam tausiyahnya Kyai Misno menyampaikan, bahwa keterpurukan dan kerusakan yang menimpa negeri ini harus menjadi introspeksi, apa penyebabnya. Hal ini tidak lain karena tidak diterapkannya hukum Allah SWT sebagai sebaik-baik pembuat hukum. Untuk itu beliau mengajak kepada seluruh hadirin dan rakyat negeri ini untuk masuk ke dalam Islam secara kaffah, menyeluruh. Dengan menerapkan Islam secara total di negeri ini. “Kita harus berubah menjadi lebih baik dengan kembali kepada hukum Allah SWT”, seru Kyai Misno.

Tausiyah berikutnya disampaikan oleh KH. Anas Karim,  “Bahwa, dalam kehidupan ini harus ada Islam, musibah yang paling besar adalah meninggalnya Rasulullah Saw., umat Islam harus punya satu pemimpin yang sesuai dengan model kepemimpinan Rasulullah Saw" seru Ketua Forum Komunikasi Ulama Aswaja Mataraman ini.

Acara diselingi dengan beberapa testimoni yang menyatakan bagaimana beliau-beliau yang sebelumnya tidak mengenal bendera Rasulullah, tidak mengenal Khilafah dan bagaimana syariat Islam itu harus diterapkan. Dengan dakwah yang digelorakan semua itu dapat dipahami oleh umat dan akhirnya ikut memperjuangkannya. Testimoni ini antara lain disampaikan oleh Ust. Suparlan. Beliau menyatakan “Saya sebelum ikut ngaji, tidak tau kalau bendera yang bertuliskan kalimat thoyibah yang berwarna putih dan hitam itu adalah bendera Rasulullah, benderanya umat Islam. Tapi setelah ikut ngaji, saya jadi paham, bahwa kita memiliki bendera, umat ini memiliki bendera yang dengannya kita tidak terkotak-kotak dengan bendera nasionalisme dan juga kita memiliki sistem Islam untuk mengatur kehidupan ini, yakni Khilafah”. Untuk itu beliau mengucapkan terima kasihnya kepada Hizbut Tahrir yang telah mengenalkan itu semua. Selanjutnya beliau juga mengajak semua hadirin untuk mengatakan kepada setiap orang yang ketemu dimana saja bersama-sama menjaga, memuliakan bendera tauhid dan memperjuangkan tegaknya khilafah.

Ust. Nadhif dalam kalimat penutupnya menyatakan wajibnya penerapan syariat Islam, dan yang dapat menjalankan syarait Islam itu hanya Khilafah, maka khilafah adalah wajib. “Tidak mungkin bahwa syariat Allah itu akan merusak negeri ini. Kalau dia mengatakan bahwa dengan penerapan salah satu syariat Allah SWT akan merusak sebuah negeri, berarti dia telah mengingkari Maha Rohim Rohmannya Allah SWT. Allah Yang Maha Rahman, Allah Yang Maha Rahim, tidak mungkin akan menyengsarakan hambaNya.

Acara diikuti dengan khidmat oleh semua jamaah, bahkan tidak sedikit jamaah yang meneteskan airmata saat teatrikal bendera al liwa dan ar royya yang diiringi dengan senandung nasyid tegaknya khilafah ala minhaji nubuwah. Mereka berharap keterpurukan dan kerusakan yang terjadi di negeri ini khususnya dan negeri-negeri muslim pada umumnya segera berakhir dengan diterapkannya syariah dalam naungan khilafah. Sehingga mereka bisa hidup dalam negeri yang baldatun thoyibatun wa rabun ghofur. Acara ditutup dengan do’a yang dibacakan oleh Ust. Baedhowi, penasehat Forum Komunikasi Ulama Aswaja Mataraman. []MI.NGW

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox